Nasional

BMKG Peringatkan Dampak Fenomena La Nina: Banjir, Longsor, hingga Pangan

Network — Kaltim Today 22 Oktober 2026 18:32
BMKG Peringatkan Dampak Fenomena La Nina: Banjir, Longsor, hingga Pangan
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Fenomena anomali iklim La Nina diprediksi memicu kenaikan intensitas curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini memengaruhi pola musim serta memperbesar risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, peningkatan curah hujan saat fenomena La Nina umumnya berkisar antara 20 persen hingga 40 persen dibandingkan kondisi iklim netral. Kenaikan curah hujan di beberapa kawasan bahkan diproyeksikan melampaui angka 40 persen.

La Nina merupakan fenomena global yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Fenomena ini merupakan kebalikan dari El Nino dan berpengaruh langsung terhadap sirkulasi Walker atau pergerakan udara di wilayah tropis yang memicu pembentukan awan hujan.

Pengaruh La Nina di Indonesia tidak seragam sepanjang tahun. Pada periode Juni–Agustus (JJA), kenaikan curah hujan berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga memicu fenomena kemarau basah.

Pada periode September–November (SON), dampak peningkatan hujan bergeser ke kawasan Indonesia bagian tengah hingga timur. Sementara pada periode Desember–Februari (DJF) dan Maret–Mei (MAM), peningkatan curah hujan lebih terkonsentrasi di kawasan Indonesia bagian timur.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai enam dampak utama akibat fenomena La Nina. Pertama, peningkatan intensitas hujan dalam durasi lama yang dapat memicu genangan air di kawasan permukiman.

Kedua, tingginya risiko banjir dan banjir bandang akibat volume air yang melampaui kapasitas sungai serta saluran drainase. Ketiga, lonjakan potensi tanah longsor di kawasan perbukitan dan lereng akibat kejenuhan struktur tanah.

Keempat, gangguan pada sektor produksi pertanian akibat genangan air di lahan persawahan yang berpotensi memicu kegagalan panen hingga fluktuasi harga pangan. Kelima, gangguan pada sektor transportasi dan mobilitas ekonomi masyarakat akibat kerusakan infrastruktur jalan.

Keenam, meningkatnya potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan fenomena puting beliung yang dipicu oleh dinamika perubahan atmosfer.

Sebagai referensi historis, BMKG mencatat fenomena La Nina kuat pernah menerjang Indonesia pada tahun 2010. Saat itu, curah hujan tinggi ekstrem merata dari Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Kalimantan.

Guna menekan risiko bencana, langkah mitigasi dinilai perlu segera diperkuat. Pemerintah daerah diimbau membenahi pengelolaan sumber daya air, merawat saluran drainase, serta memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.

Di sektor pertanian, para petani disarankan mulai menerapkan teknologi adaptif, seperti penyesuaian kalender tanam dan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap genangan air. 

[RWT] 



Berita Lainnya