HeadlineKaltim

Longsor Poros Palaran, Pemprov Kaltim Target Selesai Satu Bulan

Kaltimtoday.co, Samarinda – Belakangan ini, curah hujan yang deras kerap mengguyur Samarinda. Rabu (13/1/2021) pekan lalu misalnya. Setelah hujan deras turun, warga dikejutkan dengan kejadian tanah longsor yang menimpa di Jalan Trikora Samarinda. Bertempat di antara Kecamatan Samarinda Seberang dan Palaran. Akibat longsoran tanah itu, walhasil cukup mengganggu para pengguna jalan yang ingin melintas. Kemacetan pun tak terhindarkan.

Gubernur Kaltim, Isran Noor pun memberikan tanggapannya terkait kejadian tersebut. Kepada awak media, Isran menyebutkan bahwa posisi di sana memang rawan dan terjal. “Kemudian di bawahnya itu ada batu-batu gunung, jadi itu kalau di bagian atasnya terkupas karena ada kegiatan, jadi itu (longsor) memang pasti terjadi,” ungkap Isran pada Senin (18/1/2021).

Baca juga:  Kepatuhan Protokol Kesehatan Rendah, Masyarakat Kaltim Sudah Tidak Peduli Covid-19?

Ketika ditanya kegiatan apa yang disinyalir menjadi penyebab longsor, Isran tak membeberkannya begitu rinci. Dia juga mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun, proses pengerukan masih berjalan sebab tak bisa jika dilakukan sekaligus. Seandainya dikeruk habis, bisa berbahaya. Terutama bagi alat berat yang mengeruk itu bisa terkena longsoran.

Kaltimtoday.co juga meminta konfirmasi kepada Kepala UPTD Pemeliharaan Infrastruktur Wilayah II Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR PERA) Kaltim, Joniansyah. Dirinya menyampaikan bahwa kawasan tersebut saat ini sudah dibuka 1 jalur. Sehingga bisa diakses oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Baca juga:  Aktivis Aksi Kamisan Kaltim Suarakan Gagalkan Omnibus Law

“Walaupun tadinya ada juga beton yang patah di ujung dekat rumah yang belum jadi, kita kasih agregat. Itu sudah kami buka dari Minggu (17/1/2021) sore,” ungkap Joni saat dihubungi pada Selasa (19/1/2021).

Meskipun belakangan ini hujan sesekali masih mengguyur, namun dia memastikan aktivitas lalu lintas masih bisa berjalan. Joni juga menjelaskan ada 1 jalur lagi yang masih dipenuhi tanah, kemudian dibuang menggunakan dump truck. Hal itu lumayan membutuhkan waktu.

Air dari atas tebing pun masih terus mengalir dan pergerakan tanah masih terus terjadi. Pihaknya pun tengah mengusahakan agar jangan sampai air tersebut mengalir ke bagian longsoran di mana ada beton patah dengan menggunakan alat-alat yang ada.

Baca juga:  Ditegur Mendagri Soal Sekprov, Isran: Saya Tidak Tahu

“Tetap 1 jalur itu kita pertahankan untuk aktivitas lalu lintas. Selanjutnya kita kerjakan lagi di jalur satunya yang masih penuh tanah dengan dump truck,” lanjut Joni.

Joni pun tak memungkiri bahwa musim hujan yang belakangan ini kerap terjadi agak menyulitkan aktivitas di lapangan. Jika hujan, alat-alat yang ada pun tak bisa maksimal digunakan. “Karena tanahnya bergerak terus. Masih banyak volume yang ada dan kita tidak bisa bekerja. Risiko juga dari segi teknis dan alat kita ini berat. Itu berlumpur dan agak sulit membuangnya,” bebernya.

Baca juga:  Jembatan Mahakam Terus Ditabrak, Komisi III Melapor ke Kementerian Perhubungan

Joni berharap agar ke depannya cuaca bisa bersahabat agar bisa melanjutkan pengerjaan. Menyelesaikan ini memang butuh waktu yang cukup lama. Diperkirakan hingga 1 bulan. Volume yang masih ada diperkirakan sekitar 20 ribu kubik.

“Selain kendala di cuaca, kendalanya juga ada di lalu lintas. Sebab kami membuang tanah itu crossing. Menyebrang ke sebelahnya. Jadi truk armada kita tidak bisa lancar membuangnya. Butuh waktu,” pungkasnya.

[YMD | TOS]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close