Kaltimtoday.co - Unjuk rasa yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Karst (AMPK) Kaltim berlangsung ricuh. 

Awalnya, para mahasiswa dan aparat saling dorong mendorong. Karena tidak bisa memasuki gedung, para demonstran melempar batu dan tongkat ke arah aparat kepolisian. 

Aksi lempar batu itu menyebabkan beberapa anggota kepolisian dan Satpol PP mengalami luka di bagian kepala, pelipis, mata, dan kaki. Salah satu korban, Kepala Satpol PP Kaltim Gede Yusa. Gede, luka serius di bagian kaki. 

Situasi semakin memanas, pihak kepolisian menembakkan 3 kali gas air mata hingga membuat para demonstran berhamburan.

Pihak AMPK tetap berkumpul memberikan perlawanan kepada aparat kepolisian. Hingga pihak kepolisian membuat blokade di depan kantor Gubernur Kaltim. 

Situasi saat ini berlangsung tenang untuk sementara waktu. Satu sound system AMPK disita oleh aparat kepolisian.

AMPK Kaltim unjuk kedua kalinya menggelar aksi unjuk rasa menolak pabrik semen di Kutai Timur dan Berau. Unjuk rasa ini atas hasil konsolidasi 62 organisasi mahasiswa sejak minggu lalu. Aksi AMPK menindaklanjuti sikap Gubernur Kaltim, Isran Noor, yang tidak mengindahkan aspirasi AMPK untuk mencabut izin pembangunan pabrik semen. Aksi kali ini diikuti lebih dari 500 orang. 

Humas AMPK Kaltim Andi M Akbar mengatakan, pihaknya tetap berpegang dengan tuntutan untuk mendesak Pemprov Kaltim mencabut izin pendirian pabrik semen. Sekaligus mencabut seluruh IUP di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyani sempat bertemu langsung dengan demonstran. Hadi sempat geram dengan penolakan aktivis karena enggan diajak melakukan berdialog secara terbuka. 

"Saya sebagai pemimpin berlaku adil. Kami pasti mengkaji pernyataan satu persatu. Tidak serta merta menolak dan tidak serta-merta diterima," kata Hadi kepada para demonstran.

Situasi sempat memanas, demonstran dan aparat saling dorong. Demonstran menolak untuk berdiskusi karena dianggap tidak perlu. 

"Kami hanya ingin dicabut izin pembangunan pabrik semen. Pembangunan ini hanya merusak ekosistem dan lingkungan," ujar Akbar. 

Hadi meminta AMPK untuk menyerahkan  data-data kajian berkaitan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.

"Saya akan bicarakan kepada OPD terkait dan gubernur setelah kalian memberikan data-datanya," tegasnya .

Setelah memberikan pernyataan tersebut, Hadi kembali ke kantornya. 

[DSY | TOS]