Daerah
Kaltim Masuk 10 Besar Angka Depresi Nasional, Psikolog Ungkap Tekanan Ekonomi dan Pekerjaan Jadi Stressor Utama
Kaltimtoday.co, Samarinda - Kalimantan Timur masuk 10 besar provinsi dengan angka depresi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kementerian Kesehatan, prevalensi atau angka kejadian depresi di Kaltim mencapai 2,2 persen dari penduduk usia 15 tahun ke atas.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, mengatakan kondisi tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai persoalan individu. Depresi bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi berbagai hal, mulai dari faktor biologis, genetik, pengalaman traumatis, lingkungan sosial, hingga tekanan ekonomi dan pekerjaan.
Di tengah kondisi kebutuhan hidup yang semakin mahal dan ketersediaan pekerjaan yang terbatas, berbagai tekanan tersebut dapat menjadi stressor yang meningkatkan risiko gangguan kejiwaan, termasuk depresi.
Ayunda juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap depresi sebagai tanda seseorang lemah. Jika gejala berlangsung minimal dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat disarankan mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
“Depresi itu sendiri multifaktorial. Faktor biologis, genetik, sosial, kepribadian, dan lingkungan masyarakat sangat berpengaruh,” kata Ayunda.
Ayunda membeberkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke psikolog, khusus jadwal praktiknya cukup banyak. Meski berkaitan dengan tingkat depresi yang tinggi, tapi di satu sisi kesadaran untuk mencari bantuan sudah baik, kata Ayunda.
"Karena kalau dibiarkan, lama-lama kondisi itu justru bisa semakin parah dan mengganggu fungsi kehidupan seseorang," tuturnya.
Dalam satu bulan, setidaknya ada lima sampai enam klien untuk kasus-kasus yang cukup berat. Di luar itu juga ada banyak konsultasi kasus lain, misalnya masalah relasi, masalah pekerjaan, atau masalah kejiwaan yang belum sampai mengarah pada gangguan kejiwaan.
"Pemulihan dari gangguan depresi juga tidak sebentar. Harus ada pertemuan secara berkala dengan seorang psikolog untuk mengatasi gangguan tersebut," imbuhnya.
Meski begitu, Ayunda menyampaikan bahwa gangguan depresi tidak bisa dibiarkan. Jika ditemukan kondisi yang lebih berat, tentu tidak mungkin menanganinya sendiri. Kolaborasi dengan psikiater juga menjadi hal yang harus dilakukan.
"Jangan ragu untuk pergi ke psikolog jika sudah mengalami ciri-ciri depresi seperti kesulitan tidur, penurunan selera makan, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari," tutupnya.
[RWT]
Related Posts
- KukarGo Resmi Meluncur, UMKM Kukar Kini Punya Etalase Digital Tanpa Potongan Biaya
- Launching Arbizz Space, Bupati Kukar Harap Jadi Hub Rekreasi, Budaya, dan Bisnis di Tenggarong
- BKSDA Kaltim Ungkap Alasan Gajah Deo dan Sinta Dipindah dari Yogyakarta ke Tabang Zoo
- Resmi Dilantik Bupati Kukar, Kades PAW Desa Muai Diminta Geber Program APBDes
- Ditinggal Kuliah, Rumah Mahasiswa di Berau Dibobol Pria 42 Tahun









