MEGA ASRI/KALTIMTODAY.CO

RAPAT: Suasana rapat dengar pendapat bersama investor di Bontang dan salah satu LSM.

Kaltimtoday, Bontang - Bontang ditetapkan sebagai kota industri. Berbagai industri diharapkan hadir di Kota Taman. Saat ini, sudah ada beberapa investor yang berinvestasi di Bontang. Tentu, para investor harus tetap mematuhi peraturan daerah yang berlaku di Bontang, termasuk mempekerjakan tenaga kerja lokal Bontang.

Sosialisasi Perda Bontang nomor 10/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rekruitmen dan Penempatan Tenaga Kerja dilaksanakan pada rapat kerja Komisi I DPRD Bontang dengan perusahaan yang berinvestasi di Bontang.

Ketua Komisi I DPRD Bontang Agus Haris menuturkan jika ada perusahaan atau investor yang tidak mempekerjakan tenaga lokal Bontang, maka ada sanksinya. Yakni, pencabutan izin operasional perusahaan tersebut.

"Jika terbukti lalai dari mempekerjakan tenaga lokal Bontang," jelas Agus Haris.

Kata dia, Bontang sudah ditetapkan sebagai kota industri, tetapi pengangguran setiap tahun semakin banyak. Padahal, investor yang masuk ke Bontang pun terus berdatangan. Oleh karena itu, Agus mengharapkan pemerintah menjalankan dan menegakkan Perda alih daya tenaga kerja Bontang.

"Terkait permasalahan dari YKPI dan PT Samator, bisa diselesaikan secara internal," ungkapnya.

Sebelumnya, dari Yayasan Kesejahteraan Pekerja Informal (YKPI) Socria mengatakan beberapa investor seperti PT Samator melakukan pemutusan hubungan kerja tanpa memberikan pesangon kepada pegawainya, juga menggunakan subkon pengusaha luar Bontang. Padahal di Bontang pun banyak pengusaha jasa sesuai yang dibutuhkan PT Samator. Selain itu, dari PT Shandong juga yang merupakan perusahaan Cina yang membuat gudang Pupuk Kaltim mempekerjakan TKA. Sementara PT Energi Unggul Persada (EUP), kata Socria belum ada aktivitas. Tetapi pihaknya mengimbau agar perusahaan tak membawa pekerja dari Sumatra Utara. 

Menanggapi hal itu, perwakilan PT Samator, Yonathan menyebut perusahaan subkon yang ia gandeng memang berasal dari luar Bontang, tetapi pekerjanya dari Bontang, seperti sopir, sekuriti, dan cleaning service.

Sementara itu, perwakilan PT Shandong Imam menyebut Shandong sempat mempekerjakan dua TKA, tetapi sudah dilaporkan ke Disnaker.

"Soal subkon, memang dari pengusaha luar, hanya saja menggunakan tenaga lokal Bontang sebanyak 23 orang," ujar Imam.

Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Disnaker Bontang Usman meminta setiap investor yang berinvestasi di Bontang sebaiknya melaporkan ke Disnaker terkait kebutuhan tenaga kerjanya, agar perekruitan bisa melalui Disnaker.

"Seperti PT EUP, ketika nanti bagian HRD nya sudah di Bontang, maka harus segera berkoordinasi dengan kami soal kebutuhan tenaga kerjanya,"pungkas Usman.

Investor yang hadir dalam rapat tersebut yakni PT Samator, PT EUP, PT Shandong, PT SOS, PT KIE, BPJS Ketenagakerjaan, PT KAN, Dahana, YKPI, LSM Pemuda Kaltim, PT Citra Mulya Mandiri, PT Aroo.

[RI | TOS]