Kaltimtoday.co - Puluhan aktivis KAMMI Unmul menggelar aksi unjuk rasa mengutuk puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Puisi itu dianggap menghina dan melecehkan ajaran Islam. Bahkan mengancam kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara antar umat beragama. 

Ketua KAMMI Unmul Febri Abduh Haminudin mengatakan, puisi yang dibacakan Sukmawati membuat umat Islam resah dan marah akibat lantunan kalimat yang sama sekali tidak tepat. Akibat puisinya itu kemajemukan yang dimiliki bangsa yang sudah diwariskan para pendahulu untuk menghargai nilai-nilai toleransi, solidaritas dan kesetaraan jadi tercoreng.

"Aksi ini KAMMI lakukan selain mengecam puisi Sukmawati juga sebagai upaya pencerdasaan kepada masyarakat agar menghargai perbedaan dan senantiasa menjaga toleransi dan kebhinekaan," ujar Febri.

Dia menegaskan, puisi Sukmawati yang membanding-bandingkan sesuatu yang bukan pada tempatnya, sungguh tak pantas. Berdalih dengan mengatasnamakan sebuah karya, bukan berarti Sukmawati bisa bersikap semaunya untuk mengkritik simbol-simbol serta hal yang dihormati dalam perspektif kepercayaan sebuah agama.

Atas hal tersebut, KAMMI Unmul mewakili masyarakat Indonesia menyampaikan sikap. Pertama,  mengecam narasi-narasi yang merendahkan simbol-simbol yang dihormati dalam perspektif kepercayaan dalam Islam. Kedua, menuntut klarifikasi dan permintaan maaf oleh oknum-oknum dengan tulus yang ditujukan kepada umat Islam di Indonesia.

Ketiga, mendesak pihak berwajib untuk segera memproses hal ini agar tak terjadi kegaduhan yang lebih besar di tengah masyarakat. Keempat, mengajak kepada umat Islam untuk tetap menahan diri dari sikap yang tak terpuji akibat emosi sesaat dan tetap berakhlaqul karimah mensyiarkan Islam sebagai agama yang damai.

"Kami berharap puisi intoleran seperti yang dibuat dan dibacakan Sukmawati itu yang pertama dan terakhir. Jangan ada lagi karena akan sangat melukai perasaan umat Islam," pungkasnya. 

[Mao Iskandar | KAMMI Unmul] 


Artikel Terkait