Kaltimtoday.co - Bencana banjir yang menerjang Samarinda sejak Minggu (8/6/2019) dikabarkan terus meluas. Setidaknya sudah 3 kecamatan di Samarinda yang terendam banjir. Sejumlah jalan-jalan protokol di ibu kota Kaltim bahkan terpaksa ditutup dan tidak bisa dilintasi kendaraan.

Sejumlah warga yang menjadi korban bencana pun meminta bantuan untuk di evakuasi dengan berbagai keluhan. Namun, mayoritas karena air yang terus meninggi dan sudah tidak bisa beraktivitas sama sekali. Mayoritas mereka memerlukan bantuan evakuasi merupakan orang tua berusia lanjut, ibu-ibu melahirkan, dan anak-anak yang tinggal di kawasan Kecamatan Sungai Pinang dan Samarinda Utara.

Berdasarkan data terakhir yang diperoleh media ini, tercatat ada 10.300 jiwa terdampak luapan air di Samarinda. Sehari sebelumnya, banjir hanya terjadi di Kecamatan Samarinda Utara, persisnya di kawasan Perumahan Bengkuring, Griya Mukti dan Gunung Lingai. Namun, saat ini banjir sudah menggenangi kawasan Samarinda Ulu, Ilir dan Sungai Pinang.

Kepada media, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencananya Daerah (BPBD) Samarinda Irfan memaparkan, kawasan paling parah yang terendam banjir adalah di Kecamatan Samarinda Utara. Sementara di Samarinda Ulu, Samarinda Ilir, dan Sungai Pinang merupakan area yang terkena dampak lintasan air. Kemungkinan besar air di kawasan tersebut akan cepat surut.

“Gunung Lingai dan Bengkuring masih tergenang dengan ketinggian air bervariasi antara 25-100 sentimeter,” ucapnya.

Sementara itu, Sekkot Samarinda Sugeng Chairuddin menegaskan, Pemkot Samarinda sudah menetapkan status Tanggap arurat Banjir di Samarinda. Status itu ditetapkan selama 7 hari. Selama masa itu, bantuan makanan, obat-obatan, dan tim kesehatan siap diberikan kepada korban banjir yang membutuhkan.

“Bantuan itu diberikan karena warga sudah tak bisa lagi memasak dan kesulitan akses makanan karena beberapa hari terendam banjir,” ucapnya.

Masa tanggap darurat, sebut dia, dimulai sejak Sabtu (7/6/2019). Hingga kini, Pemkot Samarinda mencatat ada 10.300 jiwa terdampak banjir. Sementara itu, daerah terdampak banjir di Samarinda terus meluas. Pemkot Samarinda mencatat, daerah yang sebelumnya tak terkena banjir, pada Minggu (8/6/2019) ikut terdampak.

“Pemkot Samarinda sudah siap mendistribusikan bantuan. Bahkan, kemarin (Sabtu) bantuan berupa paket makanan, alat mandi, dan cuci kakus sudah didistribusikan,” pungkasnya.

Warga Cari Wali Kota

Bencana banjir di Samarinda yang begitu dahsyat membuat banyak warga menderita. Beberapa bahkan harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Di tengah situasi tersebut, warga mencari keberadaan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang. Sejak bencana banjir menerjang Samarinda, keberadaan Jaang tidak diketahui. Di lapangan, hanya Sekkot Samarinda Sugeng Chairuddin yang memantau kondisi banjir dan mengomandoi penanganan bencana yang sedang terjadi.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satupun pejabat Pemkot Samarinda yang mengonfirmasi keberadaan wali kota. Namun, berdasarkan informasi dan penelusuran Kaltimtoday.co, Jaang dan istri saat ini sedang berada di Fraknfurt, Jerman. Belum jelas, aktivitas yang dilakukan wali kota Samarinda di negara tersebut.

Meski begitu, diketahui, anak perempuan Syaharie Jaang, Wanda Tisya, diketahui sedang menempuh pendidikan di negara tersebut.

Redaksi Kaltimtoday.co, masih berupaya mengonfirmasi keberadaan Syaharie Jaang.

Pertanyaan soal keberadaan Wali Kota Samarinda ini ramai disampaikan warganet di facebook dan instagram. Seperti yang dilakukan akun facebook Derviansyah. Di grup Bubuhan Samarinda, Dervi mempertanyakan keberadaan wali kota Samarinda dan gubernur Kaltim yang tidak hadir di tengah-tengah kondisi sulit warga yang tengah terendam banjir.

“Gubernur dan wali kota Samarinda hilang saat Samarinda dikepung banjir. Rakyat saat ini butuh pemimpin yang bisa hadir di tengah penderitaan,” tulis Derviansyah.

Sontak, status facebooknya itu mendapat tanggapan dari banyak warganet. Seperti yang disampaikan akun facebook, Suria Darma.

“Nanti kalau sudah pilkada, baru muncul sok jadi pahlawan kesiangan. Sudah jadi gubernur atau wali kota enggak tau menikmati fasilitas negara, tanpa memperhatikan warga,” tulis Suria Darma.

[TOS]