Internasional

Kualitas Udara Memburuk akibat Kabut Asap, Pemerintah Malaysia Tutup Sekolah di Johor Selama Dua Hari

Network — Kaltim Today 08 Oktober 2026 13:19
Kualitas Udara Memburuk akibat Kabut Asap, Pemerintah Malaysia Tutup Sekolah di Johor Selama Dua Hari
Kualitas udara memburuk akibat kabut asap karhutla. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Seluruh institusi pendidikan di wilayah Johor, Malaysia, resmi ditutup selama dua hari terhitung mulai Kamis (8/10/2026). Kebijakan darurat ini diambil menyusul kian memburuknya kualitas udara di kawasan tersebut yang dipicu oleh sebaran kabut asap lintas batas. 

Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Johor, Muhammad Naqib Md Ghazali, menyatakan bahwa keputusan penghentian kegiatan belajar tatap muka ini merujuk langsung pada arahan Wali Johor, Tunku Ismail Sultan Ibrahim. Langkah tersebut ditempuh sebagai bentuk perlindungan preventif demi menjaga kesehatan dan keselamatan para siswa dari paparan polusi udara.

“Pemerintah negara bagian memahami penutupan ini dapat berdampak kepada orang tua dan wali siswa yang tetap harus bekerja. Kerja sama dan pengertian dari para pemberi kerja sangat dihargai dengan memberikan fleksibilitas yang sesuai kepada orang tua yang terdampak, termasuk pengaturan kerja yang wajar sesuai dengan kondisi organisasi masing-masing,” ujar Naqib dilansir dari CNA, Rabu (7/10/2026).

Dengan kebijakan ini, Johor tercatat sebagai negara bagian pertama di wilayah Semenanjung Malaysia yang mengambil langkah penutupan sekolah sementara selama musim kabut asap tahun ini. Keputusan tersebut dikeluarkan setelah sehari sebelumnya, sekitar 300 institusi pendidikan di Distrik Batu Pahat terlebih dahulu dihentikan aktivitasnya akibat Indeks Pencemaran Udara (API) yang melompat ke kategori sangat tidak sehat.

Selama periode penutupan berlangsung, pihak sekolah diinstruksikan untuk mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring dari rumah agar proses pendidikan siswa tidak terganggu. Sementara itu, berbagai agenda asesmen atau ujian yang terjadwal pada tanggal tersebut akan dijadwalkan ulang oleh Departemen Pendidikan Johor.

“Meski keputusan ini memerlukan penyesuaian dari semua pihak, dalam kondisi saat ini, keselamatan dan kesehatan anak-anak Johor harus menjadi prioritas bersama,” tegasnya.

Lonjakan Indeks Pencemaran Udara dan Desakan Pertemuan Darurat ASEAN

Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, tingkat polusi di sejumlah wilayah Johor terus mengalami eskalasi. Pada Selasa (6/10/2026) malam, angka API di Batu Pahat tercatat menyentuh level 203 atau masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Berdasarkan laporan media lokal New Straits Times, angka tersebut menjadi titik polusi tertinggi di Malaysia pada periode tersebut.

Sebagai informasi, skala Indeks Pencemaran Udara (API) di Malaysia dikategorikan dalam beberapa rentang: 0–50 (baik), 51–100 (sedang), 101–200 (tidak sehat), 201–300 (sangat tidak sehat), serta di atas 300 yang masuk dalam kategori berbahaya.

Memasuki Rabu sore, tren kualitas udara di beberapa distrik lain juga terpantau masih mengkhawatirkan. Wilayah Segamat dan Pasir Gudang masing-masing mencatatkan angka API di kisaran 171, disusul Tangkak (168), Kluang (166), Larkin (162), Kota Tinggi (160), serta Pengerang yang berada di angka 156.

Menghadapi krisis lingkungan yang terus berulang ini, Menteri Besar Johor, Onn Hafiz Ghazi, secara terbuka mendesak agar Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dapat mengambil peran yang jauh lebih proaktif dalam penanganan darurat kabut asap regional, termasuk dengan menggelar forum pertemuan tingkat tinggi secepatnya.

“Dengan kerja sama, pencegahan, pemantauan, dan respons yang efektif, berbagai upaya dapat segera dilaksanakan secara efektif bagi masyarakat di seluruh kawasan,” ungkap Onn Hafiz dalam pernyataan resminya.

Ia menambahkan, isu krusial terkait penanganan dampak lintas batas ini turut disampaikannya dalam pertemuan khusus bersama Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiyanto. Krisis kabut asap di kawasan regional sendiri kerap memburuk setiap kali eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di tengah kondisi cuaca yang mendukung pergerakan angin ke negara tetangga.

[RWT] 



Berita Lainnya