Kaltim

BKSDA Kaltim Ungkap Alasan Gajah Deo dan Sinta Dipindah dari Yogyakarta ke Tabang Zoo

Awaluddin Jalil — Kaltim Today 03 Oktober 2026 18:44
BKSDA Kaltim Ungkap Alasan Gajah Deo dan Sinta Dipindah dari Yogyakarta ke Tabang Zoo
Dua gajah sumatera yang dipindahkan dari Gembira Loka Zoo ke Tabang Zoo, Kutai Kartanegara. (Dok BKSDA Kaltim)

KUTAI KARTAENGARA, Kaltimtoday.co - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyebut pemindahan dua gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) bernama Deo dan Sinta dari Gembira Loka Zoo, Yogyakarta, ke Tabang Zoo di Kutai Kartanegara (Kukar) dilakukan karena kelebihan jumlah gajah di kebun binatang asal. Selain itu, menurut dia, hanya Tabang Zoo yang memenuhi persyaratan teknis sebagai tempat baru.

"Pemindahan gajah Deo dan Sinta ke Kalimantan Timur didasarkan pertama atas overload gajah yang ada di Gembira Loka, Yogyakarta," ujar Ari dalam keterangannya, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Menurut Ari, kedua gajah itu sudah jinak sehingga tidak bisa langsung dilepasliarkan. Karena itu, harus dicari lembaga konservasi lain yang mampu merawat keduanya secara optimal. Tabang Zoo yang berlokasi di Kecamatan Tabang, kata dia, beroperasi sebagai lembaga konservasi umum.

Ari mengatakan sebenarnya banyak lembaga konservasi lain yang bersedia menampung Deo dan Sinta. Namun, Kementerian Kehutanan bersama BKSDA menilai hanya Tabang Zoo yang memenuhi seluruh persyaratan teknis.

"Yang ingin menampung ada banyak, tapi yang memenuhi persyaratan ini cuma Tabang Zoo. Jadi, Tabang Zoo ini yang siap dan mau mengikuti aturan, baik dari sisi morfologisnya, harus tinggi kandangnya seberapa meter, harus ada kolam renangnya, harus ada pohonnya. Jadi tidak serta-merta," tegasnya.

Setelah Kementerian Kehutanan menerbitkan persetujuan resmi, Deo dan Sinta diberangkatkan ke Kalimantan Timur melalui jalur darat dan laut.

Ari menyebut pemindahan ini melewati dua kali kajian yang melibatkan peneliti gajah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta manajemen Gembira Loka Zoo.

Kajian itu mencakup ukuran dan tinggi kandang, kondisi morfologi, hingga kebiasaan harian kedua gajah. Fasilitas di Tabang Zoo, kata Ari, disesuaikan dengan kebiasaan Deo dan Sinta.

"Misalkan gajah si Deo dan Sinta itu tingginya berapa meter, maka kandangnya harus berapa meter, itu harus disesuaikan. Kemudian kebiasaan-kebiasaan Deo dan Sinta juga menjadi salah satu upaya pembuatan kandang tersebut," jelasnya.

Ia mencontohkan, kolam renang disesuaikan dengan jadwal dan kedalaman yang biasa digunakan kedua gajah. Kebiasaan Deo menggaruk dan menggesekkan badan ke batang kayu juga difasilitasi.

Untuk mengurangi stres akibat perubahan lingkungan, Tabang Zoo mendatangkan mahout (pawang) dari Gembira Loka Zoo yang sudah mengenal karakter kedua gajah. Kesehatan satwa juga ditangani lima dokter hewan yang berpengalaman di Tabang Zoo.

Soal kemungkinan pelepasliaran, Ari menyebut hal itu sulit dilakukan dalam waktu dekat karena keduanya sudah lama hidup di kebun binatang. Meski begitu, ia menyebut peluang pemulihan populasi tetap terbuka lewat pengembangbiakan di lembaga konservasi.

"Kalau melihat apakah kita bisa melakukan rehabilitasi gajah, butuh waktu yang cukup lama. Jadi tidak serta-merta harus di sana. Tapi kalau misalnya Deo dan Sinta kawin di sana menghasilkan keturunan, nah, kemungkinan anaknya yang kita usahakan untuk dilepasliarkan lagi ke alam," pungkasnya.

[TOS]



Berita Lainnya