Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, adalah salah satu lokasi temuan minyak terbesar di Asia Tenggara dalam 25 tahun terakhir.

-

Wilayah kerja ini dikelola oleh ExxonMobil, perusahaan asal Amerika Serikat. Blok Cepu dimiliki ExxonMobil (45 persen), Pertamina (45 persen), dan pemerintah daerah (10 persen).


Kontrak kerja sama pengelolaan diperoleh Exxon pada September 2005. Namun produksi puncak baru dimulai pada 2016 sebesar 165 ribu barel per hari. Perlahan, produksinya naik ke 185 ribu barel per hari.

Pada awal 2017, perusahaan mengajukan permohonan peningkatan produksi minyak hingga 200 ribu barel per hari. Namun proposal itu ditolak SKK Migas lantaran produksi sebesar itu tidak menjamin keberlangsungan cadangan. Belakangan, pemerintah mengizinkan peningkatan produksi untuk menjaga agar minyak siap jual (lifting) migas tahun 2017 tidak anjlok.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil, Erwin Maryoto, pada pertengahan tahun lalu melaporkan bahwa uji coba produksi minyak 200 ribu barel berhasil. Tes diadakan di 46 tapak sumur. Dari angka itu, sebanyak 30 sumur dibor uji untuk meningkatkan produksi. Sisanya dibor untuk menjaga keseimbangan penyedotan minyak. Hasilnya, peningkatan produksi masih memungkinkan. Biaya produksi minyak tambahan hanya US$ 2,4 per barel, jauh lebih murah ketimbang biaya pengembangan rata-rata yang mencapai US$ 4,5 per barel.

Perusahaan mencatat kandungan minyak di Lapangan Banyu Urip mencapai 729 juta barel. Saat ini, perusahaan berusaha menambah cadangan terbukti di Blok Cepu melalui eksplorasi di Lapangan Kedung Keris. Berdasarkan hasil uji pendahuluan, lapangan ini mampu menghasilkan minyak hingga 5.000 barel per hari (bph).

Produksi Cepu menjadi salah satu tulang punggung pemenuhan target produksi lifting tahun depan menjadi 825 ribu bph. Angka ini lebih tinggi dibanding asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017 sebesar 815 ribu bph. ROBBY IRFANY


SUMBER: KORAN TEMPO