Kaltimtoday.co - Bencana longsor di Sangasanga menjadi perhatian pemerintah pusat. Menteri ESDM Ignasius Jonan berjanji akan menyelidiki penyebab bencana tersebut. Tim khusus akan diturunkan. 

“Saya tadi bertemu dengan Inspektur Pertambangan Dirjen Minerba dan Kepala Dinas ESDM Kaltim. Saya minta supaya dicek kembali apakah aktivitas tambang dilakukan sudah mempertimbangkan aspek keselamatan atau sesuai dengan kaidah-kaidah berlaku,” ujar Menteri Jonan, Sabtu (1/12/2018).

Lokasi pertambangan yang terdekat dengan lokasi kejadian, yakni lahan tambang yang dikelola PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN). 

Mantan Menteri Perhubungan ini mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan oleh tim atas bencana ini. Disinggung mengenai sanksi, Menteri Jonan, mengaku keputusan tersebut masih menunggu perkembangan hasil investigasi.

“Kan belum, tunggu saja,” ujarnya.

Longsor yang terjadi di jalan poros Sangasanga - Muara Jawa, Kutai Kartanegara mengakibatkan lima bangunan rumah dan rumah makan terkubur tanah, yang menyebabkan 17 jiwa dari 6 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Selain lima rumah dan rumah makan terkubur, terdapat 15 rumah lainnya yang berpotensi ikut terkubur. Tanah di sekitar lokasi masih berpotensi ambruk jika curah hujan dalam beberapa hari kedepan berintensitas tinggi. Saat ini semua warga di sekitar lokasi telah mengungsi ke tempat yang aman.

Seperti diketahui, longsor yang memutuskan jalur utama penghubung Sangasanga - Muara Jawa diduga akibat aktivitas pertambangan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Lokasi pertambangan yang terdekat dengan lokasi kejadian, yakni lahan tambang milik PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN).

Ditemui di lokasi kejadian, Humas PT ABN Wagianto menjelaskan, jarak antara lokasi tambang dengan lokasi kejadian berjarak sekitar 200 Meter.

"Sekitar 200 Meter jaraknya," ucapnya, Kamis (29/11/2018).

Kendati demikian, dia belum dapat memastikan apakah saat kejadian tengah ada aktivitas pertambangan atau tidak.

"Untuk itu saya belum dapat pastikan, ada apa tidak aktivitas," ucapnya singkat.

Untuk diketahui, PT ABN didirikan pada tahun 2004, dan mengelola daerah konsesi pertambangan dengan luas area sekitar 2.990 Ha yang berlokasi di Desa Kampung Jawa, Kecamatan Sangasanga dan Desa Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa, Kukar, Kaltim.

Lokasi konsesi tersebut berjarak sekitar 30 km sebelah tenggara dari Samarinda. PT ABN mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi No. 540/1691/IUP-OP/MB-{BAT/XII/2009 tanggal 1 Desember 2009. PT ABN melakukan kegiatan eksplorasi, penambangan batubara, dan pemasaran hasil produksi di lokasi tambangnya tersebut.

PT ABN mulai melakukan kegiatan eksplorasi dan pembangunan infrastruktur pada 2007, sedangkan produksi komersial dimulai pada 2008. Produk batubara ABN memiliki kalori 5200-5900 GAR yang termasuk dalam kelompok thermal coal dengan rank sub-bituminous dan bituminous. Berdasarkan laporan JORC oleh mining consultant PT Runge Indonesia per 31 December 2011, ABN memiliki sumber daya batubara 156 juta ton dan cadangan 117 juta ton.

Area tambang ABN terdiri dari 2 area utama yakni Timur ABN dan Barat ABN. Sistem penambangan yang dilakukan ABN merupakan sistem penambangan terbuka (surface open pit mining) dengan fokus pada overburden removal dan coal extraction. Kegiatan penambangan ABN dilakukan oleh kontraktor PT Cipta Kridatama (CK).

[WAL]


Artikel Terkait