Nur Ahlina Hanifah
(*) Dokter Muda RSUD AW Sjahranie Samarinda

BEBERAPA waktu terakhir hujan deras mengguyur sebagian wilayah di Kaltim. Curah hujan seperti ini semakin sering dialami sejak perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena diikuti dengan munculnya banjir. Hujan yang terjadi pada tanggal 8-9 Juni 2019 di Samarinda dan sekitarnya memberikan dampak yang sangat luas. Sampai dengan hari ini banjir masih menggenangi jalan-jalan utama di Samarinda. Tercatat pada 9 Juni 2019, banjir menggenangi Jalan Juanda, Jalan P Antasari, Jalan P Suryanta, Jalan dr Soetomo, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan PM Noor, Jalan AW Syahranie, Jalan Pemuda, Jalan DI Panjaitan, Simpang Mall Lembuswana, Bengkuring, Perumahan Griya Mukti Sejahtera, dan daerah sekitarnya. Hal ini membuat aktivitas di daerah tersebut lumpuh. Sekitar 2300 orang menjadi korban musibah banjir ini.

Tim bantuan dari pemerintah dan relawan dari berbagai instansi berdatangan untuk memberikan bantuan. Banjir yang saat ini bukan menjadi musibah terakhir, namun dapat berbuntut panjang. Seperti munculnya wabah penyakit yang sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan seperti ini. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Eipstein (2001), ada 3 komponen yang mendukung penularan penyakit yaitu patogen atau agen penyakit, vektor atau pembawa, dan lingkungan transmisi. Banjir menciptakan lingkungan yang mendukung patogen dan vektor untuk berkembang, sehingga penyakit tertentu mudah tersebar.

Penyebaran penyakit saat banjir berdasarkan World Health Organization dapat melalui air dan vektor. Penyakit yang ditularkan melalui air seperti demam tifoid, kolera, diare, dan leptospirosis. Kontak terhadap air juga menimbulkan penyakit lain seperti luka, dermatitis, konjungtivitis, infeksi telinga, dan gangguan pernapas. Sementara, beberapa penyakit yang ditularkan melalui vektor yaitu malaria, demam berdarah, demam kuning, dan demam west nile.

Penyakit yang ditularkan melalui air berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi. Banjir membawa bakteri, parasit, dan virus yang dapat mencemari lingkungan dan mengurangi ketersediaan air bersih. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang masuk ke saluran pencernaan melalui makanan atau air yang terinfeksi. Bakteri ini masuk ke saluran pencernaan dan berkembang di epitel usus halus, memperbanyak diri, dan menghasilkan enterotoksin yang beredar di darah, sehingga dapat menimbulkan keluhan seperti kehilangan napsu makan, badan lemas, demam tinggi, sakit kepala, mual dan muntah, diare, nyeri perut, sendi, dan otot.

Gangguan pencernaan juga ditimbulkan oleh penyakit kolera yang disebebkan bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri ini juga dapat ditemukan pada air yang tercemar. Gejala yang ditimbulkan yaitu diare yang sangat encer berwarna seperti cucian beras, muntah-muntah, dan kram kaki. Keluhan yang dialami ini mempercepat kehilangan cairan di tubuh, sehingga dapat menimbulkan dehidrasi berat dan syok yang berujung pada kematian. Penyakit saluran pencernaan lain yang dapat ditimbulkan dari air yang tercemar yaitu disentri. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Shigella dan Eschericia coli. Keluhan yang khas berupa diare disertai lendir dan darah, nyeri perut, demam, muntah-muntah, gelisah, dan dehidrasi. Selain itu, diare dengan keluhan umum seperti BAB cair dengan peningkatan volume serta frekuensi disertai mual-muntah juga dapat timbul karena infeksi rotavirus yang sangat mudah ditularkan.

Infeksi lain yang disebarkan melalui air yaitu leptospirosis. Leptospirosis disebabkan oleh leptospira yang dapat hidup di banyak hewan mamalia, seperti tikus, anjing, kucing, domba, babi, tupai, rakun, dan lain-lain. Leptospira ditularkan melalui air kencing atau kotoran binatang yang terinfeksi, kemudian mencemari air atau tanah, dan masuk ke dalam tubuh manusia dengan menginvasi mukosa atau kulit yang tidak utuh. Pada kondisi ideal, leptospira dapat bertahan selama 16 hari di air dan 24 hari di tanah. Leptospira yang masuk ke dalam tubuh akan menyebar ke berbagai organ, seperti kulit, paru, jantung, ginjal, dan otak. Gejala yang ditimbulkan tidak khas tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi.

 Penyakit yang timbul akibat kontak langsung dengan air yang tercemar seperti gangguan pernapasan juga sering terjadi. Gejala yang muncul biasanya demam, batuk, pilek, dan sesak napas. Hal ini dipicu oleh kelembaban udara yang tinggi pada daerah banjir. Selain itu, air yang masuk ke telinga dapat menimbulkan infeksi pada telinga dan mengganggu fungsi pendengaran dan keseimbangan tubuh. Kontak kulit dengan banjir juga menimbulkan penyakit kulit seperti folikulitis, infeksi jamur, dermatitis alergi, kutu air, dan lain-lain. Umumnya gejala berupa gatal-gatal dan rasa panas atau nyeri pada bagian kulit.

Penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria, demam berdarah, demam kuning, dan demam west nile ditularkan oleh nyamuk yang membawa patogen. Patogen tersebut menginfeksi tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan menimbulkan gejala demam yang berbeda pada masing-masing penyakit sesuai dengan perkembangan patogen pada tubuh. Banjir memberikan lingkungan yang baik untuk berkembangnya nyamuk, banyak genangan-genangan air yang menjadi tempat mereka bertelur, menetas menjadi larva, hingga berubah menjadi nyamuk dewasa.

Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan banjir ini dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi, minum air yang sudah dimasak atau air kemasan, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, BAB atau BAK pada toilet dengan sanitasi yang baik, setelah terkena banjir bersihkan tubuh menggunakan sabun dan dibilas dengan air bersih, menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD) pada kondisi yang mengharuskan terjun ke daerah banjir seperti sepatu boots, jika ada luka segera diobati, tidak membuang sampah sembarangan, gunakan repelan atau kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk, hindari kontak dengan banjir dalam waktu yang lama, segera pergi ke fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan kesehatan untuk mendapat penanganan segera.

Pencegahan akan lebih efektif jika dilakukan dengan kolaborasi dan koordinasi multisektor seperti pemerintah kota/daerah/pusat bersama dengan instansi terkait lainnya. Perlu adanya kampanye kesehatan dalam mencegah penyakit yang berkaitan dengan banjir sebelum dan saat banjir berlangsung. Bahkan kampanye tersebut akan lebih efektif jika dilakukan sebelum banjir sebagai antisipasi warga dalam mencegah penyebaran penyakit.

(*)