Daerah

Berjijibaku 60 Hari Lawan Karhutla, Petugas Damkar Samarinda Sujud Syukur Diguyur Hujan Deras

Network — Kaltim Today 28 September 2026 17:41
Berjijibaku 60 Hari Lawan Karhutla, Petugas Damkar Samarinda Sujud Syukur Diguyur Hujan Deras
Personel pemadam kebakaran bersama relawan bergotong-royong menarik selang pemadam saat berjibaku memadamkan kebakaran lahan gambut di kawasan Palaran, Samarinda. (Dok. Istimewa/Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Momen haru menyelimuti jajaran personel Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan relawan di Samarinda, Kalimantan Timur. Sejumlah petugas mengekspresikan kegembiraan hingga bersujud syukur saat hujan deras mengguyur Samarinda pada Senin (28/9/2026) siang.

Aksi spontan tersebut dipicu oleh rasa lega setelah lebih dari 60 hari berturut-turut para petugas di lapangan harus berjibaku menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi hampir setiap hari akibat kemarau panjang.

Meski curah hujan deras berlangsung relatif singkat, yakni mulai pukul 14.00 WITA hingga 14.45 WITA, presipitasi tersebut memberikan napas lega bagi warga kota yang terdampak kekeringan dan kabut asap dalam dua bulan terakhir.

Kendati demikian, hujan singkat tersebut belum sepenuhnya memadamkan kobaran api karhutla. Tak lama seusai hujan reda, armada damkar bersama tim gabungan kembali diterjunkan untuk mengendalikan kebakaran lahan gambut seluas lebih dari 10 hektare di kawasan Jalan Irigasi, Kecamatan Palaran. 

Akses menuju lokasi kejadian yang terisolasi membuat tim gabungan dari Damkar, BPBD, dan relawan terpaksa menyambung belasan baris selang air guna mencapai titik api utama. 

Kepala Dinas Damkar Kota Samarinda, Hendra, mengungkapkan bahwa kobaran api di kawasan lahan gambut tersebut mengalami eskalasi cepat hingga merambat ke pemukiman dan akses jalan sekitarnya.

"Siang hari ini terjadi kebakaran berulang, tepatnya di Jalan Irigasi sekarang merambat hingga ke Jalan Mawar dan Adi Sucipto. Lahan yang terbakar seluas 10 hektare," ujar Hendra saat memberikan keterangan di lokasi kejadian, Senin (28/9/2026). 

Hendra menambahkan, karakteristik lahan gambut menjadi kendala utama karena bara api berada di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan hingga tuntas. Selain itu, upaya pemadaman udara (water bombing) sempat mengalami kendala teknis akibat pergeseran titik lokasi penerjunan air. 

“Informasinya tadi kita sudah memberikan titik koordinat untuk helikopter water bombing, tetapi tadi mungkin salah titik koordinat di Simpang Pasir, padahal yang kebakaran di Jalan Irigasi,” terangnya.

Berdasarkan data akumulatif hingga pertengahan September 2026, Dinas Damkar Samarinda mencatat sedikitnya 198 kejadian karhutla dengan total luasan area terbakar menembus 428 hektare. Potensi ancaman kebakaran lahan diproyeksikan masih terus mengintai wilayah Samarinda hingga pertengahan Oktober 2026 mendatang. 

[RWT] 



Berita Lainnya