Pemerintah Kota Bekasi kembali menyegel pabrik di bantaran Kali Bekasi. Penyebabnya sama: mereka dianggap mencemari Kali Bekasi dengan limbah yang dihasilkannya.

-

Dua perusahaan yang disegel kemarin adalah PT Prima Kremasindo dan PT Pratama Prima Bajatama. "Disegel sampai semua kewajibannya dipenuhi," kata Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi di lokasi penyegelan.

Dinas Lingkungan Hidup mendapati PT Prima Kremasindo tak mengantongi izin produksi limbah bahan beracun berbahaya. Pabrik pengemasan minuman ringan itu juga ditemukan tidak memiliki dokumen lingkungan serta sebagian bangunannya berdiri di atas garis sempadan sungai.

Selain itu, perusahaan yang berlokasi di perbatasan Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor tersebut tak memiliki surat izin pembuangan limbah cair dan izin pengambilan air tanah. Diduga, limbah B3 yang diproduksi langsung mengalir ke sungai.

PT Prima sudah pernah ditegur karena berbagai pelanggarannya itu dua tahun lalu. Tapi rupanya mereka tak menggubrisnya. "Sekarang, setelah disegel, tidak boleh beroperasi lagi," kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, Kustantinah.

Adapun PT Pratama Prima disebutkan tak mengolah limbahnya secara maksimal. Instalasi pengolahan air limbah di perusahaan yang memproduksi pagar besi itu cenderung konvensional dan rentan mencemari lingkungan sekitarnya, terutama Kali Bekasi. "Kami menemukan air di sekitarnya sangat asam," kata Kustantiah.

Pengecekan dilakukan di saluran buangan pabrik itu yang menuju Kali Bekasi. Seharusnya, kata dia, derajat keasaman (pH) air limbah di sana sudah dinetralkan di angka 6-8. Tapi pengukuran menunjukkan angka di bawah baku mutu, yaitu 4. Atas dasar itu, perusahaan tersebut langsung disegel. "Potensi pencemarannya tinggi."

Manajemen PT Prima Kremasindo enggan memberikan tanggapan atas langkah penyegelan oleh pemerintah daerah setempat itu. Sedangkan Deddy Setiawan, Direktur PT Pratama Prima, menyatakan kecewa dan meminta pemerintah segera mencabut segel.

Deddy mengancam akan memperkarakan penyegelan itu ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Menurut dia, penyegelan dilakukan secara sepihak tanpa melihat yang sebetulnya di lapangan. Deddy mengaku meminta anak buahnya tetap bekerja. "Dasar mereka tidak kuat, air limbah yang kami buang sudah netral," katanya.

Ia mengakui pengolahan limbah produksi pagar masih konvensional. Meski begitu, Deddy menjamin limbah yang dibuang ke Kali Bekasi sudah dinetralkan dengan bahan kimia yang lain. "Kalau pH 4 itu di titik awal produksi. Kalau sudah dibuang, sudah di atas 6," kata dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Sugiono, mengatakan belum akan mengambil langkah serupa. Dia menjelaskan, memperkarakan perusahaan pencemar Kali Bekasi butuh tahapan. "Itu jalan terakhir kalau pembinaan tidak diindahkan," ujarnya.

Sepekan lalu, Pemerintah Kota Bekasi juga mengungkap pencemaran Kali Bekasi oleh pabrik di Jalan Raya Narogong, Kecamatan Rawalumbu. Salah satunya adalah PT Mikie Oleo Nabati Industri, yang memproduksi minyak sayur kemasan. Perusahaan itu tak mempunyai surat izin pembuangan limbah cair. Padahal, pabrik tersebut membuang cairan kental hasil pencucian minyak. ADI WARSONO | WURAGIL


SUMBER: KORAN TEMPO


Artikel Terkait