Advertorial
Jelang Grand Final, Empat Finalis Duta Anak Samarinda 2026 Berbagi Cerita Persiapan dan Cara Bagi Waktu
Kaltimtoday.co, Samarinda - Pemilihan Duta Anak Kota Samarinda 2026 yang perdana digelar tahun ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat.
Dalam talkshow bersama Kaltim Today, Kamis (24/9/26), empat grand finalis menceritakan proses persiapan, dukungan orang terdekat, hingga pemahaman mereka tentang peran seorang duta anak.
Keempat finalis tersebut adalah Ayesha Mikhayla Arita dari SD Muhammadiyah 1 Samarinda, Nadine Elizabeth Sinaga dari SDK Santo Fransiskus Asisi Samarinda, Muhammad Akram Askar Anshory dari SD Muhammadiyah 2 Samarinda, dan Davey Elvari Taberima dari SDK 3 WR Soepratman Samarinda.
Di hadapan kamera, mereka memperkenalkan diri, asal sekolah, hobi serta alasan mereka mengikuti acara ini.
Soal alasan mengikuti ajang ini, Nadine mengaku ingin belajar untuk lebih percaya diri.
"Aku pengen lebih bisa percaya diri, Kak," ujarnya.
Alasan itu sejalan dengan tujuan yang disampaikan penyelenggara. Ketua Pelaksana Duta Anak Kota Samarinda, Handi Wijaya, menyebut ajang ini dirancang agar setiap peserta pulang dengan pengalaman, pembelajaran, dan rasa percaya diri, bukan semata mengejar gelar juara.
Saat dinyatakan lolos sebagai grand finalis, para finalis mengaku senang dan bangga.
"Rasanya senang dan bangga karena terpilih, dan aku juga bisa bawa nama sekolah, kan," kata Akram.
Kabar lolosnya para finalis disambut baik oleh teman-teman di sekolah masing-masing. Pihak sekolah pun disebut mendukung penuh.
Ketika ditanya sosok yang paling berjasa selama masa persiapan, para finalis serentak menyebut orang tua, terutama ibu.
"Aku selalu diajari dan ditemenin latihan sama Mama," tutur Ayesha.
Menjalani karantina dan pembekalan bukan berarti meninggalkan kehidupan sehari-hari. Para peserta punya cara sendiri dalam membagi waktu antara sekolah dan latihan. Nadine, misalnya, sudah mengatur kapan waktunya sekolah, belajar, dan berlatih.
"Sudah ada pembagian waktunya, Kak. Habis pulang sekolah latihan public speaking, terus juga belajar, kayak ngerjain PR gitu," tuturnya.
Dalam ajang ini, para finalis dibekali materi public speaking, catwalk, serta wawasan pariwisata dan kebudayaan Kota Samarinda. Salah satu agenda pembedanya adalah Podium Anak di Samarinda Theme Park untuk melatih keberanian berbicara di depan publik.
Ketika ditanya tugas utama seorang duta anak, Davey menjawab singkat, "Menjadi pelopor dan pelapor" katanya.
Jawaban itu sejalan dengan mandat dari panitia. Para duta terpilih diharapkan mengkampanyekan program Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Kota Samarinda di lingkungan masing-masing.
Ajang yang diinisiasi Forum Pemuda Tunas Etam dan didukung DP2PA Kota Samarinda ini mendapat antusiasme tinggi sejak pendaftaran dibuka. Menurut Handi, jumlah pendaftar mencapai 104 anak dari berbagai sekolah di Samarinda. Angka itu, kata dia, menunjukkan kebutuhan akan ruang positif bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi.
Seleksi dilakukan bertahap, mulai dari seleksi administrasi dan wawancara. Penilaian mencakup kemampuan berkomunikasi, kepercayaan diri, kemampuan menjawab pertanyaan, minat dan bakat, serta potensi berkembang.
Dari seluruh pendaftar, panitia menyaring 60 grand finalis yang terbagi dalam Kategori A (kelas 1–3 SD) dan Kategori B (kelas 4–6 SD).
Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 13 Agustus itu mencapai puncaknya pada Grand Final di Ballroom Hotel Horison yang dilaksanakan pada Sabtu (26/9) malam.
[RWT | ADV]
Related Posts
- Karhutla Kaltim Tembus 6.684 Hektare, Kabupaten Kutai Kartanegara Jadi Wilayah Terluas
- Jadwal Asian Games 2026 Hari Ini: Kans Medali di Angkat Besi, Atletik, hingga Balap Sepeda
- Jadi Penentu Kemenangan Indonesia, Ubed Akui Sempat Tegang dan Telepon Orang Tua Sebelum Tanding
- Unmul Tambah Tujuh Guru Besar, Diharap Jadi Inspirasi Setiap Dosen
- Merasa Tidak Adil, PHRI Kritik Surat Imbauan Gubernur Rudy Mas'ud Utamakan Hotel BUMD untuk Kegiatan Kedinasan








