Kaltimtoday.co -- Ketika meledak pada Selasa (5/2) malam, KM Amelia sedang berlabuh di dermaga PT Sei Mahakam. Serpihan dari kapal itu terlihat berserakan di kade.

Dermaga PT Sei Mahakam ini merupakan milik perorangan. Pemiliknya bernama Jaenal, tinggal di jalan yang sama dengan lokasi kejadian Jalan KH. Mansur. Selayaknya operasi dermaga perorangan harus mendapat izin terlebih dahulu dari Dinas Perhubungan kota.

Teguh Setiawardana, Kepala Seksi Angkutan Sungai dan Dermaga Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda mengatakan izin Dermaga Mahakam terakhir berlaku pada 2017. 

“Saya cek selama dua tahun ini tidak ada laporan untuk perpanjangan maupun laporan bulanan atau tahunan. Ini saya anggap pelabuhan ilegal," kata Teguh.

Dermaga yang mendapat izin dari Dishub lokasinya akan ditinjau, dilihat apakah memiliki kelayakan atau tidak. Beberapa standar yang penting diperhatikan yaitu fender; jarak antara dermaga dengan sandaran kapal, dan jarak dermaga dengan pemukiman warga.

"Bongkar muat apa, kalau BBM atau tabung gas harus jauh dari pemukiman. Jarak dari rumah warga perlu 200 meter sehingga tidak merugikan warga kalau terjadi kecelakaan," ujar Teguh.

Untuk mengurus izin dermaga diakui Teguh memang tidak mudah. Misalnya dari 20 dermaga yang mengajukan, yang diterima barangkali hanya 1 atau 2. Lantas dermaga-dermaga yang tidak mendapat izin ini memilih beroperasi secara sembunyi-sembunyi. 

"Selama ini izin dari Dishub dilangkahi, apa mereka lewat jalan tol lewat Jakarta sana atau kita enggak tahu," katanya.

Menurut Teguh, daerah pusat dalam hal ini Jakarta tidak layak memberi izin kecuali berdasarkan rekomendasi dari Dishub kota.

"Untuk itu, bulan ini atau bulan depan kami adakan razia untuk izin dermaga," jelas Teguh. 

[WWL | TOS]