Kaltimtoday.co - Industri Kreatif menjadi potensi yang sangat besar, khususnya bagi para generasi millenial, di seluruh Indonesia. 

Salah satu industri kreatif yang lagi ditingkatkan ialah perfilman. Perfilman menjadi sorot perhatian bagi pemerintah pusat. 

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengadakan acara Millennial Gathering 2019 bertemakan 'Diskusi dan Nonton Film Indonesia : Millennial dalam Arus Perfilman Indonesia'. 

Acara diskusi ini diselenggarakan di Aston Hotel & Convention Center Samarinda pada Kamis (11/4/2019) pukul 13.00 WITA. 

Hetifah menerangkan, generasi muda mempunyai kemewahan waktu untuk bisa menikmati film kapanpun dia mau.

"Saya sekarang tidak punya kemewahan waktu untuk menonton. Saya iri dengan anak muda yang masih punya banyak waktu," ujarnya dalam diskusi. 

Politisi Partai Golkar ini menginginkan para remaja Kaltim untuk melihat potensi perfilman dalam sektor Pariwisata.

"Kaltim mempunyai banyak daerah yang indah dan bisa dijadikan lokasi syuting film. Jadi, millenial sambil berkarya tapi juga dapat mempromosikan Kaltim," katanya pada Kaltimtoday.co. 

Ia memaparkan permasalahan yang dialami di industri perfilman Indonesia. Terdapat 4 permasalahan antara lain minimnya layar sarana bioskop, kualitas film Indonesia kalah dengan film impor, minimnya sekolah industri perfilman di Indonesia, serta tidak ada standarisasi SDM pelaku industri perfilman Indonesia. 

Permasalahan perfilman tersebut membuat Kemendikbud RI ikut serta dalam memberikan solusi.

Turut hadir pula  Muhammad Sanggurpi Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbangfilm Kemdikbud RI sebagai narasumber dalam acara. 

Sanggurpi menerangkan telah memberikan program - program yang diberikan kepada pelajar tentang dunia perfilman. Program tersebut seperti workshop, sekolah perfilman, bioskop keliling, dan festival perfilman Indonesia.

Tantangan yang masih menjadi kendala ialah kurangnya jumlah unit Bioskop Keliling. Saat ini hanya 3 unit di Kalimantan Timur. 

"Kami akan mencoba untuk menambah unit supaya di tiap daerah terpencil bisa menikmati film Indonesia yang bersifat edukatif," kata Sanggurpi pada Kaltimtoday.co. 

Demi meningkatkan semangat para millenial Kaltim ikut serta dalam industri perfilman, Hetifah menghadirkan David Richard alumni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim yang juga founder East Borneo Film.

Ia menjelaskan bahwa industri film mempunyai banyak manfaat. 

"Film lokal bisa menjadi ajang promosi daerah, memetakan potensi daerah, dan secara tidak langsung bisa menjadi pendapatan daerah," ujarnya. 

David mengajak para generasi muda untuk berani berkarya karena sudah didukung oleh pemerintah saat ini. 

Acara diakhiri dengan nonton bersama film Indonesia yang berjudul Keluarga Cemara garapan Yandy Laurens.

[DSY]