Kukar

Ramsiah, Produsen Lempok Pisang Khas Desa Teluk Muda

Kaltim Today
13 Agustus 2021 08:26
Ramsiah, Produsen Lempok Pisang Khas Desa Teluk Muda
Ramsiah saat memanggang lempok pisang. (Supri/Kaltimtoday.co).

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Ramsiah, salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memproduksi lempok pisang atau sering disebut pisang sale di Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Lempok pisang merupakan makanan khas Desa Teluk Muda, lantaran hanya diproduksi disini.

Ramsiah bersama sang suami, Selamet awalnya sekadar iseng membuat pisang sale. Pada akhirnya, kedua suami istri pun fokus mendalami produk unggulan desa sejak 2014 lalu. Semenjak itulah, hasil olahannya sering diburu masyarakat bahkan sampai di Tenggarong maupun Samarinda.

Meskipun pandemi Covid-19 hampir dua tahun, tidak mengurangi penjualannya. Bisa dikatakan, sebelum ada Covid-19 maupun sesudah tidak ada bedanya.

Ramsiah, salah satu pelaku UMKM yang memproduksi lempok pisang atau sering disebut pisang sale di Desa Teluk Muda, Kukar.
Ramsiah, salah satu pelaku UMKM yang memproduksi lempok pisang atau sering disebut pisang sale di Desa Teluk Muda, Kukar.

Ramsiah terkadang menjual pisang sale di warung miliknya. Tak jarang, langsung habis diborong pembeli dari kecamatan lain untuk dijual kembali.

"Penjualannya ya alhamdulillah ada aja yang pesan bahkan stok di rumah itu hampir tidak ada kerana banyaknya pesanan dari Kota Bangun, Tenggarong dan Samarinda," kata perempuan kelahiran Teluk Muda ini.

Istri Selamet ini membuat lempok pisang dua kali dalam seminggu. Bahan baku terbuat dari pisang awak yang dipanggang dengan bara api selama dua hari. Jika cuacanya panas, hasilnya akan lebih bagus.

Ramsiah menuturkan, dalam seminggu bisa menghasilkan 60 kilogram lempok pisang.

"Masyarakat yang berminat cukup langsung datang ke rumah. Untuk yang membeli 5 kg lempok pisang dihargai Rp35 ribu per kilogram sedangkan 10 kg ke atas dihargai Rp30 ribu," ujarnya.

Dari semua itu, ada kendala yang dihadapi, yakni sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak. Semenjak adanya penyakit pada pohon tersebut. Kali kedua panen pisang sudah rusak dan tidak bisa dipakai.

Apalagi hanya pisang awak yang dibisa dijadikan bahan baku, jika menggunakan pisang sanggar hasilnya kering sedangkan jenis moli itu hancur.

"Agak susah kami cari, soalnya ada kerusakan seperti pisang jadi batu, atau terpapar virus pisang," tuturnya.

Permasalahan bukan hanya Ramsiah saja yang mengeluhkan, tetapi ada beberapa produsen lainnya. Jika ketersediaan pisang tidak ada di Desa Teluk Muda, bisanya mencari sampai di Kecamatan Kembang Janggut bahkan Muara Kaman.

"Harapannya ketersediaan bahan baku utama yang digunakan banyak. Pemerintah bisa membantu mengetaui penyebab penyakit pisang itu dan apa obatnya. Biar kami tidak mencari kemana-mana  karena susah dicari," pungkasnya.

[SUP | NON | ADV DISKOMINFO KUKAR]



Berita Lainnya