Advertorial
Festival Erau Adat Kutai 2026 Hidupkan Ekonomi UMKM, Penjual Risol Rasakan Ramainya Transaksi
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Malam ketujuh Festival Erau Adat Kutai 2026 tak hanya dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan pentas seni. Deretan stand UMKM di sekitar Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura turut ramai diserbu pengunjung yang berburu makanan dan minuman.
Pantauan Kaltimtoday.co, Sabtu (26/9/2026) malam, kendaraan roda dua hingga roda empat berjejer di sekitar Kedaton hingga Monumen Pancasila. Puluhan stand UMKM berdiri di sisi kanan dan kiri Jalan Monumen Timur, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong.
Di halaman Kedaton, sebuah panggung menjadi pusat perhatian masyarakat yang menikmati berbagai penampilan seni. Sambil menonton, pengunjung tampak mendatangi lapak-lapak UMKM untuk membeli makanan, minuman, hingga jajanan tradisional.
Keramaian tersebut menjadi berkah tersendiri bagi pelaku UMKM. Salah satunya Fitria Ningsih (29), penjual Risol Kedai Mba Tari asal Tenggarong.
Selama pelaksanaan Erau, Fitria mengaku mendapat hasil penjualan yang cukup memuaskan. Dalam semalam, omzet yang diperolehnya berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.
“Alhamdulillah, sangat memuaskan. Apalagi dua malam ini, betul-betul luar biasa,” kata Fitria, kepada Kaltimtoday.co.
Pada malam ketujuh, Fitria memperkirakan pendapatannya bisa menembus Rp1 juta. Tingginya permintaan membuat ia harus beberapa kali bolak-balik ke rumah untuk mengambil stok dagangan.
“Kalau malam kemarin mungkin sekitar Rp700 ribuan, kalau malam ini mungkin Rp1 juta lebih bisa. Karena kami bolak-balik ambil stok di rumah. Ini juga lagi proses buat es lagi di rumah,” ucapnya dengan raut wajah bahagia.
Risol menjadi salah satu dagangan yang ditawarkan dengan harga rata-rata Rp3.000. Selain itu, ia menjual mie instan dengan telur dan pisang keju masing-masing Rp10 ribu. Sementara es teh dan es sirup dijual sekitar Rp5.000.
“Seluruh produk yang dijualnya dibuat sendiri atau homemade,” tuturnya.
Keikutsertaan Fitria dalam Bazar UMKM Erau bukan kali pertama. Ia mengaku selalu dilibatkan ketika kegiatan Erau menyediakan ruang bagi pelaku UMKM binaan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DiskopUKM) Kukar.
Namun, tahun sebelumnya ia tidak mengisi stand lantaran tidak mendapatkan tenda. Tahun ini, tersedia 12 tenda yang kemudian dimanfaatkan para pelaku UMKM.
Di luar kegiatan Erau, ia biasanya berjualan pada hari Minggu di Simpang Odah Etam (SOE). Bagi Fitria, ramainya transaksi selama Erau menjadi angin segar bagi pelaku UMKM yang tengah menghadapi kondisi keuangan yang menurun.
“Harapannya sih semoga para UMKM bisa stabil lagi ya, keuangan sekarang kan lagi menurun-menurunnya,” jelasnya.
Ia berharap, kegiatan tersebut dapat membuat pelaku UMKM semakin bersemangat dan meningkatkan kualitas dagangan.
Dia pun juga mengapresiasi fasilitas yang diberikan dalam kegiatan Erau, termasuk penyediaan tenda secara gratis bagi pelaku UMKM.
“Terima kasih juga untuk Sultan yang sudah memfasilitasi untuk kami para UMKM, supaya kami bisa ikut di acara Erau ini,” tuturnya.
Bukan hanya pedagang yang menikmati geliat ekonomi di tengah perayaan Erau. Pengunjung pun menjadikan bazar sebagai bagian dari pengalaman menikmati festival budaya tersebut.
Robi, warga Tenggarong, sengaja datang bersama rekannya untuk nongkrong sekaligus menyaksikan penampilan pentas seni. Ia tak segan mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman di area bazar.
“Nonton pentas seni tanpa membawa makanan atau minuman rasanya ada yang kurang. Apalagi Erau hanya setahun sekali dilaksanakan,” katanya singkat.
Diwartakan sebelumnya, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri menyampaikan, keterlibatan pelaku UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan Erau.
Menurutnya, banyaknya masyarakat yang datang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengenalkan produk mereka secara langsung kepada calon pembeli.
“UMKM banyak sekali yang terlibat di sana dan kita berharap ini menjadi bagian dari upaya kita meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan kualitas dari UMKM kita,” harapnya.
Aulia berharap, keramaian selama Erau tidak hanya memberikan dampak terhadap sektor kebudayaan dan pariwisata. Aktivitas jual beli yang berlangsung selama festival juga diharapkan mampu memberi dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.
“Jadi kita berharap juga dengan adanya acara yang kita lakukan itu juga akan membuat perputaran perekonomian di Kukar semakin membaik, sehingga pendapatan warga masyarakat Kukar itu juga semakin baik,” imbuhnya.
Keramaian hingga malam ketujuh itu menunjukkan sisi lain dari Festival Erau. Di tengah rangkaian tradisi dan pertunjukan seni, deretan lapak UMKM ikut menghidupkan suasana sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dari ramainya kunjungan selama festival.
[RWT | ADV ERAU 2026]
Related Posts
- Masuk Tahap Finalisasi, Anggaran KUA-PPAS Kukar 2027 Diproyeksikan Sementara Rp5,4 Triliun
- Ancur Padas hingga Puncak Rasul, Pemkab Berau Dorong Kuliner Lokal Go Wisata
- Target Rp200 Miliar Parkir Berlangganan Belum Tercapai, DPRD Minta Pemkot Kejar 2027
- Postur APBD Perubahan Samarinda Mulai Mengerucut, Defisit Tersisa Rp200 Miliar
- Erau 2026 Tembus KEN, Rendi Dorong Kukar Pertahankan di Tahun Berikutnya








