Kaltimtoday.co – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2015 membuat sebuah agenda pembangunan dunia. Di mana negara-negara anggota PBB ikut terlibat, tak terkecuali Indonesia. Agenda itu dinamakan Sustainable Development Goals (SDGs) atau juga dikenal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

SDGs menyepakati 17 agenda yang perlu diwujudkan setiap negara hingga masa 2030. Perinciannya: tanpa kemiskinan; tanpa kelaparan; hidup sehat dan kesejahteraan; kualitas pendidikan; kesetaraan gender; air bersih dan sanitasi layak; pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; industri, inovasi, dan infrastruktur; berkurangnya kesenjangan; kota dan pemukiman yang berkelanjutan; konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; penanganan perubahan iklim; ekosistem laut; ekosistem darat; perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh; dan, kemitraan untuk mencapai tujuan.

Di Indonesia SDGs mulai berkembang. Pergerakannya sudah dimulai di kampus seperti Universitas Padjajaran dan juga banyak kota di Jawa, salah satunya Yogyakarta. Sedangkan di Kaltim SDGs juga sedang berkembang. 

Baru-baru ini pada 20-22 Januari 2019 pemuda bernama Rahmat Aprilian Putra mengikuti Global Goals Summit di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara itu merupakan pertemuan para agen SGDs untuk kawasan Asia Pasifik. Rahmat adalah salah satu dari 20 perwakilan yang dipilih dari Indonesia. Kata Rahmat, sebanyak 24 negara juga mengirim delegasinya.

Sebelum diadakannya pertemuan semacam itu, para agen SGDs sudah kerap melakukan komunikasi. Komunikasi mereka banyak melalui panggilan video. Dalam komunikasi itu mereka membahas masalah-masalah terkini dan solusi yang coba ditawarkan.

 “Tetap beda esensinya ketika ketemu langsung atau dengan video call. Bersama dengan mereka yang punya visi yang sama,” kata mahasiswa Hubungan Internasional, Unmul itu. 

Agenda Global Goals Summit berisi pembahasan isu dan presentasi. Para perwakilan masing-masing negara dibuat per kelompok. Masing-masing kelompok berjumlah delapan orang.  Mereka diminta berdiskusi dan menemukan permasalahan dari tiap-tiap negara yang akan mereka bedah.

“Kemarin itu saya dapat negara Yaman. Negara krisis dan banyak terjadi peperangan. Kalau seandainya solusi yang kita berikan ideal nanti akan dibuatkan anggarannya oleh PBB,” kata dia.

Untuk Pemimpin Masa Depan

Salah satu sasaran dari SDGs ini yaitu adalah menjaring anak-anak muda, membangun kesadaran kritis mereka terhadap persoalan yang terjadi di negara tempat mereka tinggal. Asumsinya pada 2030, pemuda-pemuda yang ada sekarang telah menjadi pemimpin.

“Jadi supaya pemimpin masa depan itu paham dengan masalah yang terjadi hari ini,” ucap Rahmat.

Sepulangnya dari Malaysia, Rahmat menyandang status sebagai duta Global Goals Action Indonesia 2019 bersama 19 orang lainnya. Meski menjadi satu-satunya pemuda di Kalimantan yang dikukuhkan sebagai duta, Rahmat seyogianya tak benar-benar sendiri. Di dalam agenda SDGs siapa pun yang bergerak dengan dasar dan memiliki tujuan yang sama sebagaimana 17 tujuan dari PBB, maka orang tersebut juga merupakan agen SGDs. 

Dari 17 program PBB itu misalnya, Rahmat mendorong fokusnya pada perbaikan kualitas pendidikan. Menurutnya pendidikan masih mahal dan belum bisa dinikmati oleh semua orang. Seperti sebuah rantai, musababnya bisa terjadi karena negara hingga hari ini masih belum dapat lepas dari penggunaan energi tidak terbarukan.

Para agen SGDs umumnya juga sadar mereka akan kesulitan jika harus mewujudkan solusi mereka sendiri. Butuh bantuan pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah—juga karena sebagai jalur koordinasi dengan PBB. Meskipun demikian, Rahmat dan kawan-kawan tetap akan berfokus pada upayanya memberi penyadaran. 

“Sebenarnya ini proyek panjang untuk 30-40 tahun ke depan,” pungkasnya. 

[WWL]




Artikel Terkait