Komisi Pemberantasan Korupsi tengah menelusuri aliran dana proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik atau e-KTP yang diduga diputar ke luar negeri. Penyidik mencatat sejumlah nama pribadi dan perusahaan yang diduga terlibat dan turut menikmati duit dari proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

SOURCE/PHOTO

Caption Illustrasi

"Memang ada indikasi itu (aliran duit ke dan dari luar negeri). Ada sejumlah nama dan lokasi. Beberapa saksi di luar (negeri) sudah diperiksa," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, kemarin.

KPK setidaknya telah memeriksa dua petinggi perusahaan yang terlibat dalam proyek e-KTP. Keduanya adalah anggota konsorsium Percetakan Negara RI, yakni Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos di Singapura dan Direktur Biomorf Lone Johannes Marliem di Amerika Serikat. "Hanya, Marliem menolak bersaksi," kata Febri. Marliem sempat mengaku memiliki banyak bukti keterlibatan pejabat dan anggota DPR dalam kasus e-KTP. Tapi dia tewas bunuh diri pada 9 Agustus lalu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo, KPK juga meminta bantuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan untuk menelusuri aliran dana ke dan dari perusahaan di luar negeri. Salah satu transaksi diketahui bernilai puluhan juta dolar AS yang dialirkan kepada orang dekat Setya. "Salah satu transaksi tercatat berasal dari satu bank di negara suaka pajak (tax haven). Penerimanya adalah orang-orang dekat Setya," kata penegak hukum tersebut.

Perputaran duit e-KTP di luar negeri semakin kuat dalam upaya penelusuran aset Johannes Marliem oleh aparat hukum Minnesota, Amerika Serikat. Agen khusus Federal Bureau of Investigation (FBI), Jonathan Holden, seperti dikutip Star Tribune dan Wehoville, menguraikan seluruh hasil penyelidikan dan pengusutan aset Marliem.

Menurut Holden, FBI mencatat hasil penelusuran aliran uang di rekening pribadi Marliem yang menampung duit hingga US$ 13 juta atau setara dengan Rp 175 miliar dari rekening pemerintah Indonesia pada Juli 2011 sampai Maret 2014. Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk membeli sejumlah aset dan barang mewah.

Salah satu barang mewah yang dibeli Marliem adalah jam tangan seharga US$ 135 ribu atau Rp 1,8 miliar dari sebuah butik di Beverly Hills. Marliem kemudian menyerahkan jam mahal tersebut kepada anggota DPR yang saat ini tengah dibidik KPK dalam kasus KTP elektronik itu.

Setya Novanto berkukuh tak pernah terlibat dan menerima duit dari proyek e-KTP. "Tidak pernah (terima uang). Saya yakin tak ada (perusahaan kerabat penampung duit KTP elektronik)," kata Setya saat bersaksi dalam sidang kasus KTP elektronik.

Setya telah mengajukan gugatan praperadilan atas status tersangkanya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hakim Cepi Iskandar, yang memimpin sidang, mengabulkan gugatan tersebut dengan dalih bukti yang dimiliki penyidik KPK tidak sah. FRANSISCO ROSARIANS | MAYA AYU | AGUNG S

KORAN TEMPO

Artikel Terkait