Purwadi
Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman

SEBENTAR lagi, debat ketiga antar calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Salahudin Uno dengan Ma’ruf Amin bakal digelar. Tepatnya Senin, 17 Maret 2019. Seperti sebelumnya, saya menebak dalam debat nanti pembahasan tidak tajam dan menarik. Kedua cawapres, baik nomor urut 01 Ma’ruf Amin maupun nomor urut 02 Sandiaga Uno, memiliki kekuatan yang masing-masing mereka kuasai, namun debat tersebut bisa saja keluar dari hal-hal lain yang substansial. 

Ma’ruf Amin bakal lebih banyak membahas soal budaya dan keberagaman serta pluralitas. Ditambah sedikit sensitif ke pemilu untuk suara kaum muslim. Dalam hal ini, Ma’ruf Amin sudah pasti benar-benar menguasi jargon dan janji kampanye Jokowi yang selalu digembar-gemborkan dalam debat I dan II, bahwa Jokowi selama 4 tahun menjadi presiden telah secara masif membangun infrastruktur. Sehingga, tugas Jokowi-Amin di periode dua nanti - jika terpilih, akan memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Sementara Sandiaga Uno, prediksi saya akan lebih konkret dan lebih tajam untuk isu soal pendidikan, kesehatan, dan hal-hal yang berkaitan dengan hajat rakyat yang dapat dijangkau dengan murah. Karena selama ini pasangan calon nomor urut 02, kerap melakukan kampanye berdasarkan data lapangan berkaitan isu tersebut. Itu juga bisa dilihat dalam materi debat pertama dan kedua yang dibawakan Prabowo-Sandi

MASALAH KALTIM

Dalam debat ketiga, besar harapan persoalan di Kaltim muncul ke permukaan. Misalnya fakta bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDBR) Bumi Etam hampir menyentuh Rp 600 triliun. Namun, tidak banyak yang mengalir ke Kaltim. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim dalam beberapa tahun terakhir hanya berkisar Rp 4 triliun.

Pendapatan hanya sebesar itu, maka jargon “Kaltim Berdaulat”seperti mimpi di siang bolong. Presiden dan wakil presiden baru mendatang penting untuk mengucurkan dana lebih besar ke Kaltim. Sehingga proses pembangunan di Kaltim juga bisa terus berlanjut. Baik itu untuk sektor pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. 

Kaltim masih tertatih-tatih mewujudkan pembangunan di sektor pendidikan, baik untuk masyarakat di kota maupun pedalaman dan perbatasan. Belum lagi soal keterbatasan tenaga guru yang siap ditugaskan di pedalaman dan perbatasan. Permasalahan biaya pendidikan yang kian mahal, membuat rakyat miskin jarangbersekolah. Seolah negara mau pelan-pelan lepas tanggung jawab dari mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk perihal kesehatan juga dalam debat ketiga nanti sangat diharapkan bisa mengangkat soal karut-marut manajemen BPJSKesehatan. Karena dampak dari hal tersebut negara pelan-pelan bisa melepas tanggungjawabnya atas kesehatan masyarakat, utamanya rakyat miskin. Itu baru BPJS Kesehatan, belum bicara soal gizi buruk dan minimnya tenaga medis di pedalaman dan perbatasan. Di Kaltim persoalan tenaga medis di wilayah pedalaman dan perbatasan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas sampai saat ini.

Begitu pula pembahasan tentang ketenagakerjaan. Selama ini masih dihadapkan pada isu buruh yang termarginalkan. Buruh yang seolah cuma menjadi alat produksi bagi para pengusaha yang selama ini mengejar profit semata. Di Kaltim saat ini juga terdapat angka pengangguran yang cukup tinggi.

Pun dengan topik sosial dan budaya, masih harus lebih sabar melihat perhatian pemerintah pusat atas dua isu ini. Walaupun secara akademik, budaya sudah mulai ada dikembangkan dengan adanya Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tenggarong. Keberadaan Universitas Mulawarman juga seharusnya bisa memberi dukungan terhadap kemajuan budaya di Kaltim. Misalnya dengan membuat fakultas atau program studi jurusan bahasa daerah (bahasa kutai, dan lain-lain).

Berharap isu-isu konkret di atas diangkat dalam debat ketiga mungkin seperti mimpi.  Apalagi jika persoalan di Kaltim mendapat perhatian dari pemerintah. Debat ketiga mungkin akan kembali lebih banyak membahas isu seputar kondisi di Jawa, Jakarta, atau Papua. Namun, saya tetap berharap debat ketiga nanti tidak jauh panggang dari api. Kaltim tetap bisa mendapat dalam debat. Tentu, sambil berharap ada konsep konkret dari paslon 01 dan 02. Mau dikasih apa rakyat Indonesia? Sehat, sekolah, buruh sejahtera? Kapan?