Samarinda

PTM SMA/SMK se-Kaltim Direncanakan Januari Mendatang, Sejumlah Sekolah Akui Sudah Siap

Kaltim Today
02 Desember 2021 08:50
PTM SMA/SMK se-Kaltim Direncanakan Januari Mendatang, Sejumlah Sekolah Akui Sudah Siap
Potret pembelajaran tatap muka di SMP dengan menjaga jarak selama pandemi Covid-19. (Ilustrasi/Yasmin/Kaltimtoday.co).

Kaltimtoday.co, Samarinda - Jenjang SMA/SMK di Kaltim direncanakan segera menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) pada Januari 2022 saat semester 2 mendatang. Pemprov Kaltim masih menimbang-nimbang keputusan tersebut. Sembari fokus mencapai target vaksinasi bagi siswa dan guru.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Anwar Sanusi mengungkapkan, pada Desember ini target vaksinasi hingga 90 persen terus dikejar. Sebab per 16 November 2021, vaksinasi bagi siswa baru mencapai 73 persen. Namun untuk guru sudah 92 persen. Sementara jika ingin PTM, pemprov menyebutkan capaian vaksinasi bagi siswa minimal 75 persen dan 80 persen untuk guru.

Sejumlah sekolah mengaku sudah siap jika Januari nanti memang harus memberlakukan PTM. Salah satunya adalah SMAN 13 Samarinda. Waka Kurikulum, Erwiniati mengungkapkan, pada dasarnya, sejak beberapa bulan lalu sekolah sudah berupaya untuk bersiap demi menyambut PTM. Hal itu dilakukan agar ketika muncul instruksi untuk PTM, sekolah sudah siap dan tidak kalang kabut. Imbauan untuk persiapan itu datang dari Disdikbud Kaltim.

"Sebenarnya kami ini hanya menunggu pengumuman resmi. Kalau ada edaran yang mengharuskan kami PTM, insyallah kami sudah siap," ungkap perempuan yang akrab disapa Erwin itu, Rabu (1/12/2021).

Beberapa sarana dan prasarana coba dipenuhi oleh sekolah dalam rangka memenuhi standar protokol kesehatan. Di antaranya seperti wastafel permanen tersedia 8 buah di depan ruang kelas. Sedangkan ruang kelas yang tak tersedia wastafel di depannya, telah disediakan tempat air berkeran. Total ruang kelas yang dimiliki SMAN 13 ada 10. Sementara untuk rombongan kelas (rombel) keseluruhan ada 19 dengan 660 siswa. Tiap 1 kelas diisi 36 siswa. Sedangkan untuk jumlah guru ada 34.

Bicara soal vaksin, siswa dan guru hampir seluruhnya sudah menerima vaksin. Tersisa sedikit saja yang belum. Untuk vaksin siswa, dipastikan Erwin sudah berada di atas angka 70 persen. Sedangkan untuk guru juga demikian. Namun masih ada sedikit guru yang belum vaksin karena terkendala penyakit tertentu.

"Kami rencananya akan buat 2 shift kelas. Jadi nanti ada yang sekolah di Senin, Rabu, Jumat. Kemudian kelompok lainnya di Selasa, Kamis, Sabtu. Nanti di kelas itu hanya 18 siswa. Jadi akan duduk berjarak," tambahnya.

Pada masa normal, SMAN 13 memberlakukan sistem shift pagi dan siang untuk siswa. Shift pertama mulai jam 07.00 hingga 13.00 Wita. Kemudian lanjut lagi dari jam 13.00 sampai 16.30 Wita. Seandainya PTM berlangsung tahun depan, jadwalnya agak sedikit berubah. Bagi shift pagi dimulai dari 07.30 sampai 11.00 Wita. Lalu lanjut lagi dari 11.30 sampai 15.00 Wita. Rata-rata, per hari ada 3 sampai 4 mata pelajaran yang harus diikuti siswa.

SMAN 13 juga berencana untuk tetap mengkombinasikan pembelajaran daring dan luring. Sebab nantinya ada yang belajar di sekolah dan sisanya di rumah. Bagi yang di rumah, kemungkinan masih tetap mengikuti pembelajaran secara daring.

Kemungkinan adanya learning loss para siswa juga disadari pihak sekolah. Sebab selama pembelajaran daring, ada beberapa siswa yang memang mengalami kesulitan dalam menyerap materi. Jika PTM berlangsung, justru akan jadi tantangan bagi sekolah untuk membiasakan siswa belajar lagi di kelas. Hal ini dikembalikan ke masing-masing guru. Sebab dikatakan Erwin, guru mempunyai gaya tersendiri dalam mengelola kelasnya.

Sekolah lainnya yang siap untuk PTM adalah SMAN 2 Samarinda. Waka Kurikulum, Ainun Jariah menjelaskan bahwa secara sarana semuanya sudah siap. Wajib menjalankan protokol kesehatan, tiap ruang kelas di SMA 2 sudah dilengkapi dengan wastafel yang dipasang di dalam. Selain itu, ada pula wastafel yang terletak di luar kelas. Lengkap dengan sabun cuci tangan.

Hingga saat ini masih menunggu instruksi dan aturan resmi dari Disdikbud Kaltim untuk kepastian PTM. Selain sarana prasarana yang lengkap, seluruh guru dan siswa di SMAN 2 juga sudah menerima kedua dosis vaksin. Sebagai informasi, SMAN 2 memiliki 1.060 siswa dengan 30 rombongan kelas (rombel). 1 kelas diisi 36 siswa. Kemudian untuk jumlah guru serta tenaga Tata Usaha (TU) ada 85.

Persiapan PTM nanti, rencananya dalam 1 kelas akan dibuat 2 kelompok yakni kelompok A dan B. Untuk belajar di sekolah, kedua kelompok ini tidak akan sama jadwalnya. Misalnya, di minggu pertama kelompok A akan belajar di sekolah selama 3 hari yakni Senin, Rabu, Jumat. Lalu kelompok B akan masuk pada Selasa dan Kamis.

Namun pada minggu kedua, jadwal kelompok B akan bergantian dengan kelompok A. Yakni masuk selama 3 hari yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Sedangkan kelompok A bergiliran untuk masuk pada Selasa dan Kamis. Biasanya, 1 jam pelajaran berdurasi selama 45 menit. Namun nantinya akan dipersingkat menjadi 30 menit. Jika PTM berlangsung, jadwal kelas akan dimulai sekitar 07.30 hingga 12.00 Wita. Dalam 1 hari, sekitar 3-4 mata pelajaran akan disampaikan.

"Kepala Disdikbud Kaltim (Anwar Sanusi) memang sering datang ke sekolah. Jadi beliau selalu tahu sudah sampai mana persiapannya. Jadi kami memang selalu dilihat dan disebutkan kalau SMAN 2 sudah siap gelar PTM," ungkap Ainun saat ditemui di SMAN 2, Rabu (1/12/2021).

Bicara soal kemungkinan terjadi learning loss, para guru harus siap menghadapi itu. Secara umum, jika kegiatan belajar-mengajar (KBM) tidak terjadi secara tatap muka, pasti ada beberapa siswa yang tak paham. Bagi siswa yang tertinggal pelajaran atau tugas, nantinya pasti akan dikejar untuk mendapatkan nilai yang minimal tuntas. Disebutkan Ainun, hal itu menjadi risiko.

"Nanti pada saat PTM, masalah-masalah tersebut akan diselesaikan satu per satu. Yang tadinya tidak pernah mengumpulkan tugas atau sedikit tugasnya, saat ketemu bisa ditagih atau ditunggu tugasnya. Bisa juga dijelaskan kalau siswa tidak paham materi," lanjutnya.

Ketika ditanya apakah sekolah tetap mengkombinasikan antara pembelajaran daring dan luring, Ainun menyebut memang ada beberapa skenario. Hal itu dikembalikan lagi ke kondisi masing-masing sekolah untuk lebih cocok menerapkan yang mana.

"Nanti model-model itu akan disesuaikan dengan masing-masing sekolah. Bisa kombinasi yakni separuh daring, separuh luring. Atau full semua tatap muka dan siswa yang di rumah diberikan tugas. Banyak opsinya. Itupun belum kami bahas," lanjut Ainun.

Hingga saat ini, Ainun di bagian kurikulum pun masih merancang opsi terbaiknya. Hasilnya nanti masih akan dibahas melalui rapat dan harus ada persetujuan antara para guru, waka lainnya, dan kepala sekolah.

"Kami tetap harus menunggu izin. Pertama dari gubernur, kemudian izin dari Disdikbud, lalu meminta izin dari orangtua siswa. Kalau orangtua tidak mengizinkan, maka kami wajib memfasilitasi siswa untuk tetap belajar daring," tandas Ainun.

Berdasarkan rekapitulasi data dari Disdikbud Kaltim per 16 November 2021, dari 146.716 siswa SMA/SMK sederajat seluruh Kaltim, ada 106.394 siswa yang sudah vaksin. Sedangkan 40.322 siswa lainnya belum. Sedangkan dari total guru sebanyak 10.472, sudah ada 9.584 yang sudah terima vaksin. Sementara 888 guru lainnya belum.

[YMD | NON]



Berita Lainnya