Kaltimtoday.co – Pembangunan masjid di Lapangan  Kinibalu, Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Ulu masih menuai penolakan dari warga. Bahkan, hari ini (1/8) 500-an warga menggelar aksi demonstrasi menolak pembangunan masjid tersebut. Proyek dianggap sebagai bangunan liar karena belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) dan dibangun di atas lahan yang sudah didaftarkan sebagai warisan cagar budaya,

Gerakan Pemuda Umat Islam Datu Hairil Usman mengatakan, aksi penolakan didukung banyak elemen masyarakat yang kecewa atas pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu. Mulai tokoh masyarakat dan ketua RT se-Kelurahan Jawa, tokoh agama, ahli waris lapangan sepak bola Kinibalu, organisasi masyarakat Ikatan Putra Daeah Peduli (IPDP), hingga pPerkumpulan Pemerhati Daerah Aliran Sungai, Kawasan Hutan dan Lahan Indonesia (PEDAS-KALI).

“Bangunan itu luar, sudah jelas melanggar aturan tapi tetap paksakan. Besok (hari ini) kami akan segel alat berat di lokasi proyek, kami terobos!” tegas Datu Hairil Usman, kemarin (31/7).

Dikatakan dia, pembangunan masjid sejak lama sudah ditolak warga. Lapangan tersebut semestinya diperuntukkan sebagai kawasan hijau Kota Tepian. Apalagi, sejak awal lapangan sepak bola Kinibalu diwakafkan oleh almarhum Gusti Husein Saad sebagai sarana olahraga dan tempat bermain untuk masyarakat bukan sebagai sarana ibadah seperti yang sedang dibangun saat ini.

Dia paparkan, pihaknya juga menemukan banyak kejanggalan dalam pembangunan proyek masjid tersebut. Proyek bisa dianggap sebagai bangunan liar. Pertama, saat dilakukan peletakan batu pertama, proyek memasang plang IMB 693/DPMPTSP-KS/IMB/IV/2018, namun tak lama kemudian plang tersebut dicopot dan diganti dengan plan IMB dengan nomor register 693/DPMPTSP-KS/C/IV/2018.  Setelah dfikonfirmasi ke DPMPTSP, sekretaris kota, dan wali kota IMB sama sekali belum pernah diterbitkan. Sehingga dapat dipastikannya proyek tersebut liar dan tidak berizin.

“Kami minta proyek liar itu dihentikan dan kepolisian harus mengusut pelanggaran yang dilakukan sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkasnya.

Seperti diketahui, meski ditolak warga dan beberapa kali didemo, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyatakan akan tetap membangun masjid di Lapangan Kinibalu. Awang mengklaim sudah mendapatkan restu dari majelis ulama Indonesia (MUI) dan para tokoh agama. Masjid ditegaskannya dibangun untuk kepentingan masyarakat.

“Siapa sih yang menikmati itu? Sebentar lagi saya pensiun, yang menikmati itukan masyarakat bukan Awang Faroek sendiri,” katanya dikonfirmasi beberap waktu lalu.

Pemprov Kaltim memang nampak sangat serius untuk tetap melanjutkan proyek tersebut. Bahkan, saat ini sedang dilakukan voting online nama yang tepat untuk masjid tersebut. Ada tiga nama yang bisa dipilih warga melalui situs www.kaltimprov.go.id , yakni Al Faruq, Al Furqon, dan Al Mumin. Sejak dibuka pada 30 Juli lalu, 31 Juli pukul 21.25 Wita nama Al Mumin dalam voting online masih menduduki posisi tertinggi pilihan warga. Adapun nama Al Faruq menduduki posisi terendah.

[Mao Iskandar]


Artikel Terkait