Oleh Freijae Rakasiwi
- Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman
- Ketua Komunitas Kolaborasi Pemuda Loa Janan

ISTIMEWA

KENAIKAN harga kebutuhan pokok yakni bawang putih bukan saja memperbesar beban masyarakat pada umumnya, tetapi juga akan berpengaruh terhadap pendapatan dan daya beli menurun khususnya. Dan akan mengakibatkan efek buruk kepada kesejahteraan masyarakat.

Di tengah masifnya pemberitaan Kaltim bakal menjadi Ibukota negara dan sudah dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo, masyarakat harus berpikir tujuh keliling dalam satu pekan terakhir. Awal Ramadhan kali ini masyarakat dibuat gelisah dengan kondisi perekonomian yang kian hari semakin sulit. Di tengah pendapatan tidak naik signifikan, justru pengeluaran semakin bertambah seiring naiknya harga barang maupun pangan. 

Di Samarinda pun tak ketinggalan ikut merasakan kenaikan harga. Memang, setiap Ramadhan ataupun momentum hari raya keagamaan harga-harga meroket tajam. Kondisi ini terjadi karena produsen ataupun distributor ingin memanfaatkan peningkatan gairah konsumsi masyarakat di hari-hari keagamaan. Momentum ini untuk meningkatkan pangsa pasar masing-masing dan mendapatkan pendapatan yang lebih ditengah kondisi ekonomi masyarakat tidak stabil.


Artinya, pola peningkatan permintaan dan konsumsi masyarakat akan terus meningkat sehingga para produsen/distributor memiliki kesempatan dengan sengaja menimbun persediaan sehingga harga naik dan arus distribusi tidak lancar. Tentu, ini mengakibatkan melonjaknya harga kebutuhan bahan pokok. Harga bawang putih maupun bawang merah dipasar tradisional di Samarinda membuat masyarakat resah. Selain harga semakin mahal, diperparah lagi persediaannya menipis.

Bawang putih di Samarinda dibeli masyarakat di Pasar Samarinda sebesar Rp 120.000 per kilogram. Naiknya mencapai Rp 90.000 dari harga awal yakni Rp 25.000-30.000. Kenaikan yang tidak wajar ini semenjak selesainya pemilu 2019. Kenaikannya pun perlahan dimulai dari harga Rp50.000-60.000 sampai puncaknya di awal bulan Ramadhan ini mencapai Rp120.000-140.000. Fantastis!

Tentu, ini sangat memberatkan masyarakat kenaikan kebutuhan dapur yang paling utama di konsumsi setiap hari, dan memberatkan bagi para pelaku usaha kuliner yang terbebani dengan membengkaknya harga bawang putih ini.
Kita ketahui bersama, bawang putih menjadi komoditas utama dalam membuat bumbu masakan bagi masyarakat. Kenaikan harga bawang tentu akan berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga dan akan berpengaruh pada anggaran belanja rumah tangga dengan pendapatan tak menentu.

Bukan cuma di samarinda saja yang mengalami kenaikan, hampir di seluruh indonesia terjadi hal yang sama. Karena permasalahannya sama yakni, persediaannya menipis dan stok dari distributor yang kosong.

Kenaikan harga komponen utama bumbu dapur ini disebabkan minimnya stok dan lambat dalam pengiriman ke daerah. Hal ini disampaikan oleh Disperindagkop Kaltim. Kita ketahui bersama, penyakit pemerintah saat ini yang selalu impor dari negara lain. Secara nasional, 90% bawang putih berasal dari impor. Tidak berbanding lurus dengan produksi nasional hanya mencapai 10%. Diperparah lagi, tidak bergairahnya pemerintah untuk meningkatkan produksi nasional bawang putih dan merah, maka fluktuasi harga akan terus terjadi secara musiman setiap tahunnya dan akan menjadi penyumbang inflasi. Karena stok persediaan, lonjakan harga dan produksi tidak seimbang sehingga mengakibatkan lambatnya distribusi dan ini dimanfaatkan spekulan untuk memainkan harga.

Jelas, kenaikan harga bawang putih ini yang diuntungkan adalah produsen besar.  Dengan menahan stok agar harga terus naik dan mencapai harga tertinggi, maka para produsen akan mendistribusikan stok bawangnya sehingga mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Para produsen besar menahan stok bawang saat petani belum memasuki musim panen seperti sekarang ini, sehingga arus distribusi bawang putih bisa mereka kendalikan.

Selain keterlambatan izin impor bawang putih dan pengenaan pajak dan biaya transportasi juga sangat mahal yang menyebabkan importir berpikir ulang jika mendatangkan barang, penyebab kenaikan ini ialah ulah spekulan dan tengkulak yang memainkan harga serta menimbun stok untuk memanfaatkan momentum meningkatnya konsumsi rumah tangga selama Ramadhan.

Bawang putih sebagai bumbu wajib semua makanan yang setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat. Jelas, yang dirugikan dalam kenaikan harga ini adalah konsumen dan para pedagang yang akan merogoh kocek lebih dalam serta akan mengurangi pembelian dikarenakan pengeluaran membengkak. Dampak yang terjadi dari permasalahan kenaikan harga ini akan menyebabkan multiplayer efek ke komoditas yang lain dan pengeluaran semakin membengkak, sehingga akan menyebabkan daya beli masyarakat akan turun.

Tepat pada Kamis, 9 Mei 2019 saya mengapresiasi Pemkot samarinda untuk mengambil langkah intervensi harga bawang putih secara cepat dengan mendatangkan stok sebanyak 58 ton dan langsung dijual ke masyarakat melalui RT. Dengan skema seperti ini, tanpa ada distribusi yang panjang serta bisa menurunkan harga bawang putih menjadi Rp 40.000. Tetapi, kebijakan ini hanya jangka pendek sampai menuju hari raya. Harapan besar masyarakat, tentu pemerintah harus bertindak tegas kepada oknum distributor yang menimbun stok persediaan yang tidak didistribusikan kepada masyarakat. Agar menimbulkan efek jera sehingga jalur distribusi bisa lancar secara jangka panjang.

Kenaikan harga bawang putih tentu membuat pedagang kecil tidak nyaman berusaha. Namun, Masyarakat tidak punya alternatif lain selain harus tetap membelinya berapapun harganya meskipun banyak mengeluh dan menurunkan volume pembeliannya. Kenaikan harga ini pasti menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa terjadi kenaikan secara rutin terjadi di hari-hari besar keagamaan setiap tahunnya?

Peningkatan permintaan masyarakat harusnya menjadi momentum meningkatkan produksi. Sayangnya, produksi tak sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus impor untuk memenuhi stok jangka pendek saja. Tentu, jika dibiarkan secara berkala, akan mengakibatkan petani terus menurun pendapatannya. Secara jangka panjang, pemerintah wajib mendorong terus ketersediaan berbagai komoditas yang pasti mengalami kenaikan harga dan membangun sentra produksi di wilayah strategis terutama di Kalimantan Timur.

Di samping aspek ketersediaan, hal yang  penting diperhatikan adalah memperbaiki struktur pasar yang sehat dan kompetitif. Apalagi jika yang menjadi persoalan adalah komoditas kebutuhan pokok sehari-hari di konsumsi yang memiliki sifat permintaan sangat inelastis.

Oleh sebab itu, solusi untuk pemerintah menyelesaikan permasalahan fundamental dari kenaikan harga bawang putih setiap tahun. Pertama, yang harus dilakukan adalah memastikan data persediaan serta terus meningkatkan produksi dengan pemanfaatan teknologi. Volume kebutuhan setiap tahun pasti mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Jelas, harus didukung kemampuan teknologi dari alat produksi sehingga tidak lagi menjadi kendala. Dengan solusi ini, pemerintah tentu memiliki cadangan yang cukup agar tidak memberi ruang bagi pemegang dominasi pasokan untuk mempermainkan harga oleh spekulan dan tengkulak. 

Kedua, menjaga kelancaran arus distribusi barang dengan penurunan biaya sarana produksi. Pemerintah harus menurunkan biaya sarana produksi pertanian dan memperbaiki infrastruktur distribusi hasil pertanian. Tingginya biaya produksi dan biaya angkut dinilai sebagai pemicu utama naiknya bahan pangan terutama bawang putih dan memperlambat distribusi. Terakhir, gencar melakukan edukasi kepada masyakarat agar memberikan evaluasi perbaikan pada regulasi untuk meningkatkan produktivitas dan produksi lokal bawang putih. 

Jika 3 solusi di atas biasa dilakukan, maka setiap Ramadhan dan lebaran masyarakat tidak pusing lagi akibat kenaikan harga. Secara bertahap, akan membentuk kestabilan harga dan momentum untuk membangkitkan kelesuan ekonomi dengan daya beli meningkat.

Stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi instrumen kesejahteraan masyarakat. Harga menjadi indikator pengeluaran dan pendapatan masyarakat. Setiap kali ada kenaikan bawang putih yang menjadi kebutuhan pokok di masyarakat, masyarakat akan selalu menolak karena akan menimbulkan dampak buruk. Mengingat keberadaan­nya yang begitu penting, maka apapun kondisi atau sesuatu yang timbul dari barang pokok tersebut akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat, dan akan memberikan multiplier efek yang begitu besar bagi semua sektor kehidupan. 

(*)