Nasional

Minta Indonesia Padamkan Karhutla, Anggota DPR Malaysia Berbahasa Jawa di Parlemen

Network — Kaltim Today 23 Oktober 2026 12:23
Minta Indonesia Padamkan Karhutla, Anggota DPR Malaysia Berbahasa Jawa di Parlemen
Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan. (X.com)

Kaltimtoday.co - Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan menyampaikan seruan unik menggunakan bahasa Jawa yang ditujukan langsung kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Ia mendesak pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkret untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas batas hingga ke Malaysia.

Kalam meminta pemerintah Indonesia segera memadamkan titik-titik api, mencegah munculnya kebakaran baru, serta memastikan krisis kabut asap tahunan ini tidak terus berulang.

“Kami menginginkan langit yang cerah dan udara yang bersih, agar masyarakat kedua negara dapat hidup sehat dan damai,” kata Kalam.

Politikus dari Partai Bersatu tersebut sengaja menyampaikan seruannya dalam bahasa Jawa agar pesannya dapat didengar dan dipahami secara langsung oleh Prabowo. Menurutnya, sebagian besar pemimpin di Indonesia merupakan etnis Jawa yang memahami bahasa tersebut secara mendalam.

"Dengan izin dari dewan yang terhormat ini, izinkan saya berbicara dalam bahasa Jawa. Tolong jangan dibuat bercandaan, dibuat lelucon, ngomong nek Indonesia wis ngirim oksigen neng Malaysia (jangan mengklaim bahwa hutan Indonesia telah memasok oksigen ke Malaysia selama ini)," kata Kalam seperti dilansir New Straits Times, Jumat (23/10/2026).

Kalam turut mendesak Pemerintah Malaysia agar memanfaatkan jalur diplomatik melalui Filipina, yang saat ini memegang keketuaan ASEAN, untuk mendorong tindakan tegas tingkat regional dalam mengatasi pencemaran asap lintas negara.

Ia mengakui bahwa pemerintah Malaysia telah menjalankan sejumlah prosedur penanganan. Meski begitu, masyarakat Malaysia dilaporkan masih mengalami penderitaan akibat dampak buruk yang ditimbulkan oleh asap kiriman dari Indonesia.

"Masyarakat kesulitan bernapas, menderita gatal tenggorokan dan batuk, serta mengalami peningkatan asma dan masalah kesehatan lainnya. Sekolah terpaksa tutup, pariwisata terpengaruh, dan pekerjaan perkebunan tidak dapat dilakukan,” tutur Kalam.

Dampak kabut asap tersebut, tegas Kalam, juga merugikan ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor perkebunan di Malaysia. Gangguan operasional perkebunan berakibat pada penurunan pendapatan pekerja untuk dikirimkan kepada keluarga mereka di tanah air.

"Ketika mereka tidak dapat bekerja, mereka tidak menerima upah dan tidak dapat mengirim uang kepada keluarga mereka di Indonesia,” ungkap Kalam. 

Kalam menutup interpelasi dan seruannya di parlemen dengan harapan agar Indonesia dan Malaysia dapat menjalin kerja sama erat demi menikmati udara bersih tanpa bayang-bayang krisis kabut asap setiap tahunnya.

[RWT] 



Berita Lainnya