Purwadi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman

Diketahui, 2018 pertumbuhan ekonomi Kaltim 46 persen masih didominasi pertambangan. Sedangkan sumbangan industri pengolahan hanya 17 persen, konstruksi 9 persen, dan pertanian 7 persen.

Dengan struktur ekonomi seperti itu, maka sebaiknya Pemprov Kaltim memang harus segera melakukan pergeseran struktur ekonomi Kaltim yang selama ini selalu bertumpu pada ekonomi SDA. Khususnya ekonomi tambang batubara dan migas.

Pertumbuhan ekonomi Kaltim selama 2018 memang lebih tinggi dari perkiraan. Berdasarkan data dari BPS, pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 2,67 persen. Bank Indonesia memperkirakan 2019 pertumbuhan ekonomi mencapai 2,8 persen dengan plus minus 1 persen.Angka pertumbuhan ekonomi dengan kisaran 2,7-2,9 persen. Sedangkan 2020, pertumbuhan ekonomi Kaltim diperkirakan berada dikisaran 3 persen.

Dengan pertumbuhan ekonomi Kaltim seperti itu, maka  pemprov harus lebih berani dan berani beda seperti jargon kampanye Isran-Hadi saat debat cagub dan cawagub kaltim beberapa waktu lalu. Tapi justru kebijkan yang di ambil oleh Isran-Hadio tidak lebih baik dari pemerintah sebelumnya dalam tata kelola SDA khususnya masih mengandalkan "ekonomi instan" yang berbasis ekonomi SDA.

Setelah hutan Kaltim gundul, migas dan tambang batubara di keruk secara masif yang sampai saat ini masih diandalkan. Sekarang justru benteng terakhir gunung karts pun mau disikat juga untuk alasan ekonomi dengan mengundang investor asing dari Tiongkok.

Dari sudut pandang ekonomi dan lingkungan sebaiknya ada beberap hal yang harusnya dilakukan kajian lebih dalam terkait dengan rencana investasi pabrik semen dari Tiongkok di Kutim dan Berau yang akan mengekploitasi SDA terkait dengan keberadaan karst.

Ketika kita naik pesawat dari Samarinda ke Berau maka gunung karst yang cantik dan indah sebagai anugrah alam membentang luas sebagai sebuah aset alam yang sebisa mungkin kita pertahankan keberadaannya. Karena di wilayah tersebut terkandung banyak potensi yang bisa di lihat dari aspek ekonomi, sosial dan budaya. Potensi yang sama sekali tidak sebanding dengan potensi ekonomi ketika pembangunan pabrik semen tersebut bener-benar dilaksanakan.

Jika Isran-Hadi menerima rencana investasi pabrik semen dari Tiongkokg tersebut, maka sebelum itu diperlukan kajian lebih dalam. 

Mari dibedah satu per satu beberapa alasan yang disampaikan oleh Isran-Hadi ketika menerima rencana investasi pabrik semen tersebut. 

Pertama, investasi tersebut bisa membuka kesempatan tenaga kerja lokal minimal 1.000 orang. 

Menurut saya pertanyaan mendasarnya adalah 1.000 orang tenaga kerja lokal akan dipekerjakan di bagian apa? Pekerja kasar buruh dengan gaji yang sangat minimalis sekedar penghibur hati rakyat kecil yang seolah-olah dapat bekerja di pabrik semen yang di buka oleh investor tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar dampak dari adanya pabrik semen tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal sekitar pabrik semen tersebut atau secara luas terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kutim dan kaltim jika di bandingkan dengan munculnya kerusakan lingkungan hidup yang timbulkan. Mulai dari hilangnya sumber air bersih bagi masyarakat sekitar karts, hilangnya mata pencaharian mereka di sektor perikanan (nelayan), dan makin kotorannya udara di Kutim dan Berau. 

Pembangunan pabrik semen menghilangkan sumber udara bersih, menambah pemansan global, serta rusaknya atau bahkan bisa hilangnya cagar budaya alam yang di dalamnya ada sejarah perkembangan manusia purba.

Hal ini perlu mendapat kajian yang lebih mendalam agar apapun kebijakan dari pemerintah akan bisa di pertanggungjawabkan. Karena 1.000 tenaga kerja lokal tersebut jika cuma di bagian buruh maka selamanya bangsa ini akan selalu bangga dengan hanya menjadi "bangsa kuli" atas investasi asing, karena pekerja profesional yang level manajer ke atas tetap saja jadi porsi bagian dari para pekerja yang berasal dari para investor tersebut. 

Kedua, diharapkan akan ada transfer teknologi dari negara investor ke negara investasi. Karena dalam bisnis international dan dalam ekonomi international serta dalam manajemen keuangan internasional sangat jelas disebutkan dalam banyak teori bahwa tidak ada satupun negara investasi asing atau dalam MNC (multi national company) untuk rela dan Ikhlas melakukan transfer tehnologi yang mereka miliki kepada negara penerima investasi tersebut. Bahkan dengan dalih istilah nasionalisasi sekalipun hal tersebut akan sangat sulit kita bisa terima dan bisa dikerjakan.

Ketiga, diharapkan harga semen menjadi lebih murah. Pertanyaan adalah seberapa besar selisih harga semen jika pabrik semen dari Tiongkok di Kutim itu dibangun dibandingkan dengan harga semen yang ada selama ini. Asumsinya jika harga semen selama ini Rp 50 ribu per sak dan jika pabrik semen dari Tiongkok di Kutim di buka, maka harga semen akan turun jadi Rp 43 ribu per sak. Artinya, ada selisih Rp 7 ribu per sak. Lalu apakah selisih harga ini akan sebanding dengan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan oleh pembangunan pabrik semen tersebut tentu saja ini juga masih sangat diperlukan kajian yang lebih mendalam. 

Keempat, diminta adanya program CSR dari perusahaan tersebut.

Menurut saya pelaksanaan program CSR selama ini yang di lakukan oleh perusahaan besar  di Kaltim masih sebatas lipe service saja. Karena masih belum menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat Kaltim secara luas. Pelaksanaan CSR masih sebatas menyelesaikan persoalan persoalan jangka pendek yang terkadang penangannya seperti cara kerja pemadam kebakaran. 

Seperti misalnya program sunatan massal itu bukanlah program CSR tapi bagian kecil saja dari keuntungan perusahaan yang dalam hitungan uang "receh" sekedar lipe service saja. Program CSR yang selalu terjebak dengan istilah "ring satu", "ring dua", dan lainnya. Akhirnya melahirkan program yang tidak adil dan semakin memperlebar kesenjangan dan kemiskinan bagi masyarakat di sekitar perusahaan tersebut atau masyarakat secara luas di Kaltim.

Jadi memang sangatlah mendasar reaksi penolakan terhadap rencana investasi pabrik semen dar Tiongkok di Kutim tersebut dengan banyak hal. Seharusnya Isran-Hadi lebih kreatif lagi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim bukan lagi dengan pola dan gaya ekonomi "instant" ini karena jika perilaku pemerintah masih seperti ini, maka tidak heran jika bangsa kita dan daerah kita tercinta ini Kaltim tidak lebih cuma jadi "toilet" bagi para investor tersebut. Yang mana dalam benak  investor hanya mengejar return yang sebesar-besarnya dengan meninggalkan banyak kotoran atas rusaknya lingkungan hidup kita secara jangka panjang. Ini tentu saja akan jadi mimpi buruk bagi generasi anak cucu kita nanti. Ibarat kata org asing datang ke rumah kita masuk ke toilet setelah selesai dari toilet mereka pulang ke negara mereka dengan meninggalkan kotoran bagi tuan rumahnya. Sedih dan mengenaskan. 

(*)