MEGA ASRI/KALTIMTODAY.CO

JARINGAN BURUK: Kepala SMAN 2 Bontang Sumariah saat membuka website PPDB yang mengalami loading jaringan.

Kaltimtoday.co, Bontang - Pelaksanaan PPDB online tingkat SMA di Kota Taman berlangsung aman. Aplikasi atau web PPDB sesekali mengalami gangguan alias lelet, namun proses pendaftaran masih bisa terlaksana. Berbeda halnya dengan proses input data pada tingkat SMK yang mengalami masalah.

Meski dibilang aman, hasil seleksi justru belum sesuai dengan jumlah pendaftar. Seperti di SMA 2 Bontang. Dikatakan Kepala SMA 2 Bontang Sumariah, pendaftar sudah tercatat sebanyak 281 siswa. Namun hasil seleksi yang bisa dilihat hanya 199.

"Nah sisanya berkisar 82 siswa ini belum diketahui masuk atau tidak," jelas Sumariah, Rabu (3/7/2019) sore.

Kuota SMA 2 Bontang, kata Sumariah, hanya sebanyak 210 siswa. Jika jumlah pendaftar 281 siswa, secara otomatis yang nilainya kecil akan gugur dengan sendirinya. Sementara pendaftar dari kategori keluarga miskin (gakin) sudah sebanyak 60 siswa dan itu menjadi prioritas.

"Kalau yang prestasi belum terlihat, masih proses seleksi oleh sistem," ujarnya.

Dia mengaku cukup heran dengan banyaknya pendaftar dari kategori gakin yang mencapai 60 siswa, sedangkan tahun lalu saja hanya sebanyak 40 siswa.

 

PPDB SMA, dijelaskan Sumariah, menggunakan sistem zonasi, tetapi bukan dilihat dari jarak, melainkan dari kelurahan. Sehingga ada beberapa wilayah yang masuk zona irisan atau bisa mendaftar di SMA 1, SMA 2, atau SMA 3.

Kekurangannya, lanjut dia, hanya jika siswa tersebut tidak diterima di sekolah pilihannya maka tak bisa bergeser ke sekolah lain.

"Bisa cabut berkas, tapi pindah ke SMK, kalau tidak diterima, mau tak mau ke swasta," ungkapnya.

Namun, untuk kelebihannya dengan sistem zona 3 ini, menurut Sumariah, terjadi pemerataan siswa di setiap sekolah. Tak ada lagi sekolah favorit di satu wilayah. Yang ada saat ini, karena siswa yang masuk sifatnya heterogen yakni ada yang nilainya bagus ada juga yang rendah, maka sekolah bisa memprosesnya agar saat mereka lulus semuanya mendapat nilai terbaik.

"Output dari PPDB ini menghasilkan siswa-siswi yang seperti apa? Sehingga tak salah jika Mendikbud menyatakan 5 tahun ke depan akan muncul sekolah favorit dengan potensi yang mereka lakukan, bukan karena banyaknya siswa berprestasi yang sekolah di sekolah tersebut (dengan masuknya siswa heterogen)," bebernya.

PPDB online sendiri sudah berjalan selama 3 tahun. Hanya baru pada 2019 ini yang terjadi pemerataan siswa karena diambil dari zona wilayah terdekat. Harapannya dengan sistem zonasi ini pemerataan siswa bisa terlaksana dengan baik.

[RI | TOS]