Kaltimtoday.co - Aktivitas Bandara APT Pranoto terancam terganggu pada musim hujan. Jalan akses satu-satunya saat ini melalui Jalan DI Pandjaitan rawan terendam banjir. Jika tidak kunjung diatasi, maka akan banyak calon penumpang yang bakal gagal terbang. 

Sementara, Jalan alternatif di Batu Besaung belum bisa digunakan. Mangkrak sejak 2013 karena kesulitan pembiayaan.

Atas hal itu, Penjabat (Pj) Sekprov Kaltim Meiliana memastikan, jalan alternatif salah satu program infrastruktur yang akan menjadi perhatian serius pada 2019. Pihaknya akan berupaya melobi pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membantu pembiayaan penyelesaian jalan alternatif ke Badara APT Pranoto.

“Kalau mengandalkan APBD tentu sulit, makanya harus berjuang supaya dibantu melalui APBN. Apalagi Presiden Jokowi antusias dengan adanya Bandara APT Pranoto,” ujar Meiliana. 

Disebutkan dia, saat kedatangan Presiden Jokowi ke Samarinda, Kamis (25/10) lalu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi sempat menyinggung soal jalan alternatif. Budi Karya meminta ada pertemuan rapat khusus di kementerian terkait bersama Pemprov Kaltim untuk membicarakan persoalan jalan alternatif. Budi Karya turut menyadari pentingnya jalan alternatif. Selain untuk mengurai kemacetan juga mengalihkan arus penumpang jika terjadi banjir besar di Jalan DI Pandjaitan. 

“Untuk mengendalikan banjir sementara kami berkoordinasi dengan Pemkot Samarinda. Minimal perbaikan drainase dalam waktu cepat,” ucapnya. 

Untuk diketahui, berdasarkan dokumen detailed engineering design (DED), panjang jalan dari simpang Batu Besaung ke BSB sekitar 10,75 kilometer. Dibangun dengan konstruksi rigid pavement. Terdiri atas empat lajur dan dua jalur. Dalam rencana anggaran biaya (RAB) pada 2011 proyek ini memerlukan anggaran sekitar Rp 980 miliar.

Hingga saat ini, dari total panjang proyek jalan itu, baru 500 meter di antaranya yang sudah dilakukan rigid pavement. Kemudian ada sepanjang 6 kilometer yang sudah dilakukan pembukaan badan jalan dan dilakukan pengerasan namun belum rigid pavement. Sementara masih ada sekitar 5,5 kilometer yang harus dilakukan pembukaan badan jalan. 

Sampai saat ini jalan tersebut belum bisa dilintasi kendaraan mobil. Jalan masih rusak di beberapa titik dan harus dilakukan perbaikan. Selain Jalan DI Pandjaitan dan Jalan Batu Besaung sebenarnya masih ada jalan alternatif lain, yakni melalui Perumahan Bumi Sempaja yang merupakan jalan milik Pemkot Samarinda. Jalan ini bisa digunakan ketika jalan utama putus karena banjir. Namun, jalannya sempit, dan juga berpotensi banjir saat hujan namun tetap bisa dilewati. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Perumahan Rakyat (PUTRPR) M Taufik menggatakan, usulan anggaran untuk menyelesaikan jalan alternatif menuju Bandara APT Pranto sudah sudah disampaikan ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim. Proyek dianggarkan secara bertahap dan ditarget selesai pada 2020. 

“Saya lupa angka pastinya, tapi dianggarannya cukup besar. Kami berharap dapat bantuan dari APBN,” pungkasnya. 

[PAS]


Artikel Terkait