Dari sisi pengamat politik pengamat politik lokal dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Lutfi Wahyudi pernah memprediksi Hadi dan Isran bisa menjadi kuda hitam dalam perebutan kursi orang nomor wahid Kaltim.

-

Jadi menurut dia deklarasi keduanya menjadi paslon tak terlalu cepat. Apalagi sudah ada momen dan gerilya memasangkan keduanya sudah dilakukan sejak lama. “Terlebih Isran sendiri sudah punya mesin politik informal yang cukup,” terangnya.

Dosen pengampu mata kuliah ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul itu menyebut, waktu yang tersisa sampai pemilihan tinggal delapan bulan. Waktu yang dia nilai tak terlalu lama. Selain itu, faktor yang menangguk elektabilitas adalah kepastian pasangan calon mencalonkan diri pasti jadi pertimbangan.

Dia mencontohkan, sebelum Rita Widyasari ditetapkan sebagai tersangka, dia menjadi satu-satunya calon kuat yang akan dan hampir pasti diusung Golkar. Waktunya cukup jauh dari pemilihan. Nah, karena kepastian Rita akan maju berdampak pada elektabilitas yang sangat tinggi. “Tapi, ada kekurangan dengan hal tersebut. Yakni lawan politik punya waktu yang cukup banyak untuk membidik titik lemahnya,” ujarnya. Mestinya tim sukses mesti mengeliminasi bidikan-bidikan tersebut sebelum ditembakkan lawan politik.

Pasangan Isran-Hadi pun tak akan luput dari koreksi kelemahan dari lawan mereka. Apalagi Isran pernah menjadi pemimpin sebuah daerah. “Biasanya ada saja titik lemahnya yang bisa dijadikan senjata. Berbeda dengan Hadi yang baru pernah sampai mencalonkan diri tapi belum pernah memimpin, makanya mata angin bidikan tak terlalu kencang,” terangnya. (*/fch/far/k18)


SUMBER: KALTIM POST | KALTIM.PROKAL.CO