Teleskop luar angkasa Hubble memotret komet asing di luar orbit Saturnus bergerak memasuki tata surya.

-

Berjarak sekitar 2,4 miliar kilometer dari matahari, obyek yang dilabeli C/2017 K2 (PANSTARRS) atau K2 ini menjadi komet aktif paling jauh yang pernah terlihat. Temuan pada Juni lalu itu menjadi bukti awal komet tersebut memasuki zona tata surya untuk pertama kalinya.

Meski masih jauh, radiasi matahari telah menjangkau komet K2. Bergerak mendekati matahari, komet yang diperkirakan bersuhu minus 226 derajat Celsius itu menghangat. Hasil observasi yang didapat tim peneliti menunjukkan sudah terbentuk coma alias selubung awan debu yang menyelimuti inti komet.

Garis tengah inti komet K2 sekitar 19 kilometer. Namun diameter coma yang terbentuk sudah mencapai 129 ribu kilometer, 10 kali lebih panjang dari garis tengah bumi. Laporan mengenai K2 dimuat di Astrophysical Journal Letters, 28 September lalu.

Terlalu dingin karena posisinya teramat jauh dari matahari, K2 tidak mengalami proses penguapan air es seperti yang terjadi pada komet lain. K2 mengalami sublimasi atau perubahan langsung dari material solid menjadi gas saat dia memasuki tata surya. "Air di komet itu membeku dan sekeras batu," kata David Jewitt, peneliti utama riset mengenai K2 dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat.

Para peneliti menduga K2 berasal dari gugus awan Oort, kawasan dingin yang dipenuhi ratusan miliar komet dan obyek beku. Gugus awan Oort bahkan sangat jauh dari Sabuk Kuiper, kawasan terluar tata surya. Sebagian besar obyek beku di zona sekitar 15 triliun kilometer dari matahari ini tersusun atas senyawa amonia, metana, dan air.

Dari hasil observasi Hubble terhadap coma K2, cahaya matahari diduga menghangatkan gas beku- oksigen, nitrogen, karbon dioksida, dan karbon monoksida- yang melapisi permukaan komet itu. Gas-gas itu terangkat sekaligus melepaskan debu dan membentuk coma. Sejumlah studi pada komet-komet yang berada dekat dengan matahari juga menunjukkan adanya campuran senyawa beku serupa.

Komposisi komet K2 itu bisa menunjukkan kondisi awal jagat raya sebelum planet-planet terbentuk. Gas-gas yang melapisi K2 mungkin juga dimiliki setiap komet yang ada di gugus awan Oort miliaran tahun lalu. Lapisan gas itulah yang menyerap panas matahari, lalu terangkat. "Komet seperti melepas kulit terluarnya," kata Jewitt.

Sebagian besar komet umumnya ditemukan pada posisi yang sudah lebih dekat ke matahari atau di dekat orbit Jupiter. Ketika komet-komet itu tampak, lapisan gas beku sensitif yang menyelimuti permukaannya sudah lenyap. "K2 mungkin komet paling primitif yang pernah kita lihat," kata Jewitt.

Obyek menyerupai K2 pertama kali terdeteksi pada Mei lalu pada data Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS). Belum ada ekor komet yang terbentuk kala itu. Tiga tahun lalu, K2 sebenarnya sudah muncul di gambar-gambar yang diambil Canada-France-Hawaii Telescope (CFHT) di Hawaii. Namun tak ada yang menyadari keberadaan obyek dengan cahaya redup itu.

Setelah ada gambar dari Hubble, para peneliti menyadari bahwa obyek yang sama ternyata aktif selama empat tahun terakhir. Data CFHT menunjukkan bahwa K2 sudah memiliki coma ketika berada di antara orbit Uranus dan Neptunus, sekitar 3 miliar kilometer dari matahari.

Komet itu akan mencapai posisi terdekatnya ke bintang tata surya, tak jauh dari orbit Mars, pada 2022. Inilah untuk pertama kalinya para peneliti bisa mengamati aktivitas komet yang datang langsung dari awan Oort. "Semakin mendekati matahari, komet itu menghangat dan aktivitasnya semakin tinggi," kata Jewitt. 


SUMBER: KORAN TEMPO