Kaltimtoday.co – Pihak pengelola Bandara APT Pranoto tidak hanya mengeluarkan imbauan kepada penumpang untuk menggunakan transportasi resmi bandara, tetapi juga menciduk oknum taksi ilegal yang berkeliaran di bandara.

Taksi ilegal ini berpenampakan seolah resmi dengan menempelkan stiker logo Kementerian Perhubungan diikuti nomor seri dan tulisan “Airport APT. Pranoto Samarinda”. Stiker itu ditempel di kaca bagian depan dan belakang.

“Dia salah memasang stikernya di kaca depan, dia pasang di sebelah kiri harusnya di sebelah kanan (posisi sopir). Kita punya pas bandara, tapi bukan seperti ini. Tiba-tiba ditempel belum ada izin,” kata Dodi Dharma Cahyadi, Kepala Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto.

Selain dari stiker, Dodi menjelaskan ciri lain taksi ilegal ialah sopirnya cenderung agresif ketika menawarkan jasa angkutan kepada penumpang. Taksi ilegal biasanya memaksa, berbeda dengan layanan angkutan resmi bandara yang melarang hal itu dilakukan kepada penumpang. Petugas bandara menginspeksi langsung jika menemukan oknum taksi ilegal seperti ini.

“Memaksa itu enggak bagus. Enggak nyaman buat penumpang,” ujar Dodi.

Sejauh ini pihaknya telah menangkap 14 kendaraan taksi ilegal di Bandara APT Pranoto. Selanjutnya proses penyelidikan, kata Dodi, akan diserahkan kepada kepolisian. Untuk mencari tahu pergerakan taksi ilegal ini apakah digawangi oleh orang yang sama atau bergerak masing-masing. Ia mengatakan sanksi kepada taksi ilegal ini bisa berupa denda atau bahkan kurungan.  

Dodi berujar dari semenjak penumpang turun dari pesawat hingga dia sampai di tempat tujuan, itu semua menjadi tanggung jawab bandara. Pihak Bandara APT Pranoto dalam hal ini ingin memberi fasilitas, keamanan, serta kenyamanan bagi penumpangnya.

Hal itu pula yang melatarbelakangi imbauan kepada penumpang untuk menggunakan transportasi resmi bandara. Menurutnya, penumpang di bandara itu berbeda dengan penumpang umum. Oleh sebabnya, bagi angkutan yang ingin mengambil penumpang di areal bandara harus mengantongi izin. 

“Ini aturan kalau di ‘rumah’ saya. Ada UU Penerbangan Nomor 1 Tahun 2009,” jelasnya.

Kehadiran angkutan online termasuk yang disorot Dodi. Pasalnya selama ini operasi taksi online tidak pernah memiliki izin prinsip dengan Bandara APT Pranoto. Namun, pihak bandara tidak melarang secara total keberadaan taksi online di bandara. Tetapi, di sisi lain petugas bandara terus mengimbau kepada penumpang untuk menggunakan jasa moda transportasi bandara.

“Setelah mereka (perushaan layanan transportasi online) mengajukan izin, nanti kita akan evaluasi dulu. Mereka maunya bagaimana nanti kita cocokkan. Begitu dong harus ada aturannya,” jelas Dodi. 

Soal tarif angkutan online dengan transportasi bandara yang kerap lebih mahal, Dodi menjelaskan itu karena biaya taksi resmi bandara juga menghitung pajak. Diketahui tarif taksi bandara saat ini berkisah kurang lebih 165 ribu, sedangkan tarif untuk angkutan online kurang lebih 130 ribu.

Imam Asnawi, Kepala Seksi Pelayanan APT Pranoto menyebutkan saat ini taksi bandara berjumlah 75 armada. Rinciannya Sentra dan Aero Cab masing-masing punya 10, Kokapura berjumlah 5, dan 50 sisanya merupakan Angkasa Jaya. Selain itu, Bandara APT Pranoto juga telah memiliki tiga bus Damri.

Per Januari 2019 penumpang di Bandara APT Pranoto mencapai 66.971 orang dengan jumlah pergerakan sebanyak 684 kali. Imam mengatakan jumlah tersebut tidak menjadi masalah, armada yang ada pun tidak pernah sampai kewalahan menangani penumpang.

“Penumpang yang datang katakan 1500, yang menggunakan taksi bandara itu paling hanya 10 persennya. Rata-rata 75 armada itu cuma narik dua kali. Sekarang orang Samarinda banyak dijemput pakai mobil pribadi,” kata Imam.

[WWL]