Kaltimtoday.co - Ratusan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (25/3/2019). Mereka menolak rencana pendirian pabrik semen oleh Hongshi Holding Group Co Ltd — perusahaan asal Cina, di wilayah Kutai Timur.

Demonstrasi yang diikuti mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi itu awalnya berlangsung tertib. Namun berakhir ricuh karena tuntutan mahasiswa untuk bertemu Gubernur Kaltim Isran Noor tidak dipenuhi.

Akibas kericuhan di depån kantor gubernur tersebut, 2 polisi mengalami luka serius di bagian kepala dan pelipis wajah setelah terkena lemparan batu dari mahasiswa. Selain itu, wartawan turut menjadi korban lemparan batu dan pengeroyokan.

Sementara dari pihak demonstran, disebut ada 3 mahasiswa yang mengalami luka-luka. 2 di antaranya dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan. 

Aksi demo yang berlangsung sejak pukul 13.00 Wita itu berakhir sekira pukul 17.00 Wita. 

Kepada away media, Humas Aliansi Masyarakat Peduli Karst Kaltim, Andi Muhammad Akbar mengatakan berdasarkan kesepakatan aliansi, memberikan waktu kepada Pemprov Kaltim selama tujuh hari untuk segera mencabut izin pabrik semen dan izin usaha pertambangan di kawasan Karst Sangkulirang, Mangkalihat, Kutim. Apabila tidak dilakukan, maka pihaknya akan melakukan aksi lanjutan hingga izin benar-benar dicabut.

“Kami akan perjuangkan sampan izin pabrik semen dicabut, sebelum itu kami akan terus menggelar aksi demonstrasi,” ucap Akbar.

Dalam aksi ini, setidaknya ada 56 organisasi mahasiswa dan lainya yang bergabung. Mereka menyampaikan tuntutan yang sama agar zin pabrik semen dan eksploitasi kawasan karst di Kutai Timur dan Berau dihentikan. 

Seperti diketahui, pada 16 Maret lalu, Gubernur Kaltim Isran Noor menerima kunjungan dari Wakil Direktur Jenderal Komisi Pengembangan dan Reformasi Provinsi Zhejiang, Xu Xing. Salam pertemuan tersebut Xu Xing menyampaikan keinginan Hongshi Holding Group Co Ltd membangun paprika semen di Kutim. 

Disebutkan dalam pertemuan tersebut, Hongshi Holding Group Co Ltd akan memerhatikan aspek lingkungan dan menyerap tenaga tenaga kerja lokal. 

Menurut rencana, pembangunan pabrik semen ini bakal menelan biaya USD 1 miliar dengan green technology (zero dust) dan menyerap seribu tenaga kerja. Kapasitas produksi mencapai 8 juta ton per tahun.

Meganggapi penolakan dari mahasiswa tersebut, Isran Noor mengaku menerima kritikan. Dia bersedia mendengarkan protes yang disampaikan mahasiswa. 

"Bagus aja mereka (demonstran) menyampaikan itu. Sudah benar. Tapi yang benar belum tentu pas. Gak apa-apa itu, didengarkan saja," jawab Isran Noor. 

Meski mengomentari aksi mahasiswa tersebut, Isran enggan menemui. Isran mengaku memantau aksi dari ruang kerjanya. 

“Kan minta didengarkan gubernur, ya saya sudah dengarkan dari tadi. Saya dengarkan dari jendela, jelas,” tuturnya. 

[TOS | DSY]