Opini

Upaya Eliminasi Filariasis 

Oleh: Hana Sefira Wahyu, (Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta)

Penyakit filariasis termasuk penyakit menular vektor atau elephantiasis atau biasa dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Hutan rawa, daerah kumuh, drainase yang buruk serta kawasan persawahan dapat menjadi habitat vektor nyamuk. Sekalipun penyakit tidak mematikan tetapi cukup merugikan karena dapat menimbulkan kecacatan fisik dan mental serta membebani keluarganya. Akibatnya, penderita tidak bisa beraktivitas seperti biasanya pergerakkannya pun menjadi sangat terbatas dan tidak produktif pastinya.

Menurut Depkes RI 2010, penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk, cacing yang menginfeksi berasal dari kelompok nematoda, yaitu Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing tersebut menyerang saluran serta kelenjar getah bening, karena dalam tubuh manusia cacing tersebut menjadi cacing dewasa yang menetap di jaringan limfe. Akibatnya, cacat yang ditimbulkan ialah pembesaran kaki, tungkai, payudara lengan dan organ kelamin. 

Penularan filariasis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, sumber penular (manusia dan hewan sebagai reservoir), parasit (cacing), vektor (nyamuk), manusia yang rentan (host), lingkungan (fisik, biologi, ekonomi dan sosial budaya). Tidak memandang usia dan jenis kelamin, filariasis dapat menyerang siapa saja. Tetapi laki-laki risikonya jauh lebih tinggi daripada perempuan karena pekerjaannya sehingga sering terpapar dengan vektor. Terdapat perubahan pada patologis seseorang saat terinfeksi filarisis tetapi tidak menunjukkan adanya gejala klinis. Hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan imunitas pada setiap orang, umumnya orang yang pernah terinfeksi filariasis sebelumnya tidak terbentuk imunitas dalam tubuhnya terhadap filaria.

Baca juga:  Ada Apa dengan Balikpapan?

Lingkungan sangat memengaruhi distribusi kasus filariasis dan mata rantai penularan. Tempat tinggal yang padat penduduk dan kumuh sangat tinggi risikonya untuk terkena filariasis. Ditambah lagi kondisi rumah yang sangat tertutup sehingga sinar matahari sulit masuk, tidak memasang kawat kasa di ventilasinya, serta kontruksi plafon yang buruk. Faktor lingkungan ini terbagi lagi yaitu, secara lingkungan fisik dan lingkungan biologi.

Lingkungan secara fisik berupa suhu udara, kelembaban udara, angin, hujan, dan breeding place nyamuk. Kemudian, faktor lingkungan biologi yang mempunyai peran penting dalam proses terjadinya penyakit selain bakteri dan virus patogen adalah perilaku manusia, bahkan dapat dikatakan adanya penyakit itu karena ulah manusia. Faktor risiko yang timbul akibat adanya perilaku masyarakat ini adalah interaksi antar manusia, adat istiadat, kebiasaan masyarakat, dan tradisi penduduk.

Adapun tuntutan perkerjaan yang mengharuskan penduduk sekitar keluar pada jam-jam nyamuk mencari darah dapat berisiko untuk terkena filariasis. Apabila masyarakat memiliki kehidupan yang mapan atau dapat dikatakan ekonominya cukup, pastinya mereka dapat tinggal dalam kondisi rumah yang layak huni. Hal ini juga membantu penurunan resiko penularan penyakit vektor pada keluarganya dan masyarakat sekitar. 

Perlu mengenali gejala klinis dari filariasis yang terdiri dari gejala klinis akut dan gejala klinis kronis. Gejala akut berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang dapat disertai demam, sakit kepala, rasa lemah serta dapat pula menjadi abses. Selain itu, abses juga dapat pecah sehingga dapat menimbulkan parut terutama di daerah lipatan paha. Kemudian, gejala kronik berupa limfedema, lymph scrotum, kiluri, dan hidrokel.

Limfedema adalah pembengkakan yang disebabkan oleh gangguan pengaliran getah bening kembali ke dalam. Lymph scrotum adalah pelebaran saluran limfe superfisial pada kulit scrotum. Karena kasus penyakit filariasis ini telah menjadi Kasus Luar Biasa (KLB) perlu ditangangi hingga tuntas, dengan jumlah penderitanya mencapai 13.009 dan hampir menyebar diseluruh Indonesia terutama di pedesaan. Walaupun demikian didapati angin segar untuk warga etam, pasalnya Kemenkes 2012 menyatakan bahwa WHO telah menetapkan kesepakatan global sebagai upaya unutk mengeliminasi filariasis pada tahun 2020 (The Global Goal of Elimination of Lymphatic as a Public Health problem by The Year 2020).

Baca juga:  Kebijakan Tapera, Bikin Rakyat Merana

Terdapat usaha untuk menekan jumlah kasus filariasis ini yaitu, melalui Program Eliminasi Filariasis melalui POMP (Pemberian Obat Massal Pencegahan) filariasis dengan memberikan obat DEC dikombinasikan dengan albendazole setiap tahunnya. Namun, pemutusan mata rantai filariasis melalui program Eliminasi Filariasis sebaiknya tidak hanya terfokus pada POMP saja. Perlu diperhatikan pula perilaku masyarakat sehari-hari, seperti perilaku pengelolaan lingkungan untuk mengendalikan vektor penularan filariasis dan perilaku pencegahan gigitan nyamuk.

Pencegahan filariasis ini bisa dimulai dari kebiasaan menjaga kebersihan yang diterapkan sejak dini, yaitu berasal dari kebiasaan di rumah. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat antara lain, membersihkan tempat-tempat perindukan nyamuk, menata kembali kawasan yang kumuh, menutup barang-barang bekas, rajin menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, memasang kawat nyamuk pada ventilasi rumah, selalu menggunakan perlindungan diri saat bekerja dikebun dengan mengenakan pakaian lengan panjang dan sepatu boot, pastikan juga untuk menjaga kesehatan tubuh serta menggunakan obat anti nyamuk saat berada di luar rumah.

Menurut RidKesDas 2018, Kalimantan Timur termasuk provinsi pengelola sampah yang baik di rumah tangga dengan angka 65%. Tidak hanya itu, warga Kalimantan Timur pun juga sudah memiliki perilaku untuk menguras bak mandi yang dilakukan di rumah tangga. Perilaku kebiasaan menguras bak mandi yang dilakukan dirumah tangga ini telah mencapai 75%. Hal ini cukup membuktikan bahwa maskyakat Kalimantan Timur dapat pulih dari kasus penyakit filariasis dengan menerapkan perilaku hidup sehat dan menjaga lingkungan.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close