Seorang bapak menikah dengan seorang janda beranak tiga. Lalu dari pernikahannya dikaruniai empat anak kandung. Si bapak wafat  dan meninggalkan harta warisan. Apakah ketiga anak tiri tersebut mendapatkan warisan? Berapa bagiannya? Berapa zakat warisannya?

Berikut penjelasan Ustadz Akhmad Nur Zaroni, M.Ag (Dosen IAIN Samarinda/Dewan SyariahLAZ DPU Kaltim)

Dalam Islam, anak tiri dan orang tua tiri tidak bisa saling mewarisi. Karena antara keduanya tidak terdapat sebab-sebab mewarisi (asbabul miirats). Ada tiga hal yang menjadi sebab seseorang dapat mewarisi.

Pertama, sebab kekerabatan (qarabah), atau disebut juga sebab nasab (garis keturunan), yaitu antara mayit dan ahli waris mempunyai hubungan kekerabatan yang hakiki, baik ke atas (disebut ushul), misalnya simayit dengan ibu atau ayahnya; maupun ke bawah (disebut furu') misalnya antara si mayit dengan anak, cucu, dst.

Kedua, sebab perkawinan (mushaharah), yaitu antara mayit dengan ahli waris ada hubungan perkawinan yang sah menurut Islam, dan perkawinannya masih utuh (tidak bercerai), atau masih dalam masa iddah untuk talak raj'i (talak satu atau dua) bukan talak ba`in (talak tiga).

Ketiga, sebab memerdekakan budak (wala`), yaitu antara mayit dan ahli waris ada hubungan karena memerdekakan budak. Apabila seorang memerdekakan budaknya, maka antara orang itu dan bekas budaknya akan saling mewarisi. Jika orang itu meninggal dan tidak ada ahli waris dari pihak kerabat, maka bekas budaknya berhak mendapat warisannya. Sebab mewarisi yang demikian ini disebut juga sebab kerabat secara hukum (qarabah hukmiyah).

Jadi jelas bahwa dalam hal ini anak tiri bukan termasuk ahli waris. Namun demikian, kepada anak tiri boleh (mubah) hukumnya untuk diberiwasiat oleh orang tua tirinya. Dengan syarat, harta yang diberikan sebagai wasiat itu tidak melebihi 1/3 (sepertiga) dari harta orang tua tirinya yang meninggal. Jika wasiatnya melebihi 1/3 (sepertiga), maka pelaksanaanya bergantung pada persetujuan para ahli waris.

Ahli waris dalam kasus ini adalah istri dan empat anak kandung si mayit. Istri mendapat bagian warisan 1/8 (seperdelapan), karena ada anak kandung si mayit, jika tidak ada anak maka bagiannya 1/4 (seperempat),sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an: “Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak,maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu”. (Q.S.An-Nisa: 12). Sedang bagian empat anak kandungnya, jika semuanya laki-laki maka mereka mendapat sisa harta (ashabah binnafsi).

Jika anaknya semua perempuan, maka masing-masing bagiannya2/3, jika perempuan dan laki-laki, maka mereka dapat sisa harta (ashabah bilghair) dengan ketentuan bagian laki-laki dua banding satu dengan anak perempuan, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak- anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separoharta” (Q.S. An-Nisa: 11).

Adapun terkait dengan zakat harta warisan, maka dimasukkan dalam kategori zakat mal tergantung jenis hartanya, dengan ketentuan telah memenuhi syarat-syarat zakat mal, yaitu harta tersebut telah dimiliki penuholeh ahli waris, memenuhi batas minimal harta wajib zakat (nisab) dan telah memenuhi waktu satu tahun (haul). Wallahu a'lam bish shawab.

Terus salurkan zakat dan infaq/shadaqah anda melalui LAZ DPUKaltim. Layanan rekening BNI Syariah an. Yayasan Dana Peduli Ummat Kaltim: 7000700 818.

Konfirmasi Donasi 0811 5900 333. Dan ikutilah Program RamadhanLAZ DPU Kaltim, agar pahala ramadhan kita semakin bertambah.