Mohon penjelasan perbedaan zakat profesi dan zakat maal. Benarkah di zaman Nabi yang ada hanya zakat maal dan zakat fitrah saja?

Mohon penjelasan perbedaan zakat profesi dan zakat maal. Benarkah di zaman Nabi yang ada hanya zakat maal dan zakat fitrah saja?

Berikut penjelasan Ustadz Akhmad Nur Zaroni, M.Ag (Dosen IAIN Samarinda/Dewan SyariahLAZ DPU Kaltim)

Dalam khasanah keilmuan Islam klasik memang hanya dikenal zakat maal dan zakat fitrah. Zakat fitrah untuk membersihkan diri dan zakat maal untuk membersihkan harta kekayaan. Sebagaimana kata “maal” artinya harta benda, maka zakat maal adalah zakat yang dikenakan terhadap seluruh harta kekayaan dengan berbagai macam jenisnya. 

Jadi semua zakat selain zakat fitrah bisa dikategorikan sebagai zakat harta-benda. Baik itu hasil pertanian, peternakan, perdagangan, dan lain sebagainya. Baik yang berupa simpanan atau tidak. Termasuk zakat profesi itu juga masuk kategori zakat harta benda (maal).

Baca juga: Tanya Jawab Soal Zakat: Zakat untuk Tabungan, Perlukah?

Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan terhadap penghasilan tetap atau tidak tetap yang diperoleh dari jasa suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan profesinya yang memenuhi nisab (batas minimum untuk dapat berzakat). Seperti profesi seorang dosen, guru, pegawai negeri, pegawai swasta, pengacara, dokter, konsultan, akuntan, notaris, seniman, perancang busana, penjahit dan lain sebagainya. 

Kewajiban zakat ini berdasarkan keumuman kandungan makna ayat Al- Qur'an surat Al-Baqarah: 267 “Hai orang- orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik...”. Kata "sebagian dari hasil (apa saja) yang kamu usahakan yang baik-baik", adalah bersifat umum, sehingga semua macam penghasilan yang baik-baik (halal) menurut ayat tersebut adalah wajib dizakati. Boleh dinamakan zakat maal atau zakat penghasilan atau zakat profesi.

Memang benar zakat profesi tidak dikenal di zaman Rasulullah SAW, ini karena memang zakat profesi adalah hasil ijtihad para ulama di masa kini. Walaupun demikian ijtihad yang dilakukan bukanlah asal-asalan, tetapi menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan, dan tentunya juga memiliki alasan dan dasar yang cukup kuat. Diantara alasannya adalah rasa keadilan. 

Adilkah jika seorang dokter spesialis hanya 25 menit di ruang operasi menangani satu pasien menghasilkan jasa sebesar Rp.600.000, bahkan ada profesi-profesi tertentu yang gajinya per bulan bisa sampai ratusan juta tidak terkena wajib zakat, sementara petani dengan penghasilan Rp. 2 juta setelah menunggu dan merawat dengan memeras keringat dan membanting tulang selama 3 bulan mendapat kewajiban zakat?

Baca juga: Tanya Jawab Soal Zakat: Anak Tiri dan Warisan

Selain itu profesi di zaman Rasulullah SAW kondisinya berbeda dengan zaman sekarang dari segi penghasilan. Di zaman itu, penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi kaya adalah berdagang, bertani dan beternak. Sebaliknya, di zaman sekarang ini berdagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya, sebagaimana juga bertani dan beternak. Bahkan umumnya petani dan peternak saat ini termasuk kelompok orang miskin yang hidupnya serba kekuarangan. 

Sedangkan profesi-profesi tertentu yang dahulu tidak menjadi pekerjaan yang mendatangkan banyak materi, sekarang ini justru mendatangkan harta yang banyak dalam waktu yang singkat. Nilainya bisa ratusan kali lipat dari petani dan peternak miskin di desa-desa. Perubahan sosial inilah yang mendasari ijtihad para ulama kontemporer untuk menetapkan zakat profesi. Karena inti zakat adalah mengambil sebagian harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19). “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka....” (QS. At-Taubah: 103), dan Hadis Nabi “Allah telah mewajibkan kepada kaum Muslimin yang kaya agar mengeluarkan sebagian kekayaan mereka untuk memenuhi kebutuhan orang-orang miskin diantara mereka” (HR. Thabrani).

Jadi ijtihad ulama dalam menetapkan zakat profesi adalah respon realitas sosial di masyarakat yang telah berubah. Sehingga ajaran zakat yang mengandung nilai-nilai ibadah, ekonomi dan sosial dapat diterapkan sebagaimana tujuannya. Ijtihad ini tidaklah merubah prinsip-prinsip ajaran zakat yang telah ada. Melainkan mengembalikan zakat kepada substansinya bahwa orang kaya harus menyisihkan sebagian hartanya untuk orang miskin dan orang-orang yang berhak lainnya. Wallahu a'lam bishshawab.

Terus salurkan zakat dan infaq/shadaqah anda melalui LAZ DPUKaltim. Layanan rekening BNI Syariah an. Yayasan Dana Peduli Ummat Kaltim: 7000700 818. Konfirmasi Donasi 0811 5900 333. Dan ikutilah Program RamadhanLAZ DPU Kaltim, agar pahala ramadhan kita semakin bertambah.