HeadlineKaltim

Hasil Penelitian Psikologi Unmul: Banyak Mahasiswa Stres Selama Pembelajaran Daring

Kaltimtoday.co, Samarinda – Setahun yang lalu, perkuliahan luring resmi dihentikan sementara akibat pandemi Covid-19 dan beralih ke daring. Memasuki April 2021 ini, perkuliahan daring masih berlanjut di sejumlah kampus. Salah satunya Universitas Mulawarman (Unmul).

Berdasarkan hasil penelitian dari jurnal psikologi berjudul “Stres Akademik Mahasiswa dalam Melaksanakan Kuliah Daring Selama Masa Pandemi Covid-19” menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami stres akademik terbanyak ada di kategori sedang yakni 39,2 persen. Disusul dengan stres akademik kategori tinggi sebesar 27 persen, dan kategori rendah sebanyak 21 persen. Sementara itu, kategori sangat tinggi berjumlah 6,9 persen dan sangat rendah ada 5,4 persen.

Individu yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unmul yang sedang melaksanakan pembelajaran daring di Samarinda sebanyak 204 orang.

Baca juga:  Pemerintah Bantah Terapkan Herd Immunity di Masa Pandemi Covid-19

Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Hairani Lubis, Ayunda Ramadhani, dan Miranti Rasyid disimpulkan, stres yang paling banyak dialami mahasiswa pada kategori stres sedang. Kondisi ini disebutkan membuktikan bahwa mahasiswa mengalami tekanan akademik selama melaksanakan kuliah daring di masa pandemi Covid-19. Mahasiswi berusia 20 tahun ditemukan paling banyak mengalami stres akademik.

Hairani Lubis, Ayunda Ramadhani, dan Miranti Rasyid dalam penelitian yang diterbitkannya memberikan saran kepada mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan mengelola stres, sehingga meskipun dihadapkan pada situasi pandemi mahasiswa dapat tetap produktif.

Baca juga:  47 Tenaga Medis Positif Covid-19, RSUD Kanudjoso Balikpapan Tutup Layanan Sementara

Mahasiswa, disampaikan ketiga penulis, dapat menerapkan teknik relaksasi pernafasan sederhana untuk meminimalisir tekanan akibat stres yang dialami serta berlatih membuat jurnal atau catatan harian yang berisikan identifikasi situasi penyebab stres agar keterampilan mengelola stres dapat meningkat.

Ketiganya juga menyampaikan penelitian mengenai kesehatan mental mahasiswa dimasa pandemi perlu mendapatkan perhatian sehingga disarankan bagi pihak
universitas dapat melakukan pemeriksaan secara berkala terkait kesehatan mental mahasiswa, salah satunya melalui peran dosen pembimbing akademik, menyediakan layanan bimbingan konseling, dan melakukan evaluasi berkala sistem belajar daring.

Baca juga:  Tak Gunakan Masker, Polresta Samarinda Siapkan Sanksi Demi Efek Jera

Kaltimtoday.co berkesempatan mewawancarai 2 mahasiswa Unmul yang menjalani perkuliahan daring. Pertama datang dari Defi Qolbi Fillah. Mahasiswi angkatan 2020 Prodi Ilmu Komunikasi itu mengaku merasa kaget sejak awal. Duduk di bangku kuliah ketika awal pandemi terjadi, membuat dia tak bisa menginjak kampus secara langsung.

Baca juga:  Inilah 8 Poin Surat Edaran Pemkot Bontang untuk Cegah Virus Corona

“Pastinya kaget dan merasa aneh. Mulai TK sampai lulus SMA kan sekolahnya offline terus. Tiba-tiba ada dikeadaan yang semua serba online. Aneh banget. Berasa kurang bebas juga untuk kenal dengan orang lain,” ungkap Defi.

Berada dikondisi yang tak dapat dihindari itu, Defi mengaku kecewa. Padahal, dia telah membayangkan akan banyak momen berkesan saat luring ketika dirinya resmi menjadi mahasiswi. Namun setelah itu, dia mulai bisa menerima keadaan dan menikmatinya. Berhubung masih mahasiswa baru alias maba, Defi sempat kesulitan ketika menerima materi perkuliahan secara daring.

Baca juga:  297 Warga Binaan Rutan Sempaja Dapat Remisi Idul Fitri, Dua Orang Langsung Bebas

“Kesulitan memahami materi itu ada. Apalagi sebelumnya enggak pernah tahu sama sekali itu belajar apa aja. Tiba-tiba sudah dikasih tugas, UTS, dan UAS,” lanjutnya saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (14/4/2021).

Perempuan berkacamata itu mengaku sempat alami stres. Masuk ke perguruan tinggi, membuatnya harus belajar ekstra agar memahami materi baru. Ditambah lagi dengan kondisi mata yang harus selalu berada di depan laptop. Dia merasa semakin lelah.

“Apalagi kuliahnya mulai Senin sampai Jumat. Dari pagi sampai jam setengah 3 sore. Waktu itu sempat panik juga. Mau enggak mau, cari teman buat bisa tanya-tanya tugas walaupun enggak pernah ketemu sama sekali,” bebernya.

Baca juga:  Tiga Bulan Gaji Relawan Nakes Covid-19 Masih Belum Cair, Ini Jawaban Pemkab Kukar

Ditanya apakah dia sudah cukup puas dengan sistem perkuliahan daring, Defi berpendapat bahwa yang sudah dia jalani dirasa lumayan. Namun, dia juga merasa kurang puas. Apalagi, dia merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi di mana komunikasi jadi praktik utama.

“Kalau online begini kurang pas banget dan merasa kurang bebas saja berekspresi dalam merealisasikan materi-materi yang sudah dipelajari,” jelas Defi.

Serupa dengan Defi, Rizalul Fickry Zebada Mansurina juga mengaku kecewa karena kuliah daring justru diperpanjang. Di sisi lain, dia menyadari bahwa keadaan belum memungkinkan untuk melaksanakan kuliah luring.

Baca juga:  Ratusan Mahasiswa Menjadi Korban, Satu Orang Polisi Diamuk Massa

“Kuliah daring ini sudah 2 semester. Biasanya, jadwal kuliah itu 4 hari dalam seminggu. Rata-rata menghabiskan waktu 3 jam dalam sehari. Sudah semester atas juga, jadi kelas teori enggak terlalu banyak,” ungkap mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2018 itu.

Pria yang akrab disapa Rizal itu menjelaskan kesulitan yang dialami. Cenderung mengarah ke metode pembelajaran masing-masing dosen.

Diakui Rizal, ada beberapa mata kuliah yang bisa dia pahami dengan baik karena pengajarannya menarik. Namun ketika daring seperti ini, ada sebagian dosen yang jarang memberikan materi ajar dan lebih membebankan tugas kepada mahasiswa.

Baca juga:  Aktivis Aksi Kamisan Kaltim Suarakan Gagalkan Omnibus Law

“Menurut saya, kuliah daring ini masih belum maksimal. Metode pengajaran ada yang lebih membebankan ke tugas. Kendala lain ya karena jaringan atau kendala teknis lain,” lanjut Rizal.

Stres yang dialami Rizal mengarah ke tugas-tugas yang menurutnya tak pernah berujung. Hal itu terjadi setiap minggu. Misalnya, ada 1 tugas yang belum selesai justru datang lagi tugas lainnya dari mata kuliah berbeda.

Menginjak semester 5 dan 6, Rizal telah memasuki tahap awal penelitian untuk skripsi. Itu pula yang memicu stres dalam dirinya. Ditambah dengan kurangnya interaksi sosial dengan teman-teman sekelas.

Baca juga:  Kabid P2PL Dinkes Kukar: Pendaftaran Vaksin Covid-19 untuk Mayarakat Umum Sudah Dibuka

“Kami banyak menghabiskan waktu di rumah karena pandemi dan mengerjakan segala macam tugas juga mengambil sebagian besar waktu. Itu yang membuat semakin stres,” beber Rizal saat dihubungi, Rabu (14/4/2021).

Sejauh ini, Rizal menilai kuliah luring masih jauh lebih baik dibanding daring. Dia berharap, mulai tahun ajaran baru nanti kuliah luring bisa terlaksana dengan baik.

“Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Menurut saya memang kurang efektif. Pertemuan kelas melalui video conference juga belum tentu semua mahasiswa memperhatikan dengan baik,” tandasnya.

[YMD | TOS]

Koreksi Redaksi:

Redaksi Kaltimtoday.co mencabut sub judul: “Dipicu Kurang Interaksi Sosial hingga Banyak Tugas”. Penelitian yang dilakukan Psikologi Unmul tidak menyimpulkan faktor pemicu stres yang dialami mahasiswa, baik kategori ringan, sedang hingga berat. 

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close