Kaltimtoday.co, Balikpapan -  PT Pertamina terancam sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas tumpahnya minyak akibat putusnya pipa distribusi di perairan Teluk Balikpapanpekan lalu. Sebab minyak yang tumpah tersebut mencemari lautan.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan KLHK untuk menyelidiki dampak dari tumpahan minyak tersebut. Tim Kementerian ESDM juga sudah berada di lokasi untuk penyelidikan.

Lingkup penyelidikan itu, kata Arcandra, adalah kondisi pipa dari hulu hingga hilir.Pemerintah juga akan menyelidiki sisi Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (HSE) yang dilakukan Pertamina dalam penanganan bencana itu.

Sementaratim KHLK menyelidiki dampak dari tumpahan minyak terhadap lautan Teluk Balikpapan dan juga masyarakat. 

“Nanti kami akan evaluasi hasilnya, apakah sesuai prosedur atau tidak. Mengenai sanksinya kami lihat dari sisi KLHK, karena  pencemaran lingkungan kan itu ada disana," kata dia di Jakarta, Jumat (6/4) seperti dilansir dari katadata.com.

Direktur Penyelesaian Sengketa KLHK Jasmin Ragil Utomo mengatakan, pihaknya belum mengetahui berapa jumlah minyak yang tumpah ke Teluk Balikpapan. Alhasil belum bisa memutuskan apakah kasus tersebut akan digugat secara perdata.

Hingga kini, Kementerian LHK juga masih mengumpulkan bukti-bukti.

"Tim kami masih di lapangan," kata dia.

Laporan tim penanganan tumpahan minyak tertanggal 4 April 2018, KLHK akan mengambil sikap atas kejadian tersebut.

“Posisi KLHK untuk ganti rugi masyarakat dan tuntutan perdata akan dilakukan oleh KLHK”.

Seperti diketahui, pekan lalu, pipa distribusi minyak mentah dari Terminal Lawe-Lawe ke Kilang Balikpapan putus. Pipa yang putus ini memiliki jarak kurang lebih tiga kilometer dari Terminal Lawe-Lawe. Kedalamannya mencapai 25 meter di bawah permukaan air. Adapun, diameter pipanya sebesar 20 centimeter dan memiliki ketebalan 22 milimeter.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, pipa itu putus diduga karena terseret kapal batu bara berbendera Panama yang berasal dari Tiongkok.

“Kami kan sekarang sudah tahu penyebabnya. Jadi diduga, itu pipanya terseret kapal yang terbakar itu,” kata dia di Jakarta, Kamis (5/4).

Seharusnya, di Teluk Balikpapan tidak boleh ada kapal yang memasang jangkar. Namun,  saat itu kondisi cuaca sedang buruk. Alhasil kapal tersebut harus memasang jangkar.

[Mao Iskandar | Katadata]


Artikel Terkait