Samarinda

Kendalikan Banjir, Pemkot Samarinda Bakal Fokus di Pembangunan Kolam Retensi dan Pintu Air

Kaltim Today
02 Februari 2022 19:27
Kendalikan Banjir, Pemkot Samarinda Bakal Fokus di Pembangunan Kolam Retensi dan Pintu Air
Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Yasmin/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Sempadan Sungai Karang Mumus (SKM) juga harus dibarengi dengan program lanjutan, yakni kombinasi penurapan dan penghijauan. Penghijauan sudah dilakukan dengan diawali penanaman 111 bibit. Namun untuk penurapan, harus menunggu lelang dan hal lainnya.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun berharap sempadan sungai bisa kembali bagus. Selain hijau, bisa pula jadi instrumen pengendali banjir. Terkait penurapan, nantinya akan dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan dan sebagian ditangani oleh pemkot dan pemprov.

"Daerah yang sudah bebas langsung dilanjutkan dengan penurapan untuk menghindari limpasan air dari SKM ke wilayah pemukiman. Ini sangat urgent. Kami lakukan inovasi secara terbatas mengingat sumber pembiayaan kami juga terbatas," beber Andi kepada awak media.

Fokus infrastruktur saat ini bertumpu pada pengendalian banjir. Mulai penurapan, pembebasan lahan di sempadan sungai, revitalisasi drainase, serta pembangunan kolam retensi atau polder. Termasuk pintu air dan pompa.

"Pintu air yang sementara, berdasarkan kemampuan itu sifatnya minor di Ruhui Rahayu. Yang besarnya di Jembatan 1. Sedang kami ajukan ke Kementerian PUPR. Itu butuh dana sekitar Rp 500 miliar. Tentu tidak bisa sekaligus dari APBD," lanjut Andi.

 

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kaltim Today (@kaltimtoday.co)

Dalam hal ini, pihaknya akan mendahulukan sektor hulu dengan membangun kolam retensi. Sedangkan hilir, dengan revitalisasi drainase dan gerakan untuk tertib buang sampah. Bicara soal pintu air, detail engineering design (DED)-nya sudah selesai dan telah diajukan ke Kementerian PUPR.

Andi menjelaskan, banjir disebabkan dari kiriman air curah hujan besar dari daerah hulu. Samarinda dikelilingi daerah hulu yang lebih tinggi. 10 kecamatan mengirim air ke daerah yang lebih rendah. Sebab kedua, dari limpasan air Sungai Mahakam ke SKM.

"Hulu diantisipasi dengan membangun sebanyak mungkin kolam retensi. Suatu hari jika kami berhasil meyakinkan pusat, bakal dibuat kanal dan masuk ke proyek strategis nasional. Sementara dari Mahakam, kami harus buat pintu air di Jembatan 1. Ketika elevasi Mahakam naik, pintunya tertutup secara otomatis dan tidak ada limpasan masuk ke SKM," bebernya.

"Saya sudah sampaikam ke bapak presiden dan wapres, menteri PUPR dan jajaran dirjen dan direktur di Kementerian PUPR. Memang tidak bisa hanya dengan setengah tahun perjuangan, mudahan tahun depan ada titik terang," tutupnya.

[YMD | RWT]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram "Kaltimtoday.co", caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Berita Lainnya