Kaltimtoday.co – Santo dan Rachel, dua lumba-lumba sirkus mengikuti irama musik. Menggerakkan ekor dengan lincah bak sedang berjoget. Di atas panggung, Santo dan Rachel tengah melakukan atraksi melompati lingkaran, menyundul bola, dan berhitung. 

Sorak-sorai penonton memecah atraksi lumba-lumba yang digelar di area parkir Mal Lembuswana, Selasa (12/3/2019). Penonton yang didominasi anak-anak tampak riang dan gemas melihat atraksi lumba-lumba. Berteriak dan berlomba hendak memegang dan berfoto bersama Santo dan Rachel.

Meski menghibur, atraksi lumba-lumba keliling tersebut dikecam oleh para aktivis lingkungan dan mahasiswa di Kota Tepian. Sirkus dinilai tak memiliki rasa kasih sayang terhadap satwa.

“Sirkus itu pembodohan publik. Harus ditutup. Lumba-lumba satwa bukan badut. Mereka harusnya hidup di alam dan tidak untuk dieksploitasi,” tegas Adillah Rizma, anggota Aliansi Tolak Sirkus Lumba-lumba kepada Kaltimtoday.co, Senin (11/3/2019). 

Dilla, sapaan akrabnya, menjelaskan, lumba-lumba di sirkus keliling kondisinya memprihatinkan. Mamalia laut itu dipisahkan dari kawanannya. Di banyak sirkus, lumba-lumba ditempatkan pada air campuran bahan kimia, garam, dan klorin. Bukan air laut. Kandungan klorin merusak kulit lumba-lumba, bahkan bisa menyebabkan kebutaan. 

Bagi mahasiswi Unmul ini, atraksi lumba-selama ini disampaikan tak ubahnya pembohongan. Masyarakat, sebut dia, harus paham bahwa atraksi tersebut menyakiti hewan. 

“Pertunjukkan berkedok edukasi, itu hanya sebutan lain yang sebenarnya merupakan eksploitasi,” lanjutnya. 

Tatang Sanjaya, Marketing Bivi Creative sekaligus penyelenggara sirkus lumba-lumba keliling yang bekerjsama dengan PT Impian Jaya Ancol menegaskan, kegiatan yang mereka gelar tidak melanggar undang-undang. Pihaknya bahkan sudah mengantongi izin dari pemerintah dan aparat keamanan. Pertunjukan pun digelar sesuai aturan dan standar yang ditetapkan pemerintah.

"Mulai pengiriman  dari Jakarta hingga ke Samarinda selalu selalu diawasi. Bahkan selama pementasan semua dilakukan sesuai standar dan pengawasan ketat,” jelas Tatang. 

Ditambahkan dia, pihaknya juga sudah mendapat persetujuan dari BKSDA Kaltim. Bahkan, selama pementasan turut serta memberikan informasi konservasi lumba-lumba. 

Dia meyakinkan, pihak PT Impian Jaya Ancol dan Bivi Creative selaku Event Organizer telah melakukan semua perizinan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Salah satu peraturan dalam pertunjukkan hewan ialah dalam sehari diperbolehkan 6 kali pertunjukkan. Namun, Bivi Creative memberikan pertunjukkan hanya 4 kali dalam sehari ketika hari normal dan 5 kali pada akhir pekan. 

Meski mendapat penolakan dari sejumlah kalangan masyarakat di Kota Tepian, dia menyebut, hal tersebut wajar dan tidak berpengaruh signifikan terhadap antusiasme warga ibu kota Kaltim menyaksikan pertunjukan langka tersebut. 

"Kami sudah biasa soal pro dan kontra. Tetapi kalau bisa pihak yang menolak melihat dari sisi kami. Semua yang kami lakukan sudah sesuai peraturan yang ada. Saya malah berharap pihak -pihak yang menolak ini lebih kreatif untuk melindungi hewan. Seperti buat film dokumentasi. Jadi, tidak selamanya berunjuk rasa saja,” ujarnya memberikan saran. 

[DSY | TOS]