Mahasiswa Unmul dan warga Desa Muang Dalam, RT 34, Lempake, Samarinda Utara, bekerja sama menciptakan suplemen penambah nafsu makan sapi. Mereka menyebutnya “permen jilat sapi” atau Penjilat Sapi, Sabtu 8 September 2018 lalu.

Kaltimtoday.co – Mahasiswa Unmul dan warga Desa Muang Dalam, RT 34, Lempake, Samarinda Utara, bekerja sama menciptakan suplemen penambah nafsu makan sapi. Mereka menyebutnya “permen jilat sapi” atau Penjilat Sapi, Sabtu 8 September 2018 lalu.

Permen jilat sapi atau dalam bahasa peternakan disebut “urea mineral molases block (UMMB)” sendiri merupakan salah satu teknologi di bidang peternakan sebagai suplemen pangan pada ternak ruminansia. Tujuannya meningkatkan efisiensi pencernaan, sehingga dapat meningkatkan produksi ternak. Sampai saat ini, UMMB telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas ternak potong maupun perah baik sapi, kerbau, domba maupun kambing.

Dalam menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan penjilat sapi tersebut, mahasiswa yang juga penerima beasiswa Tanoto Foundation Unmul menggandeng Kelompok Ternak Bersatu binaan Desa Muang Dalam RT 34. Para peternak sapi di sana mengeluhkan sapi-sapi mereka lamban dalam proses penggemukan, karena peternak hanya memberikan rumput dan daun pisang sebagai sumber pangan utama pada sapi.

“Alat dan bahan sangat mudah diperoleh baik di lingkungan sekitar maupun di toko yang menjual pakan ternak. Ada sambungan pipa ukuran 4 inci dan pipa ukuran 1 inchi sebagai cetakan, nampan, tali rapia, dan timbangan. Kemudian bahan-bahan dasar beserta takarannya untuk membuat satu buah permen jilat sapi adalah molases atau saritebu 336,8 gram, urea 63,1 gram, mineral 33,1 gram, garam 52,6 gram, kapur atau semen putih 87,1 gram, tepung tapioka 126,3 gram, dedak atau bekatul 315,7 gram,” tutur Yoga Tri Wardana, pembuat permen sapi yang juga mahasiswa Unmul.

Setelah sapi menghabiskan permen, barulah diberikan pakan ternak alami seperti rumput dan daun-daun yang kaya akan klorofil atau zat hijau daun. Berdasarkan pengalaman peternak sapi di Kelompok Ternak Bersatu Desa Muang Dalam, sapi-sapi yang ada di kandang baru terlihat perubahan berdasarkan bobot dan lingkar perut sekitar2 atau 3 bulan sejak pertumbuhan menjadi sapi dewasa. Hingga saat ini, ada sekitar 100 ekor sapi yang dikembangkan warga Lempake.

Kegiatan sosialisasi pembuatan permen sapi itu sendiri diungkap Yoga Tri Wardana, sebagai informasi teknologi di bidang peternakan. Sementara para mahasiswa penerima beasiswa Tanoto Scholars ini sendiri memberikan edukasi serta kemandirian kepada masyarkat untuk menghadapi lemahnya kondisi ekonomi terkini. “Harapan besar kami Kelompok Ternak Bersatu dapat membagikan ilmu yang telah diperoleh kepada warga lain agar kebermanfaatan dapat dirasakan lebih luas,” jelas kata. [PAS]

 


Artikel Terkait