Oleh:
N. A Hanifah

HARI Raya Idulfitri identik dengan menyambung tali silaturahmi. Keluarga berkumpul dan saling bermaaf-maafan. Tidak ketinggalan pula suguhan makanan yang beraneka ragam mewarnai indahnya momen ini. Sayang sekali untuk dilewatkan. Namun, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena makanan yang beraneka ragam itu dapat berubah menjadi pisau bermata dua, jika tidak cermat dalam mengonsumsinya.

Pola makan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi kesehatan kita. Pola makan yang tidak sehat dapat memicu kelainan sistemik pada tubuh. Apalagi makanan yang dikonsumsi  mengandung kolesterol, purin, dan gula yang tinggi. Kolesterol merupakan bahan yang dibutuhkan oleh tubuh, namun kadarnya yang tinggi dalam darah atau hiperkolesterolemia dapat menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah atau aterosklerosis. Kondisi ini memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, serangan jantung, stroke, atau peripheral heart disease (PAD).

Data dari World Health Oragnization (WHO) 2015, ada 17 juta orang di dunia yang meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Sekitar 31 persen kematian di dunia diakibatkan oleh penyakit jantung  koroner. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) 2018 menunjukkan, 15 dari 1000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Hal ini perlu menjadi perhatian lebih, mengingat penderita tidak hanya mereka yang berusia lanjut, tapi juga dapat menyerang usia muda. Beberapa jenis makanan yang mengandung kolesterol tinggi seperti, otak sapi, jeroan, daging merah, telur, ati ayam, dan lain-lain perlu dikontrol konsumsinya.

Selain kolesterol, kita juga perlu berhati-hati dengan makanan yang dapat menghasilkan asam urat dalam tubuh. Asam urat merupakan hasil metabolisme dari purin. Purin merupakan zat alami yang ditemukan dalam sel-sel tubuh dan ditemukan pula dalam makanan. Normalnya, jumlah asam urat yang dihasilkan seimbang dengan proses pengeluarannya melalui urin. Pada kondisi tertentu, metabolisme purin dapat menghasilkan asam urat lebih banyak atau asam urat yang terbentuk tidak sempurna dibuang melalui urin, sehingga asam urat akan menumpuk dalam darah lebih dari normal (≥0,38 mmol/L) yang disebut dengan hiperurisemia. Hiperurisemia menjadi faktor risiko utama terjadinya gout artritis. Kondisi ini akan membuat asam urat mengkristal di bagian sendi dan memicu peradangan yang disertai rasa nyeri pada lokasi tersebut. Gout artritis menjadi penyebab utama munculnya peradangan sendi pada laki-laki yang berusia di atas 40 tahun dan perempuan yang sudah mengalami menopause. Makanan yang perlu dihindari untuk mencegah gout artritis yaitu jeroan, kerang, udang, lobster, sayur bayam, dan kacang-kacangan.

Kandungan makanan lainnya yang sangat mudah ditemukan dan perlu diperhatikan yaitu gula atau glukosa. Hampir semua makanan yang kita konsumsi mengandung glukosa. Sebenarnya, tubuh pun membutuhkan glukosa sebagai sumber metabolisme untuk menghasilkan energi. Namun, glukosa akan menjadi musuh bagi tubuh ketika muncul kelainan dalam proses metabolismenya. Glukosa dalam darah seharusnya dipakai oleh sel untuk diubah menjadi energi. Namun, hormon insulin yang membantu sel mengambil glukosa dari dalam darah mengalami gangguan. Entah itu gangguan pada proses pelepasan atau kinerja dari hormon insulin tersebut. Sehingga, glukosa tidak bisa dipakai oleh sel dan bertahan di dalam darah. Glukosa yang tidak digunakan ini akan meningkat kadarnya di dalam darah yang disebut dengan hiperglikemia (gula darah sewaktu ≥200 mg/dL atau gula darah puasa ≥126 mg/dL). Hiperglikemia yang kronis menyebabkan penyakit kencing manis atau diabetes mellitus.

Ada beberapa gejala umum yang muncul pada diabetes mellitus, yaitu mudah haus, sering buang air kecil, mudah merasa lapar, dan mengalami penurunan berat badan dengan penyebab yang tidak jelas. Jika dibiarkan terus menerus dalam kondisi yang tidak terkontrol, gangguan ini akan menimbulkan kerusakan yang lebih luas seperti retinopati yang menyebabkan gangguan penglihatan, nefropati yang menyebabkan gagal ginjal, neuropati atau kerusakan jaringan saraf yang dapat menimbulkan gejala kebas, keram, atau kesemutan pada kaki dan tangan serta keusakan jaringan lain yang menimbulkan luka dan risiko amputasi.

Selain pola makan, ada beberapa faktor risiko lain yang mendukung terjadinya gangguan kesehatan tersebut. Biasanya, gangguan kesehatan di atas menyerang usia di atas 35 tahun dan risikonya akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Usia yang semakin tua akan menurunkan fungsi metabolisme dalam tubuh, sehingga lebih mudah memicu penyakit-penyakit kronis. Kondisi lain yang mendukung yaitu obesitas. Orang dengan obesitas memiliki risiko 7,5 kali lebih tinggi menderita penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan orang yang tidak obesitas. Obesitas ini juga dapat dipicu oleh pola makan, gaya hidup, aktivitas fisik, genetik, dan status sosial-ekonomi.

Riwayat keluarga juga menjadi salah satu faktor risiko. Jika ada anggota keluarga dekat yang memiliki gangguan kesehatan seperti di atas, maka kita akan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalaminya. Faktor lainnya yaitu merokok. Merokok telah terbukti dapat meningkatkan konsentrasi gula dalam darah dan menghasilkan radikal bebas yang menggangu kinerja hormon insulin. Zat-zat kimia yang terkandung dalam rokok juga dapat merusak lapisan pembuluh darah arteri, sehingga lebih rentan terjadi penumpukan plak di pembuluh darah atau aterosklerosis. Aterosklerosis dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, dan lain-lain.

Gangguan kesehatan di atas tidak hanya menggangu fungsi tubuh, namun juga menimbulkan risiko kematian yang tinggi. Terapinya pun tidak cukup hanya mengonsumsi obat-obatan, tapi juga diperlukan modifikasi pola makan dan gaya hidup. Pencegahan merupakan hal yang penting untuk dilakukan saat ini. Selain menghindari terjadinya gangguan tersebut, pencegahan juga dimaksud untuk menghambat proses penyakit agar tidak bertambah parah.

Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan, pertama, mengendalikan konsumsi makanan yang mengandung kolesterol, purin, dan gula agar tidak berlebihan; kedua, perbanyak konsumsi makanan berserat seperti sayur dan buah untuk menjaga keseimbangan gizi dan meningkatkan antioksidan dalam tubuh; ketiga, minum air putih secara teratur guna memperlancar proses metabolisme tubuh dan mencegah terjadinya dehidrasi; keempat, memacu aktivitas fisik seperti berolah raga, melakukan pekerjaan rumah, atau perbanyak berjalan kaki agar tubuh lebih bugar dan metabolisme tubuh meningkat; kelima, hindari rokok dan alkohol yang memberikan efek negatif bagi tubuh; keenam, jika anda sudah mengalami gangguan kesehatan seperti di atas, maka terapi dan anjuran dari dokter tetap dijalankan dengan tertib.

Dengan upaya pencegahan tersebut, kita dapat menurunkan risiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan seperti yang telah dibahas sebelumnya dan tubuh dapat berfungsi dengan baik dalam menjalankan semua aktivitas. Sehingga, kita dapat menjalankan ibadah optimal dan menyambut Hari Raya Idulfitri dalam kondisi sehat dan berbahagia.

(*)