Empat keping besar tembok Berlin itu terpasang juga di Jakarta setelah hampir 27 tahun teronggok di bengkel seniman Teguh Ostenrik.

-

Tembok beserta patung lempengan baja berjudul Patung Menembus Batas itu sudah beberapa hari ini menghiasi area Taman Ramah Anak Kalijodo. Karya itu diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pada Selasa malam, 3 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan bersatunya kembali Jerman. Grup musik Slank ikut memeriahkan acara ini.

Instalasi itu berdiri di sebidang area berpasir di depan tembok mural yang dilukis para seniman grafiti. Tiap tembok berdimensi 20 x 120 x 350 sentimeter seberat 2 ton dijejer empat. Bagian depan diberi sentuhan lukisan ikan hiu martil-mengingatkan kita akan semakin langkanya hewan ini. Di bagian kiri, ada sebuah kata, culture, dengan huruf C yang sangat kita kenal sebagai salah satu merek minuman soda. Mural-mural itu dibuat untuk mengingatkan aslinya tembok yang dicorat-coret sebagai ekspresi ungkapan warga Berlin.

Teguh memang menorehkan huruf ikonik tersebut untuk menyindir tentang imperialisme kapitalisme. Di depan, belakang, dan sela-sela tembok yang sudah dilukis ada patung-patung pelat baja seberat masing-masing 700 kilogram dalam berbagai posisi. Ada yang berdiri tegak, berlari, dan merangkak mencoba menembus sela-sela tembok. Di beberapa pelat, Teguh menorehkan pesan yang menyentuh dari Maria Reine Rilke.

"Tembok Berlin lahir sebagai suatu ungkapan semu dari usaha pemisahan suatu budaya bangsa di mana kekuasaan politik telah memaksakan kehendaknya di atas segala cita-cita dan naluri," demikian tulisan di salah satu pelat.

Tentu, ia tidak hanya sedang berbicara tentang Jerman, tapi juga kondisi kita akhir ini. Berbagai sebab seperti perbedaan politik, ideologi, dan isu SARA masih potensial mengancam bangsa ini, kendati jargon persatuan dan kesatuan terus didengungkan. Kebencian bahkan kerusuhan tetap saja terjadi. Terakhir saat pilkada DKI Jakarta yang ikut membuat panas situasi politik. Inilah yang kemudian membuat Teguh tergerak lagi. "Maret lalu, saya tiba-tiba teringat gagasan Patung Menembus Batas yang sudah saya usulkan ke Pemprov DKI Jakarta 27 tahun lalu. Saya kira masih relevan sekarang," ujar Teguh kepada Tempo.

Ia pun rindu melihat maket. Teguh lalu membongkar gudang dan memotret karya itu dan dikirim ke beberapa kawan. Hal itu menarik perhatian seorang kawannya, Hadi Sunyoto. Sang kawan lalu mendukung biaya menekuk pelat-pelat besi setebal 2,5 sentimeter tersebut. "Saya menelepon beliau sambil menangis mendengar bantuan beliau," ujar Teguh. Padahal, saat itu ia belum tahu akan meletakkan di mana karya itu.

Selanjutnya, Teguh berkolaborasi dengan Yori Antar menggarap gagasan ini. Apalagi Yori-lah yang merancang beberapa ruang terbuka hijau dan ruang publik taman ramah anak, termasuk Kalijodo. Mereka lalu mengajukan gagasan itu ke Pemprov DKI Jakarta. Sang Gubernur DKI, Djarot, menyambut dengan antusias. Ia bahkan ikut mengelas pelat besi itu di bengkel Teguh.

Lewat karya ini, Teguh berharap kita tak perlu berbicara soal tembok-tembok atau sekat kultural, keagamaan, kepercayaan, bahkan warna kulit. "Karena sudah waktunya kita menembus batas-batas itu," tutur Teguh.

Teguh membeli empat keping tembok itu pada 1990 seharga 18 ribu mark dari harga yang ditawarkan 60 ribu mark. Ia membelinya dari sebuah perusahaan yang ditugaskan menyelamatkan segmen utuh tembok untuk dijual ke masyarakat. Uang penjualan itu akan digunakan untuk membangun rumah sakit di Jerman Timur. Atas bantuan Pemprov Jakarta, Teguh berhasil membawa pulang tembok yang semula berdiri di daerah Kruezberg, Berlin, itu. Patung tersebut semula akan diletakkan di area publik setahun kemudian, namun gagal karena persoalan birokratis.

Ini satu-satunya di Asia Tenggara. Bagian lainnya Tembok Berlin ini ada di Sanctuary of Fatima Portugal, Wende Museum and Archieve of the Cold War California, dan World Peace Pavillion Kanada.

Tembok pemisah Jerman Barat dan Timur berdiri sejak 1961 oleh Republik Demokratik Jerman. Runtuhnya tembok itu pada 9 November 1989 menandai runtuhnya pula ideologi komunis di Jerman. Saat itu, Teguh sudah kembali ke Indonesia setelah sempat belajar di Hochschule der Kuenste, Jerman Barat. Saat masih berdiri, Teguh sempat pula ikut menorehkan grafiti di sana. DIAN YULIASTUTI


Artikel Terkait