PT PLN (Persero) memastikan bahwa kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan sehat walafiat. Bahkan, selama ini, perusahaan listrik milik pemerintah tersebut belum pernah gagal bayar atas utang-utangnya.

-

Demikian disampaikan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dalam acara Bincang Santai Bersama Wartawan di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (5/10).

Pernyataan tersebut disampaikan Sofyan menjawab surat Sri Mulyani yang ditujukan untuk Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno bahwa ada potensi gagal bayar utang PLN.

"PLN enggak pernah gagal bayar, debt service coverage ratio (rasio pendapatan terhadap cicilan utang dan bunga) itu 1,5 kali, itu covenant dari work bank, itu kan nanti 31 Desember kenapa, kan belum kiamat," jelas dia.

Sofyan menjelaskan, memang kondisi keuangan PLN tertekan akibat tingginya harga batu bara yang menyebabkan peningkatan biaya operasi. Meski demikian, PLN tetap kuat karena berbagai langkah efisiensi, misalnya dengan mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM).

"Sekarang kan laba pengusaha itu dipindahkan ke PLN. Kita bikin efisiensi bisa hemat Rp 10 triliun," kata dia.

Lebih jauh dia menjelaskan, produksi batu bara secara nasional mencapai sekitar 500 juta ton per tahun, 80 juta ton di antaranya untuk kelistrikan di dalam negeri. Sofyan ingin harga batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik diatur supaya biaya operasi PLN tak terkena dampak gejolak perubahan harga.

"Total yang dijual 500 juta ton per tahun yang dibeli PLN 80 juta ton. Silakan yang 420 juta ton keuntungannya maksimum kalau yang 80 juta buat masyarakat. Insyaallah lagi digodog lagi dihitung cost yang benar.," tandasnya.


SUMBER: KUMPARAN.COM