Kaltimtoday.co, Samarinda - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengunjungi Samarinda, Sabtu (14/7/2019). Ahok hadir di Kota Tepian untuk menghadiri acara dialog dengan masyarakat dayak Kaltim. Dialog ini membahas tentang kisi-kisi peran aktif masyarakat Dayak dalam pembangunan di Kaltim.

Dalam agenda tersebut hadir  Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Ketua Umum Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur (DADKT) Edy Gunawan Areq Ling,  dan Kepala Adat Besar Dayak Ajang Kadung.

Sementara itu, Ahok hadir bersama istrinya Puput Nastiti Devi.

Sebelum menyampaikan sambutannya Ahok dan istri diberikan gelar baru oleh masyarakat Dayak. Gelar yang diberikan untuk Ahok yaitu Asang Lalung yang berarti berani karena benar dan untuk Puput Idang Bulan yang berarti pemberi penerang. 

Ahok menyampaikan dalam sambutannya merasa terhormat telah diberikan gelar Dayak tersebut serta membeberkan tujuannya ke Kaltim untuk membayar hutang yang tak sempat dia penuhi untuk meresmikan Gereja Reformed.

"Saya merasa terhormat atas gelar yang diberikan. Saya ke Kaltim ini merupakan kehendak Tuhan. Saya diberikan waktu untuk membayar hutang saya dulu," ujarnya.

Selain itu, dia menegaskan, kehadirannya ke Kaltim bukan utusan presiden terpilih yaitu Joko Widodo melainkan untuk melunasi hutang dan menghadiri dialog dengan masyarakat dayak.

Akan tetapi, Ahok menambahkan dalam sambutannya, jika harus memilih provinsi mana yang cocok untuk menjadi ibu negara. Ahok lebih memilih Kaltim.

Pemilihan tersebut bukan karena alasan kedekatannya dengan masyarakat dayak saja. Akan tetapi, lebih condong pada infrastruktur yang ada di Kaltim seperti pelabuhan kapal laut, bandara internasional, serta wisata yang ada.

"Tidak mungkin pembangunan suatu ibu kota baru tanpa melihat ekonomi yang ada. Tapi semua keputusan ada pada Pak Jokowi," terangnya.

Sementara itu, Ketua DADKT

Edy Gunawan Areq Lung menjelaskan, pemberian nama gelar tersebut sebelumnya tidak diketahui oleh Ahok dan istri. Dia menerangkan gelar yang diberikan tidak sembarang karena harus melalui ritual khusus sehingga sang lelulur mengizinkan.

Edy memaparkan, gelar tersebut bisa didapatkan oleh siapa saja jika orang yang bersangkutan peduli terhadap masyarakat dayak, maka akan dipertimbangkan melalui ritual dan izin dari leluhur.

"Gelar itu tidak sembarang. Kita perlu lakukan ritual dan cocok tidak untuk orang tersebut, dan itu bukan gelar ya. Tapi nama kehormatan," jelasnya.

[RZA | TOS]