Kaltimtoday.co - Akuisisi saham 51 persen yang sempat diumumkan Jokowi mulai dipertanyakan. Sebab, hingga saat ini akuisisi tersebut tidak kunjung direalisasikan. 

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, proses akuisisi PT Freeport Indonesia tidak mudah. Saat ini masih terganjal izin ke badan antitrust di beberapa negara. Hal ini disebabkan Freeport telah berpindah kepemilikan.

Saat ini, sebut dia, Freeport telah menerima izin antitrust dari Jepang dan Korea. Selanjutnya, Indonesia masih berupaya mendapat izin dari China sebagai salah satu konsumen tembaga terbesar.

"Yang paling lama biasanya di China. Pagi ini saya baru dari China, ketemu badan antitrust China minta supaya bisa dibantu diterbitkan lebih cepat dan mereka memberikan sinyal positif," ujar Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (22/11/2018) seperti dilansir dari Kompas.com.

Diketahui, China mewajibkan negara-negara produsen tembaga untuk meminta izin dalam melakukan aksi korporasi. Hal ini dilakukan untuk menjaga persaingan usaha di antara negara produsen tembaga.

"Mereka lihat kalau ada corporate action dari perusahaan yang berkaitan dengan copper ingin pastikan tidak terjadi kartel menekan harga impor mereka," kata Budi. 

China, menurut dia, tidak mau membeli tembaga dari negara atau produsen yang tidak mendapatkan izin dari badan antitrust. Selain China, Freeport dan Inalum juga masih menunggu izin dari Filipina.

"Target Desember juga selesai," kata Budi.

Selain menyelesaikan izin dari badan antitrust, Inalum juga tengah memenuhi kondisi prasyarat penyelesaian akuisisi saham yang ditargetkan September-Desember 2018.

Selain itu, juga persiapan kebutuhan pendanaan Inalum dalam rangka pembiayaan divestasi saham PTFI yang ditargetkan Agustus-November 2018 serta persetujuan atas perubahan Anggaran Dasar PTFI yang ditargetkan November-Desember 2018.

[TOS | Kompas.com]


Artikel Terkait