ISTIMEWA

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Asli Nuryadin

Kaltimtoday.co - Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menghapus kewajiban melegalisir fotokopi akta kelahiran untuk pendaftaran siswa baru di sekolah. Sebagai gantinya, orang tua cukup menunjukkan Kartu Keluarga (KK) asli. 

Kebijakan ini dihapuskan karena dianggap hanya menyusahkan orang tua siswa. Tahun-tahun sebelumnya, di Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan (Discapilduk) Samarinda selalu terjadi antrean panjang hanya untuk legalisir fotokopi akta kelahiran. 

“Tahun ini warga tak perlu lagi melampirkan foto copy akte kelahiran yang dilegalisir. Jadi enggak perlu ke Disdukcapilduk lagi,"  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Asli Nuryadin. 

Disebutkan Asli, tiap tahn ajaran baru selalu terjadi antrean panjang di Disdukcapilduk Samarinda hanya sekadar untuk legalisir. Namun dengan dihapuskannya kewajiban itu, maka orangtua tidak perlu lagi menunggu antrean lama hanya untuk legalisir akta kelahiran. 

Asli mengingatkan kepada orang tua siswa, jika masih ada pihak sekolah yang meminta untuk akte kelahiran harus dilegalisir, bisa diingatkan bahwa tidak perlu lagi, melainkan cukup melihatkan kartu keluarga asli.

“Kasihan melihat orang tua siswa harus antre untuk legalisir. Belum lagi yang jauh-jauh dari Palaran, Makroman maupun Sungai Siring hanya untuk legalisir saja,” ucapnya.

Kebijakan lainnya dalam penerima siswa baru, lanjutnya, orang tua juga diminta melakukan akad kepada pihak sekolah saat daftar ulang atau hari pertama masuk sekolah.

“Disini diminta melakukan menyerahkan anaknya di sekolah untuk dididik, yang mana bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah saja, tapi orang tua dan lingkungan juga,” katanya.

Di bagian lain, mantan kepala Bappeda Samarinda itu mengingatkan agar tidak memaksakan anak bersekolah ke kota bagi yang rumahnya di daerah pinggiran kota, dengan alasan mencari sekolah unggul.

“Definisi sekolah unggul sekarang ini adalah sekolah yang mampu mengubah perilaku siswa, literasi meningkat dan memiliki kompetensi pribadinya masing-masing," ujarnya.

Cap sekolah unggulan, sebutnya, sudah tidak relevan karena penerimaan siswa baru berbasis zonasi 90 persen, 10 persen prestasi dan pindahan.

"Semua sekolah favorit," pungkasnya. 

[TOS | PEMKOT SAMARINDA]