Kaltimtoday.co – Di depan muka gerbang Kelenteng Thien le Kong, Samarinda sejumlah bocah-bocah berkumpul. Beberapa dari mereka tidak datang sendiri, ada juga yang menunggu ditemani sang ibu. Dari yang semula mereka berdiri menunggu hingga memutuskan duduk—nyaris menutup gerbang masuk.

Tahun Baru Cina sudah memasuki kalender 2570, di mana tahun ini merupakan tahun Babi Tanah. Para bocah itu menanti angpau yang biasanya kerap dibagikan oleh jemaah kelenteng setelah melaksanakan sembahyang. Demikianlah perayaan Tahun Baru Imlek 2019, sudah jauh lebih semarak dibandingkan 20 tahun lalu—memungkinkan adanya interaksi antara jemaah dan warga sekitar.

Tahun 1999 adalah masa-masa terakhir berlakunya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Aturan itu dibuat pada masa Orde Baru sebagai bentuk larangan kepada kelompok ras cina yang ingin melakukan perayaan kepercayaan di tempat umum. 

“Benar, dulu perayaan Imlek cuma dilakukan di rumah,” kata Karim, salah satu jemaat kelenteng.

Pada tahun 2000, Inpres tersebut dicabut oleh presiden keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Semenjak itu, perayaan Imlek pun menjadi lebih terbuka untuk dilakukan. Karim mengatakan sebagai warga cina ia merasakan sekali perbedaan selepas Inpres itu ditiadakan. Membuat ia bisa merasakan keragaman setiap momen Imlek.  

“Perayaan Imlek sekarang terasa lebih Nusantara,” kata pria berusia 50 tahun itu.

Karim datang ke kelenteng bersama tiga anggota keluarganya. Usai sembahyang ia lantas pergi membagikan angpau kepada bocah-bocah yang setia menunggu di muka kelenteng.

Sementara Chin Phin, seksi ibadah Thien Ie Kong, mengatakan perayaan Tahun Baru Imlek di kelenteng juga tetap dilaksanakan pada zaman Orde Baru. Hanya saja Inpres dari Presiden Soeharto itu menutup akses agar perayaan dilaksanakan lebih terbuka. Pasca Gus Dur mencabutnya, kondisi menjadi berbeda.

“Sekarang Konghucu boleh jadi agama,” kata Chin Phin. Di era kepemimpinan Gus Dur juga negara untuk pertama kalinya mengakui Konghucu sebagai agama. 

[WWL | TOS]