1. Apa hukum shadaqah yang diumumkan?
2. Apakah sampai pahala shadaqah yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal?

Pertanyaan:

1. Apa hukum shadaqah yang diumumkan?

2. Apakah sampai pahala shadaqah yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal?

Berikut penjelasan Ustadz Akhmad Nur Zaroni, M.Ag (Dosen IAIN Samarinda/Dewan SyariahLAZ DPU Kaltim)

Jawab:

Shadaqah adalah amalan utama dalam Islam. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang bershadaqah dengan memberikan pahala yang berlipat-lipat (QS. Al-Baqarah,2:261), bahkan pahala shadaqah jariyah akan terus mengalir walaupun pelakunya sudah meninggal dunia. Namun tidak semua shadaqah diterima oleh Allah SWT. 

Shadaqah yang diterima adalah yang memenuhi persyaratan tertentu, yaitu; dilandasi dengan iman, sesuai dengan syariah, dan dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT, tidak dicampuri oleh keinginan duniawi (riya’) ingin dipuji atau dilihat orang. 

Kita tidak bisa menilai seseorang Ikhlas atau tidak, karena ikhlas adalah amalan hati (amaliyatul Qalb) yang tahu hanya Allah dan dirinya sendiri. Ikhlas diibaratkan seperti orang yang memberikan sesuatu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahui. Ini adalah gambaran seseorang bershadaqah yang menjaga hatinya supaya tetap ikhlas dengan merahasiakan shadaqahnya. 

Oleh karena itu hukum shadaqah yang diumumkan oleh orang lain (petugas) harus dikembalikan kepada hati yang bershadaqah, apakah yang bersangkutan mampu menjaga keikhlasan atau tidak?, apakah dengan diumumkannya tidak akan mempengaruhinya ketika akan menetapkan besar kecilnya  shadaqah yang akan diberikan?, apakah dengan diumumkannya tidak akan menimbulkan perasaan bangga (ujub), atau senang ketika diketahui oleh orang lain. Jika ada pengaruhnya, maka shadaqah tersebut belum memenuhi persyaratan yang dapat diterima oleh Allah SWT.

Baca juga: Konsultasi Zakat: Bedanya Zakat Profesi dengan Zakat Maal?

Sedangkan pahala shadaqah dan do’a yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal Insya Allah sampai. Hal ini berdasarkan kepada hadis Nabi. Dari Aisyah ra. bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi saw:

“Sesungguhnya ibu saya meninggal dunia secara mendadak, dan saya kira seandainya ibu sempat berbicara, niscaya ibu akan bershadaqah, apakah ia akan memperoleh pahala jika saya bershadaqah untuknya?, Rasulullah menjawab:  ya”. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Selanjutnya hadis tentang amal seseorang yang meninggal dunia akan terputus kecuali tiga perkara. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). 

Dan berdasarkan firman Allah SWT: ”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Q.S. Al-Hasyr: 10).

Adapun bacaan Al-Qur’an untuk orang yang sudah meninggal (Qira’at lil- Amwat), apabila yang membaca bukan anaknya terdapat dua pendapat; sampai dan tidak sampai. Ulama yang berpendapat “tidak sampai” diantaranya adalah Imam An-Nawawi, beliau mengatakan: “Pahala bacaan al-Qur’an yang berasal dari orang lain (bukan anak) tidak akan sampai”. 

Izzu bin Abdus Salam berkata: “Pahala membaca al-Qur’an hanya terbatas pada orang yang membacanya saja, dan tidak akan sampai kepada yang lainnya”. Alasan kelompok ini karena bacaan tersebut bukan dari perbuatannya sendiri, padahal seseorang tidak akan mendapatkan pahala kecuali yang ia usahakan sendiri, sebagaimana firman Allah: “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain yang ia usahakannya” (QS. An-Najm: 39).

Sedang yang berpendapat “sampai” diantaranya adalah Syaikh Ibn Taymiyah. Beliau berkata :”Sesungguhnya berbagai ibadah badaniyah, seperti shalat, puasa dan membaca al-Qur’an akan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal. Sebagaimana manfaatnya ibadah yang berbentuk harta, seperti shadaqah dan lain sebagainya. Dan hal tersebut sudah menjadi ketetapan seluruh ulama. 

Sebagaimana orang yang telah meninggal juga akan merasakan manfaat do’a dan permohonan ampunan”. Ibnul Qayyim juga berkata: “Hadiah yang paling utama untuk diberikan kepada orang yang telah meninggal adalah shadaqah, permohonan ampun, mendoakan dan menghajikannya. Begitu pula dengan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan secara ikhlas, tanpa meminta balasan dan menghadiakannya kepada orang yang telah meninggal tersebut, akan sampai sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. Wallau'alam bishawab. 

Terus salurkan zakat dan infaq/shadaqah anda melalui LAZ DPUKaltim. Layanan rekening BNI Syariah an. Yayasan Dana Peduli Ummat Kaltim: 7000700 818. Konfirmasi Donasi 0811 5900 333. Dan ikutilah Program RamadhanLAZ DPU Kaltim, agar pahala ramadhan kita semakin bertambah.