Kaltimtoday.co- Gerakan Cerdas Pemilu atau biasa kita sebut GERCEP KALTIM hadir sebagai bentuk keresahan pada kelompok masyarakat yang mulai antipati berkontribusi pada Pemilihan umum, biasa kita kenal dengan Golongan Putih (Golput). Terutama “Pemilih Pemula” yang notabene saat ini masih pada jenjang SMA dan Strata 1 semester satu.

Ada banyak alasan kenapa pemilih pemula enggan untuk berkontribusi dalam pemilihan umum, ada juga karna mereka tidak tahu bahwa sudah memiliki hak untuk memilih. Atau bahkan telah antipati alias alergi dengan calon pemimpin terdahulu karna banyak mengumbar janji tapi tak bisa menepati.

“Tong kosong nyaring bunyinya”, begitulah mindset anak muda milenial dalam melihat calon para pemimpin masa depan, akhirnya tak memilih dianggap menjadi jalan tengah atau solusi terbaik.

Diluar itu semua ada beberapa alasan yang sangat menohok terkait Pemilih pemula, Teguh bin sabar selaku Ketua KAMMI KALTIMTARA menuturkan “Pada Pilgub tahun 2013 angka golput mencapai kisaran 40% dalam dua wilayah skala besar (KALTIM-KALTARA).

Sementara Samarinda,angka golput mencapai diatas 50% pada pilgub tahun lalu. Sedang data KPU  total pemilih pada tahun 2015 sekitar 2.365.561 yang memiliki KTP, tidak termasuk yang belum memiliki KTP, dan kendala lain. Kemudian beralih pada pemilih pemula, yang pada saat itu menyentuh angka 2,33% sekitar 55.863, sedangkan pemilih difabel 0,14% sekitar 3.384. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemilih pemula agar lebih terbuka dengan hal-hal yang terjadi terkait sosialisasi (pesta rakyat) untuk memilih figur pemimpin.

Sosialisasi yang dilakukan memungkinkan adanya potensi visual sehingga kegiatan yang dilakukan tidak mampu menyentuh pemilih pemula, karena figuritas pemimpin yang ada memiliki kendala tersendiri salah satunya high quality full cost yang sering kita hadapi dalam setiap pemilihan”.

Gerakan Cerdas Pemilu (GERCEP) KALTIM hadir sebagai solusi edukasi pencerdasan politik dengan masif mensosialisasikan pentingnya memilih pemimpin dan menggaungkan “Anti Golput” kepada seluruh kalangan terutama anak muda yaitu “Pemilih Pemula”, khususnya tentang pilgub, pilkada, dan pemilu.

Dengan masifnya aksi pencerdasan dan sosialisasi ini diharapkan pemilih pada tahun 2018 bisa meningkat dengan pesat. Teguh menambahkan “Pemilih pemula adalah salah satu elemen yang berpotensi menyumbang angka golput meninggi, maka perlu prioritas yang lebih kepada pemilih pemula, mereka hanya perlu pola pendekatan yang sedikit berbeda”.

GERCEP KALTIM bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Samarinda telah melaksanakan dua sosialisasi. Senin, 14 Mei 2018 telah terlaksana di SMAN Plus Melati yang terletak dijalan A. Yani dan Selasa, 15 Mei 2018 telah terlaksana di SMAN 6 Palaran Samarinda yang terletak dijalan Trikora dengan yang dihadiri hampir 100 siswa. Antusias peserta begitu menggebu-gebu dan ternyata setelah ditelisik mereka pun baru tahu bahwa memilih dan menentukan pilihan calon pemimpin itu sangat penting.

            Tidak hanya sekedar didua sekolah yang telah disebutkan, GERCEP KALTIM akan dengan massif mensosialisikan edukasi pencerdasan politik “Pemilih Pemula” ke berbagai sekolah lainnya yang kita sebut dengan nama “GERCEP Goes To School” serta beberapa kampus di Samarinda. Tidak hanya massif sosialisasi “Pemilih Pemula” tapi juga massif melakukan aksi pencerdasan edukasi politik di GOR Sempaja samarinda setiap pekannya.

“Kritis dan idealis dalam gagasan itu biasa, tapi kritis dan idealis dalam memilih pemimpin itu beda. Orang-orang besar tumbuh bersama keputusan-keputusan besar yang diambilnya. Bukan kemudahan-kemudahan hidup yang didapatnya. Termasuk keputusan memilih pemimpin hari ini.”

 

[Junhy El Jazeera| Mao Iskandar | Gercep Kaltim]


Artikel Terkait